Kaitan Mencukur Rambut Kemaluan dengan Risiko Infeksi Menular Seksual

ADVERTISEMENT

Kaitan Mencukur Rambut Kemaluan dengan Risiko Infeksi Menular Seksual

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 07 Des 2016 10:06 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Mencukur rambut kemaluan lumrah dilakukan seseorang guna menjaga area vitalnya tetap bersih. Tapi, sebuah studi baru-baru ini menyebut ada hubungan rutinitas ini dengan risiko infeksi menular seksual (IMS).

Studi yang dilakukan peneliti di University of Texas menemukan bahwa mereka yang teratur mencukur rambut kemaluannya 80 persen lebih berisiko terkena IMS, dibanding mereka yang tak pernah mencukur rambut kemaluan. Namun, patut diingat bahwa di antara dua variabel ini hanya ada kaitannya saja.

"Studi kami tidak membuktikan bahwa mencukur rambut kemaluan secara langsung meningkatkan risiko infeksi orang yang bersangkutan terkena IMS," tegas salah satu peneliti Dr E Charles Osterberg, dikutip dari Live Science.

Menurut dia, ada dua hal yang bisa menimbulkan hubungan ini. Pertama, ada kemungkinan orang yang mencukur rambut kemaluannya rentan mengalami luka di kulit, di mana kondisi itu memudahkan bakteri dan virus penyebab IMS masuk ke tubuh. Kedua, ada kemungkinan mereka yang teratur mencukur rambut kemaluan lebih aktif secara seksual.

Baca juga: Ketika Sailor Moon Turun Tangan Perangi Infeksi Menular Seksual

Untuk studi ini, Osterberg dan tim melibatkan 7.580 orang usia 18 sampai 65 tahun. Mereka ditanya apakah mereka mencukur rambut kemaluannya, seberapa sering mencukur rambut kemauan dan apa alat cukur yang digunakan. Selain itu, responden juga ditanya berapa banyak partner seksual mereka dan IMS yang pernah dialami.

"Diketahui 7.470 responden memiliki setidaknya satu pasangan seksual. Kemudian 943 orang memiliki setidaknya salah satu dari penyakit ini yakni herpes, HPV, sifilis, moluskum, gonorrhea, klamidia, HIV, dan kutu kemaluan," tambah Osterberg.

Hubungan mencukur rambut kemaluan dengan risiko IMS lebih tinggi pada mereka yang setidaknya memangkas habis rambut kemaluan minimal 12 kali per tahun. Atau, pada mereka yang setidaknya memangkas rambut kemaluan tidak sampai habis harian atau mingguan. Sementara, mereka yang tidak mencukur rambut kemaluan diketahui berisiko dua kali lebih besar terkena kutu kelamin.

Prof Debby Herbenick PhD yang tidak terlibat dalam penelitian ini menanggapi bahwa studi yang diterbitkan di journal Sexually Transmitted Infections ini memiliki keterbatasan. Misalnya, tidak diketahui bagaimana waktu mencukur rambut kemaluan meningkatkan risiko IMS.

"Kemudian, peneliti tidak bertanya apakah responden menggunakan kondom saat bercinta. Seperti diketahui, kondom jadi faktor penting menurunkan risiko penularan IMS. Sehingga, studi lebih lanjut pun diperlukan," kata Herbenick.

Baca juga: Wah! 'Penyakit Menular Seksual' ini Bisa Dimakan


(rdn/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT