Sabtu, 07 Jan 2017 13:06 WIB

Sudah Siap Nikah, Sudah Pasti Pasutri Siap Punya Anak?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Pertanyaan sudah punya momongan atau belum kerap didengar pasangan suami istri (pasutri) yang baru menikah. Padahal, nyatanya ada pula pasutri yang belum siap memiliki momongan.

Hal ini dialami salah satunya oleh pembaca detikHealth bernama Rais (26). Ia mengaku di awal-awal pernikahan, belum siap punya anak meski sang istri sudah mendambakan kehadiran buah hati. Rais beralasan orang tua pastinya harus bertanggung jawab pada sang anak. Nah, menurutnya membesarkan anak di zaman sekarang lebih repot.

"Sekarang kan zaman serba digital, akses informasi mudah, didapat, terus adanya kasus-kasus paedofil dan kekerasan seks pada anak bikin saya parno juga," kata pria yang menikah di bulan Juli 2016.

Namun, 3 bulan setelah menikah, pemikiran Rais berubah. Keinginan untuk memiliki anak muncul, terlebih Rais kerap melihat teman sebayanya yang sudah memiliki anak jadi lebih happy.

Lain Rais, lain pula yang dialami Tissa. Pembaca detikHealth yang berprofesi sebagai guru ini sejak awal menikah sudah siap memiliki momongan. Bahkan sebelum menikah, ia dan suaminya sudah sepakat untuk tidak menunda memiliki momongan.

"Karena usia saya dan suami sudah di atas 30 tahun jadi ya memang kepengen banget punya anak. Alhamdulillah beberapa bulan setelah menikah saya hamil," kata ibu satu anak ini.

Baca juga: Survei Ini Ungkap Hal yang Paling Ditakutkan Suami dan Istri Saat Bercinta

Terkait hal ini, apakah orang yang siap menikah sudah pasti siap punya anak? "Belum tentu, karena menikah dan punya anak adalah dua hal yang berbeda," tegas psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi Sri Juwita Kusumawarhdani MPsi., Psikolog.

Wanita yang akrab disapa Wita ini menuturkan menikah idealnya melibatkan dua orang dewasa yang mampu saling mengurus, saling bertanggung jawab, dan saling bertoleransi. Sedangkan, menjadi orangtua artinya kita dituntut untuk menjadi pihak yang mengurus, merawat, serta melindungi bayi yang 'lemah'.

Sehingga, Wita menegaskan bahwa tidak semua orang siap untuk mengemban tanggung jawab sebesar itu (memiliki anak-red). Nah, di luar faktor finansial, terkadang ditemui seseorang yang sudah sangat siap menikah tapi kemudian, dia menunda untuk memiliki anak.

Menanggapi hal ini, menurut Wita menikah saja sudah membutuhkan adaptasi yang besar dan adaptasinya akan dilakukan oleh dua orang dewasa. Nah, ketika memiliki anak, hanya orang tua yang perlu beradaptasi dengan kehadiran si anak sehingga membutuhkan energi yang lebih besar lagi dan tidak semua orang siap untuk menghadapi perubahan sebesar misalnya perubahan prioritas finansial atau waktu luang.

Kemungkinan lain situasi tersebut terjadi, bisa saja pasutri masih memiliki rencana atau prioritas lain seperti proyek yang harus ditangani atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam situasi seperti ini, Wita mengibaratkan pasangan mungkin dapat berkompromi dengan kesibukan kita. Tapi anak, ia tidak bisa melakukannya karena ia belum mampu berkompromi.

"Kita sebaiknya tidak menghakimi prioritas pasangan yang memang belum ingin memiliki anak, karena tentunya mereka sudah memiliki pertimbangan sendiri terhadap hal tersebut. Fokus saja pada diri dan keluarga sendiri. Apalagi di masyarakat kita sering sekali dijumpai seseorang yang sangat ingin mengurusi dan menghakimi orang lain," papar wanita yang juga praktik di Klinik Psikologi Terapan UI ini.

Baca juga: Ini Lho Pentingnya Jika Suami Dapat Cuti Saat Istri Melahirkan (rdn/vit)