Selasa, 27 Des 2016 15:12 WIB

Sesekali Membantu Mengurus Cucu Baik Bagi Kesehatan Kakek dan Nenek

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Brittany Greeson/CNN Foto: Brittany Greeson/CNN
Jakarta - Di mata kakek nenek, posisi cucu bisa saja di atas anaknya sendiri, sehingga tak heran banyak orang tua yang lebih menyayangi cucunya. Tetapi sebuah studi juga mengatakan rasa sayang kepada cucu bisa membuat kakek dan nenek panjang umur.

Kesimpulan ini didasarkan pada hasil pengamatan terhadap lebih dari 500 orang berusia 70-103 tahun di Jerman dan Swiss. Namun peneliti hanya memfokuskan pengamatan pada kakek nenek yang hanya memberikan dukungan tambahan kepada cucunya, bukan yang menjadi pengasuh utama atau caregiver dari cucu-cucu mereka.

Hasilnya, kakek nenek yang kadangkala meluangkan waktu untuk mengurus cucu-cucunya dilaporkan masih hidup hingga survei rampung dilaksanakan, yaitu lima tahun kemudian. Sebaliknya, mereka yang tidak membantu mengurus cucu dilaporkan meninggal dalam kurun waktu yang sama.

Baca juga: Agar Lebih Aman, Saat Cium Cucu Sebaiknya Kakek dan Nenek Sudah Divaksin

Menariknya, ini tidak hanya berlaku bila si lansia juga sering memberikan dukungan emosional kepada orang lain. Mereka dilaporkan bisa hidup rata-rata tujuh tahun lebih lama daripada yang tidak, kendati mereka tidak punya anak, apalagi cucu. Sedangkan mereka yang tidak melakukannya rata-rata hanya bertahan selama empat tahun.

"Kami memastikan efek kepedulian ini tidak hanya berlaku di dalam keluarga, tetapi mereka yang suka membantu orang lain dalam jejaring sosialnya juga dikaitkan dengan perpanjangan umur hingga minimal tiga tahun," simpul salah satu peneliti Ralph Hertwig seperti dilaporkan The Telegraph.

Tetapi peneliti menegaskan efek ini hanya berlaku untuk mereka yang memberikan bantuan sekadarnya saja. Sebab riset-riset sebelumnya mengatakan terlalu banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk membantu orang lain justru bisa memicu stres, yang kemudian akan memberikan efek negatif terhadap kesehatan fisik dan mental seseorang.

"Perilaku pro-sosial seperti ini akan 'membekas' pada tubuh dalam bentuk dampak positif terhadap sistem saraf maupun hormonal," lanjut pria yang juga direktur Max Planck Institute for Human Development, Berlin tersebut.

Baca juga: Ini Masalah yang Biasa Terjadi Antara Kakek-Nenek dan Ortu Soal Pola Asuh

Psikolog perkembangan anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo juga mengingatkan bagaimanapun orang tua memegang andil yang lebih besar dalam pola asuh anak. Wajar bila kemudian ia menjumpai banyak pasangan orang tua yang berselisih pendapat dengan kakek dan nenek terkait pengasuhan anak semisal soal memberikan mainan kepada cucunya.

Tetapi kendali harus di tangan orang tua. "Kalau dengan mertua ketemu sebulan sekali tidak apa-apa, tapi kalau hampir setiap hari butuh pengarahan. Kendalanya yang sering saya temui pada orang tua kadang kakek neneknya itu enggak terima. Akan lebih baik kalau para kakek nenek itu juga diajak seminar dan sharing untuk membuka wawasan," kata Vera seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Padahal menurut Vera, tidak semua mainan yang diberikan kepada anak cocok dengan usianya. Di samping itu, Vera khawatir ketika anak terlalu sering dibelikan mainan, ia menjadi tergantung pada orang tua ataupun kakek nenek jika orang tuanya sudah menolak, sebab ia merasa keinginannya harus selalu terpenuhi. (lll/vit)