Kamis, 19 Jan 2017 17:01 WIB

Sekilas Mirip, Ini Beda Kulit yang Kena Tomcat dan Antraks

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Ilustrasi tomcat/Thinkstock
Jakarta - Sepanjang bulan November 2016 hingga Januari 2017 tercatat ada 16 orang warga Kulonprogo yang terindikasi terserang antraks. Karena manifestasinya terlihat di kulit, maka sempat muncul dugaan akibat serangan tomcat.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, Bambang Haryatno kepada wartawan baru-baru ini. Ketika itu sekelompok warga dari beberapa dusun di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo memeriksakan diri ke puskesmas dengan keluhan penyakit kulit.

Untuk memastikan apa penyebab penyakit kulit yang mewabah tersebut, pihaknya mendatangkan tim dokter kulit dari RSUP Dr Sardjito untuk penanganan lebih lanjut.

"Lalu awalnya dideteksi karena tomcat," ujarnya.

Serangan tomcat memang rawan terjadi di musim penghujan. Karena refleks, biasanya manusia akan memukul atau memencet serangga yang menggigitnya seperti halnya nyamuk. Hanya saja, tomcat ini tidak boleh dipencet.

Sebab saat dipencet, serangga ini mengeluarkan racun. Kulit yang terkena racun tomcat akan terasa panas, dan dalam kurun waktu 24-48 jam akan melepuh seperti luka bakar disertai gatal.

Jika digaruk, kulit yang melepuh tadi bisa pecah dan mengalami infeksi, utamanya pada kulit tangan dan kaki, meski tidak mematikan.

Sekilas Mirip, Ini Beda Kulit yang Kena Tomcat dan AntraksTerkena tomcat (Foto: Nurvita Indarini)
Sedangkan antraks tidak hanya bisa menyerang kulit walaupun sebagian besar kasusnya termanifestasi di kulit. Gejala di kulit memang hampir-hampir mirip dengan gejala serangan tomcat, yaitu kulit melepuh dan merah atau ruam.

Namun pada pasien antraks, manifestasi di kulit berupa benjolan yang terasa gatal tetapi lama-lama tidak terasa menyakitkan. Hal lain yang membedakan infeksi tomcat dan antraks adalah kulit ikut menghitam.

Baca juga: Begini Cara Bakteri Antraks Menular ke Manusia

Seperti diberitakan detikHealth sebelumnya, dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK menerangkan, serangan tomcat dapat mengakibatkan kondisi kulit yang disebut dermatitis venenata yang tidak menimbulkan demam.

"Umumnya venenata tidak menimbulkan gejala sistemik seperti mual, demam, dan lain-lain karena reaksinya hanya lokal iritasi," terangnya seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Sedangkan menurut dr Ludhang Pradipta Rizki, M.Biotech, SpMK dari Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, antraks bisa sampai memicu demam dan sakit kepala.

"Bahkan ketiga bentuk antraks bisa memungkinkan terjadinya gejala lebih lanjut berupa meningitis yang fatal akibat septikemia. Gejala klinisnya seperti radang otak maupun selaput otak yang dari luar tampak seperti memicu demam, sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran dan kaku kuduk," urainya.

Baca juga: Badan Dihinggapi Tomcat? Lakukan Hal-hal Berikut

Perlu digarisbawahi bahwa baik antraks maupun infeksi akibat serangan Tomcat sama-sama erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan.

Seperti pernah disampaikan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Kusmedi ketika terjadi serangan Tomcat yang meramaikan Jakarta beberapa waktu lalu, untuk mencegah serangan Tomcat, yang diperlukan hanyalah keaktifan warga untuk menjaga kebersihan.

Demikian juga dengan antraks. "Selain menghindari kontak langsung dengan bahan atau makanan yang berasal dari hewan yang dicurigai terkena antraks, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus senantiasa dijalankan," pesan dr Ludhang.

Upaya ini perlu menjadi perhatian utamanya bagi warga yang tempat tinggalnya sangat dekat dengan kandang hewan ternak.

"Tidak hanya antraks, namun dengan PHBS, penyakit lainnya seperti leptospirosis atau pes juga bisa dicegah," tuturnya.

Simak juga video tentang Antraks berikut ini:

(lll/vit)