Insiden ini terjadi di jalur Pantura, yaitu di sekitaran Brebes, Jawa Tengah. Tercatat 12 orang meninggal dunia, kebanyakan diduga karena kelelahan atau sudah memiliki penyakit bawaan dan saat terjebak macet, hal ini kemudian memicu kondisinya memburuk.
Selain kelelahan dan penyakit bawaan yang memburuk akibat kecapekan, ada juga korban yang meninggal dunia akibat serangan jantung dan keracunan karbon dioksida setelah mobil yang ditumpangi terjebak macet lebih dari enam jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada kelompok risiko tinggi seperti bayi, anak-anak ataupun pasien penyakit jantung dan paru, konsentrasi oksigen yang menurun ditambah meningkatnya polusi udara memang bisa berakibat fatal," tutur dr Agus seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.
Sebab di saat konsentrasi oksigen perlahan-lahan turun dan konsentrasi karbon dioksidanya naik, hal ini memungkinkan terjadinya hipoksia, ditandai dengan pusing, mual, sesak napas dan kehilangan kesadaran hingga meninggal.
Pada pasien jantung dan penyakit paru yang fungsi peredaran oksigennya sudah terganggu, kondisi ini juga bisa berakibat fatal. Apalagi jika dalam kondisi terjebak macet di mana fasilitas kesehatan sulit dijangkau.
"Secara garis besar berbahaya karena masyarakat mungkin tidak paham. Pusing dan mual dikira hanya kelelahan atau mabuk darat. Padahal itu juga gejala awal kekurangan oksigen dan harus ditindaklanjuti ke posko kesehatan," urainya.
Baca juga: Saran Dokter Agar 'Horor Mudik' yang Tewaskan 12 Orang Tidak Terulang
Lantas haruskah jendela ditutup atau dibuka saat terjebak kemacetan? Mengutip rilis dari RSUP Persahabatan, menutup jendela bisa membuat penumpang kehabisan oksigen. Di sisi lain membuka jendela akan menyebabkan emisi gas buang kendaraan masuk ke dalam kabin. Padahal emisi gas buang kendaraan bermotor mengandung karbon monoksida (C0) yang sangat beracun.
Karena kebanyakan mesin kendaraan tetap menyala saat kondisi jalan macet, lebih disarankan untuk menutup jendela mobil. "Tutup jendela dan pintu kendaraan mobil untuk mengurangi masuknya asap polusi dan partikel ke dalam kendaraan. Nyalakan AC dengan mode recirculate, jangan mode outdoor circulate yang mengambil udara dari luar," papar artikel.
Namun untuk mencegah berkurangnya oksigen, di waktu tertentu, jendela boleh dibuka agar terjadi pertukaran udara. "Bila udara di luar tidak panas, matikan juga mesin mobil untuk mengurangi polusi udara di sekitar kemacetan," saran rilis tersebut.
Foto: Gagah WijosenoKemacetan di tol Brexit saat lebaran 2016/Foto: detikcom |
Yang tak kalah penting, saat terjebak macet, hindari kegiatan lain yang bisa menambah polusi udara, di antaranya merokok.
Menanggapi hal ini, praktisi kesehatan dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH juga mengingatkan pentingnya mengonsumsi cairan saat mudik demi mencegah dehidrasi. Persoalannya, jumlah rest area, termasuk toiletnya, tidak sebanding dengan jumlah pemudik. Akibatnya pemudik memilih tidak minum.
Padahal bagi pengidap penyakit kronis, dehidrasi bisa berdampak serius. Pada pengidap hipertensi misalnya, dehidrasi akan membuat jantung bekerja lebih keras. Kadar gula pada pengidap diabetes juga menjadi lebih sulit dikontrol dalam kondisi tubuh kekurangan cairan.
"Tetap pertahankan minum 2 liter dalam 24 jam. Jika di dalam perjalanan kita banyak keringat, jumlah air minum harus ditingkatkan," saran Dr Ari
Kemacetan parah meningkatkan risiko dehidrasi terutama pada orang lanjut usia yang kepekaan terhadap rasa hausnya lebih rendah. Apalagi, berada dalam mobil dengan AC (Air Conditioner) menyala membuat keringat tidak keluar. Risiko dehidrasi jadi semakin besar karena rasa haus tidak muncul.
Dehidrasi membuat kadar elektrolit tubuh menurun. Bagi pemudik yang memang sudah punya riwayat diabetes mellitus dan hipertensi sebelumnya, kekurangan elektrolit bisa memperburuk kondisi kesehatan. Belum lagi ditambah dengan level stres yang cenderung meningkat.
Selain butuh asupan cairan, tubuh juga membutuhkan asupan elektrolit dan komponen lainnya. Buah-buahan seperti jeruk, apel, atau buah peer baik dikonsumsi selama perjalanan karena bisa menjadi sumber kalori, air, vitamin, sekaligus serat dan mineral. Disarankan juga untuk tetap minum setiap 2 jam, sekalipun tidak merasa haus.
Baca juga: Membandingkan Dampak Kesehatan Arus Mudik dari Tahun ke Tahun
(lll/vit)












































Foto: Gagah Wijoseno