Ini Tips Agar Tak Terpancing Provokasi Saat Demo 4 November

Ini Tips Agar Tak Terpancing Provokasi Saat Demo 4 November

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Kamis, 03 Nov 2016 16:07 WIB
Ini Tips Agar Tak Terpancing Provokasi Saat Demo 4 November
Foto: thinkstock
Jakarta - Seruan aksi damai pada 4 November sudah dikatakan oleh sejumlah pihak, mulai dari Presiden Jokowi hingga Ketua MUI KH Maruf Amin. Untuk itu, perhatikan hal-hal ini agar tidak mudah terpancing provokasi.

Aksi demo sejatinya merupakan hal yang tak dilarang oleh undang-undang. Namun waspada, berkumpulnya massa dalam jumlah besar dapat memancing tindak anarkis ketika ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang melakukan provokasi.

Untuk itu, patut diingat bahwa demo esok hari merupakan bagian dari penyampaian pendapat dan aspirasi, bukan tindak anarkis yang akhirnya berujung pada perbuatan kriminal seperti pengrusakan atau penjarahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tujuan demo adalah menyampaikan pendapat dan jagalah tujuan itu dengan baik. Jangan mudah terpancing provokasi dan hasutan yang melenceng dari tujuan demonstrasi. Hati-hati jika ada upaya penyusupan," ungkap dr Andri, SpKJ dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, kepada detikHealth.

detikcom juga menyerukan #JakartakuDamai sebagai gerakan setiap warga untuk menjaga kedamaian Jakarta. Karena kedamaian Jakarta berarti kedamaian juga bagi seluruh warga Ibukota, sehingga setiap orang bisa beraktivitas seperti biasa.

Nah, dr Andri mengatakan agar aksi demo berjalan damai dan tak mudah terpancing provokasi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Apa saja? Berikut empat hal yang bisa dilakukan:

1. Cek dan ricek

Foto: thinkstock
dr Andri menyebut rasa marah ketika termakan provokasi bisa diprediksi. Caranya dengan memahami situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan, dan sudah diketahui sebagai kondisi yang dapat memancing amarah.

Salah satunya adalah provokasi yang muncul dari media sosial saat aksi demo berlangsung. Untuk itu, penting bagi kita untuk melakukan cek dan ricek kembali apakah berita, tudingan atau komentar yang sifatnya provokasi tersebut benar atau tidak.

"Kalau misalnya dipicu oleh suatu postingan di group WA atau BBM maka ada baiknya cek dan ricek dulu sebelum menyebarkan berita ke yang lain atau kita sendiri juga harus memulai untuk biasa cek dan ricek apalagi jika postingan provokatif," ungkapnya.

2. Kenali penyebab marah

Foto: thinkstock
Marah sejatinya merupakan bentuk pertahanan diri (self-defence) terhadap hal-hal negatif yang ada di sekeliling kita. Oleh karena itu, munculnya rasa marah atau tendensi termakan oleh provokasi berbeda-beda untuk tiap orang.

Dikatakan dr Andri, beberapa orang memang lebih mudah terpancing emosinya ketika mendapat provokasi, sementara yang lain belum tentu bereaksi. Untuk itu, penting bagi kita untuk mengenali diri sendiri untuk mengetahui penyebab marah.

"Kita bisa mengatasinya dengan berupaya melatih diri dengan meditasi. Beberapa penelitian mengatakan meditasi bisa mengurangi emosi negatif dan membuat keseimbangan dalam berpikir," ujarnya lagi.

3. Tidur cukup

Foto: Getty Images
Tidur cukup merupakan bekal penting agar tidak mudah emosi dan termakan provokasi. Sebabnya, tidur cukup dan kualitas tidur yang baik menjaga otak dari perubahan mendadak pada kontrol emosi.

Selain itu, sudah banyak penelitian yang membuktikan kurang tidur dapat membuat seseorang lebih rentan marah, melakukan perilakun agresif dan emosional. Hal ini terjadi akibat kemampuan berpikir dan mengambil keputusan yang terganggu karena kurang tidur.

4. Hindari alkohol dan obat terlarang

Foto: ilustrasi/thinkstock
Yang ini jelas-jelas dapat memicu emosi negatif. Alkohol dan beberapa jenis narkotika dan psikotropika bisa membuat orang menjadi lebih agresif.

