ADVERTISEMENT

Selasa, 15 Nov 2016 18:05 WIB

Ingin Mengobati Hingga ke Pelosok Tanah Air, Unair Rintis RS Terapung

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Rahma Lillahi Sativa/detikHealth
Surabaya - Pelayanan kesehatan di daerah terpencil masih menjadi persoalan pelik. Selain kualitas pelayanannya yang masih buruk, penduduk tidak memiliki akses kepada layanan tersebut semisal karena kondisi geografis.

Kondisi geografis Indonesia yang didominasi oleh lautan kemudian menginspirasi alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga untuk mengembangkan rumah sakit terapung.

Rumah sakit ini diharapkan dapat menjangkau daerah terpencil maupun daerah perbatasan yang ada di penghujung Indonesia. Rencananya rumah sakit terapung ini berbentuk kapal model Phinisi dengan panjang 27 meter dan lebar 7 meter.

"Minimal seperti rumah sakit tipe C," harap dr Agus Hariyanto, SpB, salah satu penggagas RS Terapung Unair dalam Simposium Adventure and Remote Medicine di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Selasa (15/11/2016).

Ia juga berharap rumah sakit terapung tersebut dilengkapi dengan mesin produksi oksigen. Selain memudahkan penyediaan tabung oksigen, yang berperan penting dalam menunjang pemberian layanan semisal tindakan bedah, ini juga bisa memberikan fungsi lain.

"Kalau kita memiliki mesin ini, kita bisa men-support puskesmas-puskesmas yang ada di daerah," lanjut dr Agus.

Ingin Mengobati Hingga ke Pelosok Tanah Air, Unair Rintis RS TerapungFoto: Rahma Lillahi Sativa/detikHealth


Baca juga: Beri Pelayanan Gratis, Dokter Ini Berlayar ke Pulau-pulau Terpencil

Gagasan tentang rumah sakit terapung ini pun mendapatkan respons positif. Salah satunya dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dr dr Kohar Hari Santoso, SpAn(K).

Menurutnya, jangankan di wilayah pelosok seperti di timur Indonesia, di Jawa Timur sendiri masih ada wilayah yang tergolong terpencil dan sulit mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai.

"Ada tiga daerah terpencil, yaitu Pacitan, Gresik dan Sumenep yang masih tertinggal layanan kesehatannya," ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Ambil contoh di Gresik, tepatnya di Pulau Bawean. Pulau ini hanya dapat dijangkau oleh speedboat, itu pun menghabiskan waktu selama tiga jam. Jika dengan kapal biasa, perjalanan yang harus ditempuh bisa mencapai 8 jam.

"Tapi kalau ombaknya sedang tinggi, Anda nggak bisa kembali (ke Gresik, red,)" urainya.

Lain di Gresik, lain pula persoalan di Sumenep. dr Kohar mengatakan salah satu kabupaten di Madura tersebut memiliki banyak pulau kecil yang letaknya justru lebih dekat ke Kalimantan ketimbang ke Surabaya. Jarak antarpulaunya pun berjauhan.

Namun dengan adanya RS terapung ini, setidaknya FK Unair bisa menjangkau wilayah terdekatnya yang sama-sama membutuhkan terlebih dahulu.

Hanya saja untuk realisasinya, diperkirakan masih memakan waktu yang lama. Akan tetapi untuk kapalnya sendiri direncanakan telah rampung pada bulan Februari 2017 mendatang.

Baca juga: Dr Lie Dharmawan & Perjuangan Bangun RS Apung Swasta Pertama Indonesia


(lll/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT