Jakarta -
Vaksin bermanfaat mencegah penyakit tapi juga kadang ada efek sampingnya. Hal ini lah yang sering dijadikan alasan bagi mereka yang menolak vaksinasi atau disebut juga antivaksin.
Namun para ahli sering menyebut bahwa efek samping vaksin tidak perlu dikhawatirkan. Dibandingkan dengan manfaatnya untuk menolak berbagai penyakit, efek samping vaksin disebut masih ringan.
Nah seperti apa sebetulnya ketika data manfaat dan efek samping vaksin ini dibandingkan dari berbagai studi? Berikut beberapa contoh seperti dirangkum detikHealth pada Jumat (13/1/2017).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Fakta di Balik Kampanye Hitam Anti Vaksin
1. Campak
Foto: Thinkstock
|
Menurut laporan tahun 2014 dari Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) vaksin campak selama dua dekade terakhir berhasil menyelamatkan sekitar 700 ribu nyawa anak dan mencegah 300 juta anak lainnya jatuh sakit.
Kajian yang dilakukan oleh National Academy of Medicine tahun 2011 melihat satu dari 3 ribu sampai 4 ribu anak yang diberi vaksin memang bisa terkena demam tinggi dan kejang-kejang. Namun demikian hal tersebut tidak berbahaya dan tidak akan meninggalkan dampak jangka panjang.
Sementara itu ketika tidak diberi vaksin satu dari 10 anak yang terkena campak bisa alami infeksi berujung pada kehilangan kemampuan pendengaran permanen. Ditambah lagi setiap 1.000 anak yang terinfeksi, satu atau dua di antaranya bisa meninggal dunia.
2. Rotavirus
Foto ilustrasi: Rachman Haryanto
|
Studi di New England Journal of Medicine tahun 2014 menyebut pemberian vaksin rotavirus bernama RotaTeq berisiko kecil picu gangguan usus bernama intussusception. Kondisi tersebut diakibatkan oleh usus yang saling tumpang tindih sehingga terjadi penyumbatan.
Angka kejadian menurut studi tersebut ada satu untuk setiap 65 ribu anak yang divaksin.
Studi lain pada tahun 2011 menyebut vaksin rotavirus telah berhasil mencegah 65 ribu anak di AS jatuh sakit oleh virus yang berpotensi fatal.
3. HPV
Foto: Thinkstock
|
Human papilloma virus (HPV) adalah virus yang jadi penyebab utama kanker serviks pada wanita. Vaksin HPV dikenalkan pertama kali pada tahun 2006 dan ketika diberi pada anak-anak tercatat dalam studi yang dipublikasi di jurnal Infectious Diseases tahun 2013 mampu menurunkan kasus kanker hingga 56 persen meski saat itu cakupannya masih sedikit.
Efek samping dari vaksin HPV dalam studi lain yang dipublikasi di Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine menemukan peningkatan risiko pingsan. Dari 200 ribu sampel remaja perempuan yang mendapat vaksin, bisa ada satu sampai 24 kasus pingsan per seribu orang.
4. Cacar air
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Menurut CDC ketika pertama kali mendapat vaksin cacar air sekitar tiga persen anak mungkin akan terkena ruam seperti cacar. rata-rata hanya muncul dua sampai lima ruam efek samping ini berbeda dari serangan cacar sebetulnya yang bisa sampai 500-an ruam.
Meski cacar air adalah jenis penyakit yang tak berat namun kadang bisa memicu komplikasi serius seperti infeksi bakteri, pneumonia, dan peradangan otak.
Sebelum ada vaksin cacar air CDC memperkirakan ada sekitar 4 juta kasus per tahun yang 100 di antaranya meninggal dunia. Studi pada tahun 2012 melihat setelah ada vaksin angka kasus berkurang 80 persen.
Menurut laporan tahun 2014 dari Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) vaksin campak selama dua dekade terakhir berhasil menyelamatkan sekitar 700 ribu nyawa anak dan mencegah 300 juta anak lainnya jatuh sakit.
Kajian yang dilakukan oleh National Academy of Medicine tahun 2011 melihat satu dari 3 ribu sampai 4 ribu anak yang diberi vaksin memang bisa terkena demam tinggi dan kejang-kejang. Namun demikian hal tersebut tidak berbahaya dan tidak akan meninggalkan dampak jangka panjang.
Sementara itu ketika tidak diberi vaksin satu dari 10 anak yang terkena campak bisa alami infeksi berujung pada kehilangan kemampuan pendengaran permanen. Ditambah lagi setiap 1.000 anak yang terinfeksi, satu atau dua di antaranya bisa meninggal dunia.
Studi di New England Journal of Medicine tahun 2014 menyebut pemberian vaksin rotavirus bernama RotaTeq berisiko kecil picu gangguan usus bernama intussusception. Kondisi tersebut diakibatkan oleh usus yang saling tumpang tindih sehingga terjadi penyumbatan.
Angka kejadian menurut studi tersebut ada satu untuk setiap 65 ribu anak yang divaksin.
Studi lain pada tahun 2011 menyebut vaksin rotavirus telah berhasil mencegah 65 ribu anak di AS jatuh sakit oleh virus yang berpotensi fatal.
Human papilloma virus (HPV) adalah virus yang jadi penyebab utama kanker serviks pada wanita. Vaksin HPV dikenalkan pertama kali pada tahun 2006 dan ketika diberi pada anak-anak tercatat dalam studi yang dipublikasi di jurnal Infectious Diseases tahun 2013 mampu menurunkan kasus kanker hingga 56 persen meski saat itu cakupannya masih sedikit.
Efek samping dari vaksin HPV dalam studi lain yang dipublikasi di Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine menemukan peningkatan risiko pingsan. Dari 200 ribu sampel remaja perempuan yang mendapat vaksin, bisa ada satu sampai 24 kasus pingsan per seribu orang.
Menurut CDC ketika pertama kali mendapat vaksin cacar air sekitar tiga persen anak mungkin akan terkena ruam seperti cacar. rata-rata hanya muncul dua sampai lima ruam efek samping ini berbeda dari serangan cacar sebetulnya yang bisa sampai 500-an ruam.
Meski cacar air adalah jenis penyakit yang tak berat namun kadang bisa memicu komplikasi serius seperti infeksi bakteri, pneumonia, dan peradangan otak.
Sebelum ada vaksin cacar air CDC memperkirakan ada sekitar 4 juta kasus per tahun yang 100 di antaranya meninggal dunia. Studi pada tahun 2012 melihat setelah ada vaksin angka kasus berkurang 80 persen.
(fds/vit)