Dilihat dari struktur massa yang akan melakukan aksi demo besok, alkohol dan narkotika mungkin bisa dihindari. Namun tetap waspada akan adanya penyusup yang malah menjadi sumber probokasi.

5. Dukungan keluarga

Foto: thinkstock
Dukungan keluarga untuk melakukan aksi demo besok merupakan faktor terpenting untuk mencegah diri termakan provokasi. dr Andri mengatakan keluarga yang tenteram dan damai membuat seseorang memiliki kondisi mental yang lebih baik.

Untuk itu, pelaku aksi demo esok sudah seharusnya mendapat izin dan dukungan dari keluarga di rumah. Jangan sampai di rumah sedang ada masalah dan aksi demo merupakan pelampiasannya.

"Jika orang sudah nyaman di dalam keluarganya maka dia akan menjadi lebih nyaman juga dalam menghadapi orang-orang sekitarnya. Jika ada masalah dalam keluarga ada baiknya diselesaikan," tutupnya.
Halaman 2 dari 6
dr Andri menyebut rasa marah ketika termakan provokasi bisa diprediksi. Caranya dengan memahami situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan, dan sudah diketahui sebagai kondisi yang dapat memancing amarah.

Salah satunya adalah provokasi yang muncul dari media sosial saat aksi demo berlangsung. Untuk itu, penting bagi kita untuk melakukan cek dan ricek kembali apakah berita, tudingan atau komentar yang sifatnya provokasi tersebut benar atau tidak.

"Kalau misalnya dipicu oleh suatu postingan di group WA atau BBM maka ada baiknya cek dan ricek dulu sebelum menyebarkan berita ke yang lain atau kita sendiri juga harus memulai untuk biasa cek dan ricek apalagi jika postingan provokatif," ungkapnya.

Marah sejatinya merupakan bentuk pertahanan diri (self-defence) terhadap hal-hal negatif yang ada di sekeliling kita. Oleh karena itu, munculnya rasa marah atau tendensi termakan oleh provokasi berbeda-beda untuk tiap orang.

Dikatakan dr Andri, beberapa orang memang lebih mudah terpancing emosinya ketika mendapat provokasi, sementara yang lain belum tentu bereaksi. Untuk itu, penting bagi kita untuk mengenali diri sendiri untuk mengetahui penyebab marah.

"Kita bisa mengatasinya dengan berupaya melatih diri dengan meditasi. Beberapa penelitian mengatakan meditasi bisa mengurangi emosi negatif dan membuat keseimbangan dalam berpikir," ujarnya lagi.

Tidur cukup merupakan bekal penting agar tidak mudah emosi dan termakan provokasi. Sebabnya, tidur cukup dan kualitas tidur yang baik menjaga otak dari perubahan mendadak pada kontrol emosi.

Selain itu, sudah banyak penelitian yang membuktikan kurang tidur dapat membuat seseorang lebih rentan marah, melakukan perilakun agresif dan emosional. Hal ini terjadi akibat kemampuan berpikir dan mengambil keputusan yang terganggu karena kurang tidur.

Yang ini jelas-jelas dapat memicu emosi negatif. Alkohol dan beberapa jenis narkotika dan psikotropika bisa membuat orang menjadi lebih agresif.

Dilihat dari struktur massa yang akan melakukan aksi demo besok, alkohol dan narkotika mungkin bisa dihindari. Namun tetap waspada akan adanya penyusup yang malah menjadi sumber probokasi.

Dukungan keluarga untuk melakukan aksi demo besok merupakan faktor terpenting untuk mencegah diri termakan provokasi. dr Andri mengatakan keluarga yang tenteram dan damai membuat seseorang memiliki kondisi mental yang lebih baik.

Untuk itu, pelaku aksi demo esok sudah seharusnya mendapat izin dan dukungan dari keluarga di rumah. Jangan sampai di rumah sedang ada masalah dan aksi demo merupakan pelampiasannya.

"Jika orang sudah nyaman di dalam keluarganya maka dia akan menjadi lebih nyaman juga dalam menghadapi orang-orang sekitarnya. Jika ada masalah dalam keluarga ada baiknya diselesaikan," tutupnya.

(mrs/vit)

Berita Terkait