Hal ini diungkap Prof Rod Sinclair, ahli dermatologi dari University of Melbourne.
"Justru karena ada orang yang mengatakan merinding itu tidak ada gunanya, saya menjadi penasaran dan memutuskan untuk menelitinya," katanya.
Prof Sinclair menjelaskan, pada dasarnya di balik tiap rambut yang ada di tubuh manusia terdapat sebuah otot. Ketika otot ini berkontraksi, maka rambut yang ada di atasnya akan ikut 'berdiri'. Inilah gambaran mekanisme terjadinya sensasi merinding.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika otot ini tersambung dengan folikel rambut maka tercipta sebuah sel punca. Jadi kalau Anda tidak punya otot pemicu merinding tadi berarti Anda tak punya sel punca," terang Prof Sinclair seperti dilaporkan ABC Australia.
Dengan kata lain, fungsi keberadaan otot pemicu merinding tadi sangat vital karena berkaitan dengan proses pemulihan dan regenerasi sel.
Baca juga: Merinding Saat Mendengarkan Musik? Pakar Menyebutnya Skin Orgasm
Prof Sinclair mengatakan, temuan ini dapat membantu menghambat perkembangan sel-sel kanker di kulit, karena ini bisa jadi panduan untuk membuat vaksin, misalkan, untuk melawan kanker kulit atau menentukan target agar bisa memberikan perlindungan dari kanker mematikan ini.
Begitu juga dengan mereka yang mengalami masalah kebotakan. Untuk mencari tahu mengapa seseorang bisa mengalami kebotakan, peneliti bisa menelusuri penyebab kerusakan pada 'arrector pili'-nya. Pasien luka bakar pun bisa diuntungkan dengan temuan ini.
"Saat kita mencangkokkan rambut ke atas bekas luka bakar, diharapkan ini bisa membantu meregenerasi 'arrector pili' tadi, lalu menumbuhkan lebih banyak populasi sel punca di atas luka bakarnya sehingga mempercepat pemulihan," pungkasnya.
Baca juga: Merinding atau Tidak, Ilmuwan Korea Ciptakan Alat Deteksinya (lll/vit)











































