Sabtu, 24 Des 2016 09:03 WIB

Vaksin Baru untuk Ebola Diklaim Berikan Perlindungan 100 Persen

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto ilustrasi
Jakarta - Setelah berbulan-bulan, peneliti akhirnya menemukan vaksin yang diklaim efektif untuk melumpuhkan virus Ebola, meski vaksinnya sendiri baru selesai melalui tahap percobaan.

Vaksin ini dikembangkan oleh peneliti dari World Health Organization (WHO). Percobaan dilaksanakan di tahun 2015 dengan melibatkan sekitar 5.837 orang di Guinea.

Sebenarnya jumlah pasien yang terinfeksi Ebola di negara ini sudah berkurang, tetapi seluruh responden mengaku pernah melakukan kontak dengan pasien Ebola baru.

Kemudian oleh peneliti, responden diberi vaksin yang diberi nama rVSV-ZEBOV itu sesegera mungkin. Setelah 10 hari dipastikan tak ada kasus Ebola baru yang muncul pada mereka yang segera divaksin. Sedangkan 23 kasus tercatat muncul pada mereka yang vaksinasinya agak terlambat.

Baca juga: Anggap Ebola Sudah Terkontrol, WHO Cabut Status Kondisi Darurat Global

"Bahkan kami harus menghentikan studinya karena kami sibuk mengimunisasi orang-orang yang terpapar virus ini di Guinea," ungkap Dr Marie-Paule Kieny seperti dilaporkan CBS News.

Namun kondisi itu justru meyakinkan peneliti bahwa vaksin temuan mereka benar-benar mampu mengendalikan wabah Ebola baru. "Dan ini adalah vaksin pertama yang terbukti efektif, setidaknya untuk strain Zaire," imbuhnya.

Kendati demikian, peneliti ingin melakukan percobaan lain untuk memastikan vaksin ini dapat melindungi seseorang dari virus Ebola strain kedua, yaitu Sudan.

Lisensi vaksin tersebut kini berada di tangan perusahaan farmasi, Merck&Co. Mereka tengah berupaya untuk mendapatkan persetujuan agar bisa masuk ke pasar AS dan Eropa tahun depan. Merck juga berjanji untuk menyediakan 300.000 dosis vaksin untuk antisipasi bila sewaktu-waktu wabah Ebola muncul kembali.

Baca juga: Kerusakan Otak Jangka Panjang, Masalah Baru yang Dihadapi Penyintas Ebola

WHO sendiri telah mencabut status kegawatdaruratan terkait wabah Ebola sejak bulan Maret 2016 silam atau setelah 20 bulan. Penarikan status ini juga dibarengi dengan pengangkatan larangan bepergian ke tiga negara yang terdampak Ebola paling buruk, yakni Guinea, Liberia dan Sierra Leone.

Kendati demikian, kasus-kasus baru masih bermunculan karena terjadinya reintroduksi virus, meski tak banyak. (lll/up)