ADVERTISEMENT

Senin, 24 Okt 2016 14:03 WIB

Waspada Pneumonia, Si Pembunuh Bayi dan Balita di Indonesia

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Pneumonia merupakan salah satu penyakit yang berbahaya bagi bayi dan balita. Wajar jika penyakit ini dijuluki sebagai pembunuh bayi dan balita di Indonesia.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 15 persen kematian pada anak-anak di dunia terjadi akibat pneumonia. Tiap tahunnya, 920.136 anak meninggal akibat penyakit yang menyerang paru-paru ini. Angka ini lebih besar daripada jumlah kasus kematian per tahun penyakit infeksi lain seperti AIDS, malaria hingga campak.

dr Darmawan Budi Setyanto, SpA(K), pakar respilogi anak, mengatakan pneumonia mematikan bagi bayi dan balita karena gejalanya sering diabaikan. Pneumonia memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa, meskipun efek dan tingkat kematiannya jauh lebih tingi.

Baca juga: Manfaat ASI bagi si Kecil: Turunkan Risiko Diare, Asma, hingga Pneumonia

"Makanya penyakit ini disebut forgotten killer. Pneumonia biasanya diawali dari batuk, pilek dan demam. Lalu timbul radang saluran pernafasan bagian atas (salesma). Dari salesma inilah radang kemudian berkembang ke paru-paru, sehingga disebut pneumonia. Penderita pneumonia akan mengalami batuk diikuti nafas yang cepat serta sesak. Waspadalah saat anak Anda batuk disertai tarikan nafas yang cepat. Segera pergi ke dokter, puskesmas atau rumah sakit," ungkap dr Darmawan, dalam rilis yang diterima detikHealth.

Menyambut Hari Pneumonia Sedunia yang jatuh pada tanggal 12 November mendatang, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut pentingnya kampanye dan peningkatan kewaspadaan terhadap pneumonia di Indonesia. Apalagi dikatakan dr Nastiti Kaswandani, SpA(K), Ketua UKK Respilogi PP IDAI, Indonesia merupakan salah satu dari 10 besar negara dengan kasus pneumonia.

"Kami berharap awareness masyarakat terhadap pneumonia akan lebih tinggi dan faktor risiko yang ada bisa ditangani dengan cepat. Salah satu yang paling penting untuk mencegah pneumonia adalah pemberian imunisasi lengkap bagi bayi/balita dan menjaga lingkungan tetap bersih. Butuh kerja sama yang solid dengan pemerintah untuk dapat mengurangi tingkat penderita pneumonia, di antaranya penguatan larangan merokok di tempat umum dan kampanye ASI eksklusif yang lebih luas.

Untuk itu, IDAI bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan akan menyelenggarakan berbagai seminar dan advokasi tentang pnemunia, dan puncak acara akan diadakan di Bandung pada tanggal 12 November 2016. Ketua PP IDAI, Dr dr Aman Bakti Pulungan, SpA(K) mengatakan diharapkan dengan adanya seminar dan advokasi ini masyarakat bisa lebih memahami pneumonia merupakan penyakit yang berbahaya.

"Masyarakat harus 'takut' terhadap pneumonia. Setiap muncul gejala salesma yang nantinya akan mengarah ke pneumonia terutama bagi balita, segeralah diobati di fasilitas kesehatan masyarakat. Deteksi dini, pengobatan secara cepat dan tepat akan sangat memengaruhi penyembuhan penyakit ini. Untuk bayi dan balita, berilah imunisasi yang lengkap," tuturnya.

dr HM Subuh, MPPM, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan, mengatakan pemerintah saat ini juga sudah mengembangkan vaksin pneumonia. Ia berharap tahun depan vaksin ini sudah bisa dibagikan ke masyarakat untuk mengurangi jumlah kasus dan kematian akibat penyakit ini.

"Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare, bagi balita. Kami melakukan kampanye mengenai pneumonia setiap tahun, melakukan advokasi dan edukasi kepada tenaga kesehatan dan kader-kader kesehatan. Hal ini kami lakukan supaya masyarakat lebih aware terhadap penyakit ini. Semakin cepat gejala-gejalanya diketahui dan ditangani, penyembuhannya pun akan semakin cepat," tutupnya.

Baca juga: Mengenal Pneumonia, Infeksi Paru yang Menyerang Hillary Clinton (mrs/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT