A Beautiful Mind: Si Genius yang Hidup di antara Halusinasi dan Delusi

Cinemathoscope

A Beautiful Mind: Si Genius yang Hidup di antara Halusinasi dan Delusi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 03 Nov 2016 13:05 WIB
A Beautiful Mind: Si Genius yang Hidup di antara Halusinasi dan Delusi
Foto: The Guardian
Jakarta - John Nash tampak kikuk di antara teman-teman barunya meski masuk ke Princeton dengan beasiswa prestisius. Ia juga menolak mengikuti kelas karena ingin menemukan ide orisinil tanpa terganggu rutinitas perkuliahan.

Satu-satunya teman John adalah Charles Herman yang tak lain teman sekamarnya sendiri. Meski sering terlihat membawa alkohol, pria berambut merah ini berhasil mengambil hati John yang pendiam dan menjadikan mereka sahabat karib.

Hingga suatu ketika kepala fakultas memanggilnya. John ditegur karena selalu absen sehingga menyulitkan fakultas untuk menentukan arah studi John selanjutnya. Ia juga dianggap belum fokus dengan studinya. Dari situ John merasa mendapatkan tekanan yang luar biasa untuk menemukan teori baru yang diinginkannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Charles bahkan menemukan John dua hari di perpustakaan membuat algoritma dari berbagai hal, termasuk pola terbang burung di taman kampus. Kebiasaan unik John adalah ia suka membuat coretan algoritma di kaca jendela, tak terkecuali kaca jendela perpustakaan Princeton.

John pun panik karena dari sekian banyak algoritma yang coba dibuatnya, tak ada yang betul-betul memuaskan. Saking panik dan tertekannya, John sampai tak sengaja membenturkan kepalanya ke kaca dan berdarah-darah. "I can't fail (aku tak boleh gagal)," katanya kepada Charles.

Namun Charles tak ingin John terluka, dan untuk menyadarkan sahabatnya, pria tinggi itu mendorong meja John hingga keluar jendela dan hancur berhamburan, berikut kertas-kertas John. John dan Charles tertawa, mencairkan suasana.

Kali ini, Kamis (3/11/2016), Cinemathoscope akan mengupas kisah hidup matematikawan terkenal dari Princeton University, John Nash yang berjuang hidup normal sebagai pasien skizofrenia paranoid. Sosok John sendiri diperankan dengan sangat apik oleh aktor asal Australia, Russell Crowe.

Menemukan Ekuilibrium Fenomenal dan Muncul Gejala Awal

Ilustrasi skizofrenia (Foto: Rachman Haryanto)

Keesokan harinya, John masih asyik mengutak-atik teorinya di bar tempat anak-anak Princeton bercengkrama. Ia duduk di antara Martin, Sol dan Bender. Tak berapa lama, datanglah beberapa mahasiswi, dengan satu mahasiswi blonde yang menjadi incaran mereka berempat.

Untuk mendapatkan si blonde, Martin mengutip ungkapan ahli ekonomi Adam Smith bahwa tiap orang harus berjuang untuk dirinya sendiri (every man for himself). Namun setelah berpikir sebentar, John langsung menyahut dan mengatakan teori Adam perlu direvisi.

Menurut John, bila mereka berempat berebut wanita yang sama, maka tak ada satu pun dari mereka yang mendapatkannya. Untuk itu strategi perlu diubah, jadi pendekatan terbaik adalah dengan mendekati teman-temannya, sehingga masing-masing mendapatkan satu wanita, tak harus si blonde.

Keempatnya terdiam mendengar penjelasan John, sedangkan John langsung bergegas kembali ke kamar untuk membuat algoritma baru. Dengan teori itu, John pun diperkenankan masuk Wheeler Labs di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan bekerja sebagai peneliti di sana, bersama dua rekannya, Sol dan Bender. Selain bekerja di lab, John juga diminta mengajar. Ini tentu bukan hal yang menarik bagi John yang notabene tak pernah masuk ke kelas semasa kuliah.

Tak berapa lama, John didekati seorang agen rahasia dari militer bernama William Pacher. Ia bahkan diajak ke gudang milik laboratorium yang selama ini dikiranya hanya gudang biasa. Ternyata di dalam gudang itu terdapat lab rahasia untuk memecahkan kode dari musuh. Kode-kode itu tersebar di koran dan majalah.

John juga dipasangi semacam implan di bawah kulit lengannya sebagai kunci untuk bisa mengakses drop spot atau titik di mana ia harus menyerahkan laporan terkait kode yang berhasil ia pecahkan. Jadilah hari-hari John diwarnai dengan aktivitas menganalisis koran dan majalah, lalu mengklipingnya kemudian mengirimkan laporan berisi kode yang berhasil terpecahkan ke titik yang telah ditentukan.

Bahkan di suatu malam, ketika John mengantarkan laporannya, William menghampirinya dan memintanya masuk ke dalam mobil karena mereka sedang diikuti. Sempat terjadi baku tembak. Untunglah William berhasil melumpuhkan mereka. Namun John menjadi trauma, bahkan dengan suara-suara keras seperti pintu mobil yang dibanting pelan sekalipun.

Setidaknya di tengah hiruk-pikuk kehidupan John, pria ini bertemu dengan sang istri, Alicia yang awalnya adalah mahasiswinya di MIT. Ia bahkan menikahi perempuan cantik ini tak lama setelah mereka dekat. Setelah menikah, John menjadi paranoid, bahkan ketika lampu rumahnya menyala.

Puncaknya, saat ia memberikan kuliah umum di Harvard University, John tidak mampu memberikan kuliah secara komprehensif. Ia seperti linglung dan penjelasannya berlompatan. Ditambah lagi di tengah kuliah, ia didatangi dua orang yang dikiranya adalah mata-mata Rusia, karena memang selama ini John beranggapan bahwa orang-orang baru yang mendekatinya adalah mata-mata Rusia.

Ada apa sebenarnya dengan John?

Didiagnosis Skizofrenia Paranoid

Ilustrasi skizofrenia (Foto: Rachman Haryanto)
John melarikan diri namun berhasil tertangkap. Salah satu dari beberapa orang yang mengejarnya mengaku sebagai Dr Rosen dari McArthur Psychiatric Hospital. John berhasil tertangkap dan dibawa ke rumah sakit. Alicia pun dipanggil. Hal pertama yang ditanyakan Dr Rosen kepada Alicia adalah tentang keberadaan Charles.

"Apakah kalian pernah makan malam bersama? Apakah ia datang ke pernikahanmu?," tanya Dr Rosen. Namun Alicia beralasan, Charles tak pernah bertemu dengannya karena sibuk mengajar di luar kota. Bahkan ketika Alicia bersikeras Charles adalah teman sekamar John di Princeton, Dr Rosen mengungkapkan bahwa suaminya tinggal seorang diri saat kuliah.

Alicia kemudian diberitahu bahwa John terserang skizofrenia paranoid, diduga sejak kuliah master di Princeton. Ia pun memastikannya dengan mengunjungi ruang kerja John di Wheeler Labs, yang ternyata dipenuhi kliping dan tumpukan majalah. Ia juga mendatangi rumah yang selama ini menjadi 'drop spot' John, yang ternyata hanyalah rumah kosong. Wanita ini bahkan menemukan tumpukan amplop berisi laporan rahasia dari John yang tak pernah dibuka.

Ketika Alicia mengkonfrontasi hal ini kepada John, suaminya tak terima. Namun begitu kembali ke kamar, lengan John ditemukan berdarah-darah karena ia berupaya mencari implan yang menjadi identitas rahasianya selama ini. Ini membuktikan bahwa apa yang selama ini dilakukan dan dihadapi John seringkali merupakan delusi semata, termasuk eksistensi Charless dan keponakannya, Marcee serta William.

Menariknya, penonton juga seolah-olah merasakan kehadiran ketiga sosok tak nyata yang ada di pikiran John. Bahkan ketika faktanya ketiga orang ini tidak benar-benar ada, penonton mungkin juga dibuat terkejut karena mereka terlihat sangat nyata. Bisa jadi setelah diagnosis John keluar, banyak yang bertanya-tanya mana lagi orang yang tidak nyata di hidup John dan mana yang nyata.

Dalam berbagai situs yang memaparkan tentang skizofrenia, sebagian besar mengatakan gangguan mental ini tergolong serius dan parah (severe). Salah satunya Mayo Clinic. Di situs ini dikatakan pasien skizofrenia tak bisa membedakan mana realitas dan mana yang bukan.

Hal ini juga diutarakan Dr Rosen kepada Alicia. Katanya, mimpi terburuk dari seorang pasien skizofrenia bukan hanya mereka tidak tahu mana yang nyata dan mana yang tidak, tetapi juga hal-hal yang mereka pikir ada ternyata tidak pernah ada.

Halusinasi dan delusi merupakan gejala utama dari skizofrenia. Halusinasi merujuk pada kemampuan untuk melihat dan mendengar sesuatu yang tidak ada, sedangkan delusi adalah meyakini sesuatu yang tidak riil atau nyata. Meski betulan genius, ia beberapa kali terlihat bicara melompat-lompat.

Gejala lain yang terlihat jelas dalam keseharian John adalah kurangnya kemampuan untuk berfungsi secara normal, seperti kurang menjaga kebersihan, kurang memperlihatkan emosi (tidak membuat kontak mata, ekspresi wajah tidak berubah atau berbicara dengan nada monoton), ditambah lagi dengan tidak tertarik melakukan rutinitas harian dan tertutup secara sosial.

Gejalanya bisa bervariasi, baik jenis maupun tingkat keparahannya dari waktu ke waktu. Tetapi beberapa gejala akan terus ada. John mengaku, ia tetap diikuti oleh sosok tak nyata yaitu Charles, Marcee dan William, bahkan sampai ia menua.

Dalam suatu kesempatan, ia pernah ditanya apakah ketiganya masih ada. John pun menjawab bahwa mereka selalu ada di sekitarnya, hanya saja ia berhenti berbicara kepada mereka agar bisa hidup normal demi keluarganya.

John sebenarnya patuh meminum obat, tetapi perubahan pada dirinya membuatnya enggan berobat lagi. Ikuti kelanjutannya.

Perjuangan John Bertahan di Tengah Kekambuhan

Ilustrasi skizofrenia (Foto: Rachman Haryanto)
Skizofrenia sebenarnya tergolong kronis dan membutuhkan pengobatan seumur hidup. Ia pun mulai menjalani terapi, termasuk pengobatan oral. Hidup John, Alicia dan putra mereka yang telah lahir menjadi lebih tenang, dan mereka sengaja berpindah tempat tinggal di dekat Princeton karena John sangat mengagumi kampusnya.

Namun lama-kelamaan ia merasa bersalah karena semenjak meminum obat itu, otaknya tak lagi bekerja. Saat itu putranya telah lahir, akan tetapi John tak bisa membantu Alicia mengurusnya, dan satu hal yang membuatnya semakin tak enak hati adalah ia tak lagi bisa merespons istrinya karena efek samping pengobatan.

Ia pun diam-diam berhenti minum obat. Namun ini berdampak buruk ketika suatu malam ia mendengar ada sesosok orang yang melempar kerikil ke jendelanya, seolah-olah memanggil. John keluar rumah dan berlari mengejarnya hingga ke sebuah pondok yang terbengkalai di belakang rumahnya, dan di sana ia dikepung oleh beberapa tentara serta William. Delusi dan halusinasi John pun muncul kembali. Untungnya Alicia menemukan pondok itu secepatnya sehingga menyadari suaminya kambuh lagi.

Bahkan ketika John akan memandikan putranya, ia nyaris saja menenggelamkan si bayi karena mengira Charles sedang menungguinya. William juga tiba-tiba masuk ke rumahnya dan menyuruhnya menghabisi Alicia. Alicia yang kebingungan langsung menelepon Dr Rosen dan bergegas pergi. Namun John segera sadar dan mencegah Alicia dengan bersikeras mengatakan Marcee (sesosok bocah kira-kira berumur 10 tahun) tidaklah nyata karena ia tidak tumbuh besar.

Setelah berdiskusi, Dr Rosen berencana memberikan pengobatan baru dengan dosis yang lebih tinggi kepada John, akan tetapi pria ini menolak. Ia beralasan bisa melatih pikirannya agar bisa hidup normal. "Justru masalahnya ada di pikiranmu," tegas Dr Rosen.

Tetapi berkat dukungan Alicia, John akhirnya bisa membaik. Alicia juga menyarankan agar John kembali ke kampus dan bersosialisasi untuk membantunya hidup normal lagi.

Dua bulan kemudian John memberanikan diri kembali ke Princeton. Untunglah kepala fakultas matematika saat itu sudah diduduki oleh rival sekaligus teman kuliah John, yaitu Martin. Martin menerimanya, meski tidak mengajar. Ia hanya menghabiskan waktu di perpustakaan untuk menemukan teori-teori baru. Di kampus John juga tetap menjadi penyendiri, bahkan jadi bahan olokan.

Hingga kemudian di tahun 1978, seorang mahasiswa mendekatinya begitu tahu John berhasil menyelesaikan sebuah hipotesis. Si mahasiswa mengaku mempelajari ekuilibrium yang dikembangkan John lalu memperlihatkan teori yang dikerjakannya.

Tak berapa lama, Alicia yang menunggu John di luar perpustakaan dipanggil oleh Martin untuk diperlihatkan sesuatu. Betapa bahagia Alicia dan Martin ketika melihat John akhirnya dikerumuni beberapa mahasiswa yang mengajaknya berdiskusi, dan sejak saat itu ia diperbolehkan mengajar, bahkan menjadi salah satu profesor idola di Princeton. Bahkan di tahun 1994, John terpilih untuk menerima hadiah Nobel di bidang ekonomi berkat ekuilibrium yang diciptakannya.

Mayo Clinic juga menyebut pada pria umumnya gejala skizofrenia muncul di pertengahan usia 20-an, sedangkan pada wanita di akhir usia 20-an. Hanya saja pasien skizofrenia tidak menyadari jika dirinya mengalami gangguan mental, sehingga sangat dibutuhkan peran keluarga maupun teman untuk membantu memeriksakan kondisi mereka, apalagi pasien skizofrenia juga memiliki kecenderungan untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Sejauh ini, penyebab pasti dari skizofrenia tidak diketahui. Namun para pakar percaya ini adalah kombinasi dari genetika, gangguan otak dan lingkungan. Dari beberapa studi juga terlihat adanya perbedaan struktur otak pada pasien skizofrenia sehingga memunculkan dugaan kuat bahwa skizofrenia adalah penyakit otak.

Di film ini juga digambarkan terapi pengobatan skizofrenia di Amerika pada tahun 1960-an, dengan terapi yang mirip setrum otak. Secara umum masyarakat di masa itu juga belum sadar betul tentang kondisi John, sehingga banyak di antaranya hanya menganggap pria malang ini gila karena berbicara sendiri.

Halaman 2 dari 4
Keesokan harinya, John masih asyik mengutak-atik teorinya di bar tempat anak-anak Princeton bercengkrama. Ia duduk di antara Martin, Sol dan Bender. Tak berapa lama, datanglah beberapa mahasiswi, dengan satu mahasiswi blonde yang menjadi incaran mereka berempat.

Untuk mendapatkan si blonde, Martin mengutip ungkapan ahli ekonomi Adam Smith bahwa tiap orang harus berjuang untuk dirinya sendiri (every man for himself). Namun setelah berpikir sebentar, John langsung menyahut dan mengatakan teori Adam perlu direvisi.

Menurut John, bila mereka berempat berebut wanita yang sama, maka tak ada satu pun dari mereka yang mendapatkannya. Untuk itu strategi perlu diubah, jadi pendekatan terbaik adalah dengan mendekati teman-temannya, sehingga masing-masing mendapatkan satu wanita, tak harus si blonde.

Keempatnya terdiam mendengar penjelasan John, sedangkan John langsung bergegas kembali ke kamar untuk membuat algoritma baru. Dengan teori itu, John pun diperkenankan masuk Wheeler Labs di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan bekerja sebagai peneliti di sana, bersama dua rekannya, Sol dan Bender. Selain bekerja di lab, John juga diminta mengajar. Ini tentu bukan hal yang menarik bagi John yang notabene tak pernah masuk ke kelas semasa kuliah.

Tak berapa lama, John didekati seorang agen rahasia dari militer bernama William Pacher. Ia bahkan diajak ke gudang milik laboratorium yang selama ini dikiranya hanya gudang biasa. Ternyata di dalam gudang itu terdapat lab rahasia untuk memecahkan kode dari musuh. Kode-kode itu tersebar di koran dan majalah.

John juga dipasangi semacam implan di bawah kulit lengannya sebagai kunci untuk bisa mengakses drop spot atau titik di mana ia harus menyerahkan laporan terkait kode yang berhasil ia pecahkan. Jadilah hari-hari John diwarnai dengan aktivitas menganalisis koran dan majalah, lalu mengklipingnya kemudian mengirimkan laporan berisi kode yang berhasil terpecahkan ke titik yang telah ditentukan.

Bahkan di suatu malam, ketika John mengantarkan laporannya, William menghampirinya dan memintanya masuk ke dalam mobil karena mereka sedang diikuti. Sempat terjadi baku tembak. Untunglah William berhasil melumpuhkan mereka. Namun John menjadi trauma, bahkan dengan suara-suara keras seperti pintu mobil yang dibanting pelan sekalipun.

Setidaknya di tengah hiruk-pikuk kehidupan John, pria ini bertemu dengan sang istri, Alicia yang awalnya adalah mahasiswinya di MIT. Ia bahkan menikahi perempuan cantik ini tak lama setelah mereka dekat. Setelah menikah, John menjadi paranoid, bahkan ketika lampu rumahnya menyala.

Puncaknya, saat ia memberikan kuliah umum di Harvard University, John tidak mampu memberikan kuliah secara komprehensif. Ia seperti linglung dan penjelasannya berlompatan. Ditambah lagi di tengah kuliah, ia didatangi dua orang yang dikiranya adalah mata-mata Rusia, karena memang selama ini John beranggapan bahwa orang-orang baru yang mendekatinya adalah mata-mata Rusia.

Ada apa sebenarnya dengan John?

John melarikan diri namun berhasil tertangkap. Salah satu dari beberapa orang yang mengejarnya mengaku sebagai Dr Rosen dari McArthur Psychiatric Hospital. John berhasil tertangkap dan dibawa ke rumah sakit. Alicia pun dipanggil. Hal pertama yang ditanyakan Dr Rosen kepada Alicia adalah tentang keberadaan Charles.

"Apakah kalian pernah makan malam bersama? Apakah ia datang ke pernikahanmu?," tanya Dr Rosen. Namun Alicia beralasan, Charles tak pernah bertemu dengannya karena sibuk mengajar di luar kota. Bahkan ketika Alicia bersikeras Charles adalah teman sekamar John di Princeton, Dr Rosen mengungkapkan bahwa suaminya tinggal seorang diri saat kuliah.

Alicia kemudian diberitahu bahwa John terserang skizofrenia paranoid, diduga sejak kuliah master di Princeton. Ia pun memastikannya dengan mengunjungi ruang kerja John di Wheeler Labs, yang ternyata dipenuhi kliping dan tumpukan majalah. Ia juga mendatangi rumah yang selama ini menjadi 'drop spot' John, yang ternyata hanyalah rumah kosong. Wanita ini bahkan menemukan tumpukan amplop berisi laporan rahasia dari John yang tak pernah dibuka.

Ketika Alicia mengkonfrontasi hal ini kepada John, suaminya tak terima. Namun begitu kembali ke kamar, lengan John ditemukan berdarah-darah karena ia berupaya mencari implan yang menjadi identitas rahasianya selama ini. Ini membuktikan bahwa apa yang selama ini dilakukan dan dihadapi John seringkali merupakan delusi semata, termasuk eksistensi Charless dan keponakannya, Marcee serta William.

Menariknya, penonton juga seolah-olah merasakan kehadiran ketiga sosok tak nyata yang ada di pikiran John. Bahkan ketika faktanya ketiga orang ini tidak benar-benar ada, penonton mungkin juga dibuat terkejut karena mereka terlihat sangat nyata. Bisa jadi setelah diagnosis John keluar, banyak yang bertanya-tanya mana lagi orang yang tidak nyata di hidup John dan mana yang nyata.

Dalam berbagai situs yang memaparkan tentang skizofrenia, sebagian besar mengatakan gangguan mental ini tergolong serius dan parah (severe). Salah satunya Mayo Clinic. Di situs ini dikatakan pasien skizofrenia tak bisa membedakan mana realitas dan mana yang bukan.

Hal ini juga diutarakan Dr Rosen kepada Alicia. Katanya, mimpi terburuk dari seorang pasien skizofrenia bukan hanya mereka tidak tahu mana yang nyata dan mana yang tidak, tetapi juga hal-hal yang mereka pikir ada ternyata tidak pernah ada.

Halusinasi dan delusi merupakan gejala utama dari skizofrenia. Halusinasi merujuk pada kemampuan untuk melihat dan mendengar sesuatu yang tidak ada, sedangkan delusi adalah meyakini sesuatu yang tidak riil atau nyata. Meski betulan genius, ia beberapa kali terlihat bicara melompat-lompat.

Gejala lain yang terlihat jelas dalam keseharian John adalah kurangnya kemampuan untuk berfungsi secara normal, seperti kurang menjaga kebersihan, kurang memperlihatkan emosi (tidak membuat kontak mata, ekspresi wajah tidak berubah atau berbicara dengan nada monoton), ditambah lagi dengan tidak tertarik melakukan rutinitas harian dan tertutup secara sosial.

Gejalanya bisa bervariasi, baik jenis maupun tingkat keparahannya dari waktu ke waktu. Tetapi beberapa gejala akan terus ada. John mengaku, ia tetap diikuti oleh sosok tak nyata yaitu Charles, Marcee dan William, bahkan sampai ia menua.

Dalam suatu kesempatan, ia pernah ditanya apakah ketiganya masih ada. John pun menjawab bahwa mereka selalu ada di sekitarnya, hanya saja ia berhenti berbicara kepada mereka agar bisa hidup normal demi keluarganya.

John sebenarnya patuh meminum obat, tetapi perubahan pada dirinya membuatnya enggan berobat lagi. Ikuti kelanjutannya.

Skizofrenia sebenarnya tergolong kronis dan membutuhkan pengobatan seumur hidup. Ia pun mulai menjalani terapi, termasuk pengobatan oral. Hidup John, Alicia dan putra mereka yang telah lahir menjadi lebih tenang, dan mereka sengaja berpindah tempat tinggal di dekat Princeton karena John sangat mengagumi kampusnya.

Namun lama-kelamaan ia merasa bersalah karena semenjak meminum obat itu, otaknya tak lagi bekerja. Saat itu putranya telah lahir, akan tetapi John tak bisa membantu Alicia mengurusnya, dan satu hal yang membuatnya semakin tak enak hati adalah ia tak lagi bisa merespons istrinya karena efek samping pengobatan.

