Pernah Percaya Viral Pisang Isi Kiwi? Ini Alasan Kabar di Sosmed Kerap Dipercaya

Pernah Percaya Viral Pisang Isi Kiwi? Ini Alasan Kabar di Sosmed Kerap Dipercaya

Nurvita Indarini - detikHealth
Rabu, 09 Nov 2016 09:06 WIB
Pernah Percaya Viral Pisang Isi Kiwi? Ini Alasan Kabar di Sosmed Kerap Dipercaya
Foto: thinkstock
Jakarta - Beberapa waktu lalu ada viral ada buah kiwi di dalam pisang yang dipotong. Buah itu bernama baniwi alias perkawinan banana kiwi. Apakah Anda pernah percaya kabar tersebut?

Video cara menumbuhkan baniwi dibagikan banyak orang di media sosial seperti Facebook. Sebenarnya caranya tidak masuk akal, di mana satu potongan pisang ditumpuk dengan satu potongan kiwi, lalu ditanam di pot. Tak lama, bisa dipanen baniwi.

Saat ini baniwi memang tidak benar-benar ada. Video itu dibuat sebagai gimik untuk April Mop pada 2014 lalu. Tak cuma itu, terkadang ada orang yang usil mengubah judul berita di media massa, sehingga judulnya berbeda jauh maknanya dari judul aslinya. Hal ini dipercaya mere

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu mengapa ada kecenderungan kabar yang beredar di sosial media kerap dipercaya, meskipun ada tanda-tanda tidak masuk akal? Mauricio Delgado, seorang profesor psikologi di Rutgers University mengatakan merupakan suatu hal yang alamiah ketika seseorang mempercayai apa yang dikatakan orang lain.

"Otak kita terhubung seperti itu," kata Prof, Delgado.

Dikutip dari CNN, berikut ini 4 alasan mengapa kabar di sosial media seringkali mudah dipercaya orang:

1. Tidak Percaya Itu Melelahkan

Foto: thinkstock
Tidak percaya akan sesuatu membuat lebih banyak sel-sel otak bekerja. Nah, karena itulah ketidakpercayaan akan sesuatu terkadang melelahkan.

Misalnya ketika Anda memesan makanan di suatu restoran, tapi Anda tidak percaya dengan keamanan makanan yang dihidangkan. Misalnya ada kekhawatiran makanan tersebut dibuat dari bahan yang tidak segar, menggunakan alat makan tidak bersih, termasuk pula kebersihan si penyaji makanannya.

Emily Falk, seorang psikolog dari University of Pennsylvania mengatakan tidak percaya segala hal yang dilakukan orang lain bukanlah cara efisien untuk menavigasi kehidupan. "Kita tidak punya bandwidth untuk melakukannya," ujarnya.

2. Terkadang Tidak Percaya Itu 'Membahayakan'

Foto: Thinkstock
Terkadang berjalan bersama dalam sekelompok orang lebih aman ketimbang berjalan sendiri dengan pemikiran yang berbeda. Falk menuturkan ketika seseorang menjadi bagian dari suatu kelompok dan berjalan bersama di tengah hutan, anggota kelompok bisa memberi informasi pada yang lain jika ada sesuatu yang membahayakan. Misalnya saja informasi tentang adanya air beracun yang mana tidak Anda ketahui sebelumnya.

Robert Frank, seorang pakar ekonomi, mengatakan seseorang yang sukses biasanya merupakan orang yang percaya orang-orang di timnya.

Selain itu, sering kali, mempercayai sekelompok orang lebih 'aman' karena untuk menjadi berbeda sendiri dalam ketidakpercayaan akan sesuatu butuh energi besar. Jika tidak percaya maka perlu banyak hal untuk mematahkan kepercayaan tersebut.

3. Menjadi Skeptis Bisa Jadi Tidak Menguntungkan

Foto: thinkstock
Seorang skeptis dalam tim yang terlalu sering mempertanyakan setiap hal kecil seringkali dianggap menjengkelkan oleh anggota lainnya. Karena menjengkelkan, bisa saja orang ini didepak dari tim.

Padahal bisa jadi si skeptis benar. Namun karena terlalu sering mendebat, hal itu bisa membuatnya harus membayar mahal.

Jadi ketika ada informasi di sosial media telanjur dibagikan dan dipercaya banyak orang, orang-orang lain cenderung mempercayainya agar terlepas dari situasi yang tidak menguntungkan. Baru kemudian jika ternyata diketahui hal yang dipercaya itu salah, buru-buru juga ikut membagikan yang benar.

4. Mempercayai Seseorang Membuat Bagian Otak Ini 'Senang'

Foto: Thinkstock
Studi menunjukkan ada bagian otak yang 'senang' karena mempercayai orang lain. Ini ditunjukkan melalui penelitian ilmuwan, ketika sejumlah orang diminta bermain game dengan orang asing dan dengan temannya sendiri.

Permainan telah direkayasa sehingga subjek penelitian sama-sama sukses melakukan permainan itu, baik ketika melakukannya bersama orang asing maupun bersama temannya sendiri. Namun MRI menunjukkan bagian otak yang merupakan pusat penghargaan menyala lebih terang ketika si subjek sukses bermain dengan temannya.

Meskipun si teman yang dipercaya ini ternyata berkhianat, ternyata masih ada kepercayaan yang diberikan si subjek penelitian.
Halaman 2 dari 5
Tidak percaya akan sesuatu membuat lebih banyak sel-sel otak bekerja. Nah, karena itulah ketidakpercayaan akan sesuatu terkadang melelahkan.

Misalnya ketika Anda memesan makanan di suatu restoran, tapi Anda tidak percaya dengan keamanan makanan yang dihidangkan. Misalnya ada kekhawatiran makanan tersebut dibuat dari bahan yang tidak segar, menggunakan alat makan tidak bersih, termasuk pula kebersihan si penyaji makanannya.

Emily Falk, seorang psikolog dari University of Pennsylvania mengatakan tidak percaya segala hal yang dilakukan orang lain bukanlah cara efisien untuk menavigasi kehidupan. "Kita tidak punya bandwidth untuk melakukannya," ujarnya.

Terkadang berjalan bersama dalam sekelompok orang lebih aman ketimbang berjalan sendiri dengan pemikiran yang berbeda. Falk menuturkan ketika seseorang menjadi bagian dari suatu kelompok dan berjalan bersama di tengah hutan, anggota kelompok bisa memberi informasi pada yang lain jika ada sesuatu yang membahayakan. Misalnya saja informasi tentang adanya air beracun yang mana tidak Anda ketahui sebelumnya.

Robert Frank, seorang pakar ekonomi, mengatakan seseorang yang sukses biasanya merupakan orang yang percaya orang-orang di timnya.

Selain itu, sering kali, mempercayai sekelompok orang lebih 'aman' karena untuk menjadi berbeda sendiri dalam ketidakpercayaan akan sesuatu butuh energi besar. Jika tidak percaya maka perlu banyak hal untuk mematahkan kepercayaan tersebut.

Seorang skeptis dalam tim yang terlalu sering mempertanyakan setiap hal kecil seringkali dianggap menjengkelkan oleh anggota lainnya. Karena menjengkelkan, bisa saja orang ini didepak dari tim.

Padahal bisa jadi si skeptis benar. Namun karena terlalu sering mendebat, hal itu bisa membuatnya harus membayar mahal.

Jadi ketika ada informasi di sosial media telanjur dibagikan dan dipercaya banyak orang, orang-orang lain cenderung mempercayainya agar terlepas dari situasi yang tidak menguntungkan. Baru kemudian jika ternyata diketahui hal yang dipercaya itu salah, buru-buru juga ikut membagikan yang benar.

Studi menunjukkan ada bagian otak yang 'senang' karena mempercayai orang lain. Ini ditunjukkan melalui penelitian ilmuwan, ketika sejumlah orang diminta bermain game dengan orang asing dan dengan temannya sendiri.

Permainan telah direkayasa sehingga subjek penelitian sama-sama sukses melakukan permainan itu, baik ketika melakukannya bersama orang asing maupun bersama temannya sendiri. Namun MRI menunjukkan bagian otak yang merupakan pusat penghargaan menyala lebih terang ketika si subjek sukses bermain dengan temannya.

Meskipun si teman yang dipercaya ini ternyata berkhianat, ternyata masih ada kepercayaan yang diberikan si subjek penelitian.

(vit/vit)

Berita Terkait