Ia pun diam-diam berhenti minum obat. Namun ini berdampak buruk ketika suatu malam ia mendengar ada sesosok orang yang melempar kerikil ke jendelanya, seolah-olah memanggil. John keluar rumah dan berlari mengejarnya hingga ke sebuah pondok yang terbengkalai di belakang rumahnya, dan di sana ia dikepung oleh beberapa tentara serta William. Delusi dan halusinasi John pun muncul kembali. Untungnya Alicia menemukan pondok itu secepatnya sehingga menyadari suaminya kambuh lagi.

Bahkan ketika John akan memandikan putranya, ia nyaris saja menenggelamkan si bayi karena mengira Charles sedang menungguinya. William juga tiba-tiba masuk ke rumahnya dan menyuruhnya menghabisi Alicia. Alicia yang kebingungan langsung menelepon Dr Rosen dan bergegas pergi. Namun John segera sadar dan mencegah Alicia dengan bersikeras mengatakan Marcee (sesosok bocah kira-kira berumur 10 tahun) tidaklah nyata karena ia tidak tumbuh besar.

Setelah berdiskusi, Dr Rosen berencana memberikan pengobatan baru dengan dosis yang lebih tinggi kepada John, akan tetapi pria ini menolak. Ia beralasan bisa melatih pikirannya agar bisa hidup normal. "Justru masalahnya ada di pikiranmu," tegas Dr Rosen.

Tetapi berkat dukungan Alicia, John akhirnya bisa membaik. Alicia juga menyarankan agar John kembali ke kampus dan bersosialisasi untuk membantunya hidup normal lagi.

Dua bulan kemudian John memberanikan diri kembali ke Princeton. Untunglah kepala fakultas matematika saat itu sudah diduduki oleh rival sekaligus teman kuliah John, yaitu Martin. Martin menerimanya, meski tidak mengajar. Ia hanya menghabiskan waktu di perpustakaan untuk menemukan teori-teori baru. Di kampus John juga tetap menjadi penyendiri, bahkan jadi bahan olokan.

Hingga kemudian di tahun 1978, seorang mahasiswa mendekatinya begitu tahu John berhasil menyelesaikan sebuah hipotesis. Si mahasiswa mengaku mempelajari ekuilibrium yang dikembangkan John lalu memperlihatkan teori yang dikerjakannya.

Tak berapa lama, Alicia yang menunggu John di luar perpustakaan dipanggil oleh Martin untuk diperlihatkan sesuatu. Betapa bahagia Alicia dan Martin ketika melihat John akhirnya dikerumuni beberapa mahasiswa yang mengajaknya berdiskusi, dan sejak saat itu ia diperbolehkan mengajar, bahkan menjadi salah satu profesor idola di Princeton. Bahkan di tahun 1994, John terpilih untuk menerima hadiah Nobel di bidang ekonomi berkat ekuilibrium yang diciptakannya.

Mayo Clinic juga menyebut pada pria umumnya gejala skizofrenia muncul di pertengahan usia 20-an, sedangkan pada wanita di akhir usia 20-an. Hanya saja pasien skizofrenia tidak menyadari jika dirinya mengalami gangguan mental, sehingga sangat dibutuhkan peran keluarga maupun teman untuk membantu memeriksakan kondisi mereka, apalagi pasien skizofrenia juga memiliki kecenderungan untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Sejauh ini, penyebab pasti dari skizofrenia tidak diketahui. Namun para pakar percaya ini adalah kombinasi dari genetika, gangguan otak dan lingkungan. Dari beberapa studi juga terlihat adanya perbedaan struktur otak pada pasien skizofrenia sehingga memunculkan dugaan kuat bahwa skizofrenia adalah penyakit otak.

Di film ini juga digambarkan terapi pengobatan skizofrenia di Amerika pada tahun 1960-an, dengan terapi yang mirip setrum otak. Secara umum masyarakat di masa itu juga belum sadar betul tentang kondisi John, sehingga banyak di antaranya hanya menganggap pria malang ini gila karena berbicara sendiri.

(lll/vit)

Berita Terkait