Ya, Health Continuum Space. Fasilitas ini berisi bagaimana simulasi atau gambaran ketika seseorang dalam kondisi sehat di rumah tapi kemudian jatuh sakit lalu ia mendapat tata laksana hingga kembali lagi ke rumah melewati masa pemulihan. General Manager Personal Health Philips ASEAN Pacific Srikanth V Nott mengatakan fasilitas ini mengilustrasikan bagaimana ketika seseorang menjaga kesehatannya, tapi kemudian sakit, dan dia ditangani dengan kolaborasi yang baik dari paramedis.
Foto: Radian Nyi S |
"Sehingga, efisiensi dan efektivitas pengobatan bisa didapat hingga pasien pulang ke rumah, mengalami pemulihan dan kembali menjadi konsumen, menjalankan hidup sehat," tutur Srikanth dalam peluncuran Health Continuum Space di Philips APAC Centre, Toa Payoh, Singapura, Kamis (19/1/2017).
Health Continuum Space memiliki luas 1.028 meter persegi. Dalam ruangan ini, terdapat simulai beberapa ruangan. Pertama, simulasi rumah di mana di situlah masyarakat menjalani hidup sehat. Srikanth mengatakan pola hidup sehat bisa ditunjang dengan berbagai peranti kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Radian Nyi S |
Baca juga: Selain Cek Fisik, Evaluasi Psikologi pun Penting dalam Tata Laksana Pasien
Setelah itu, ada gambaran bagaimana ambulans yang membawa pasien dilengkapi dengan berbagai alat penunjang. Di bagian ini juga bisa diperagakan jika pintu ambulans terlalu sempit bagaimana cara memasukkan tandunya. Kemudian, digambarkan ruangan di mana pasien menjalani CT scan dan jika dibutuhkan, pasien akan menjalani prosedur operasi yang digambarkan di ruangan berikutnya.
Pasca operasi, pasien pun akan menjalani rawat inap hingga dia bisa kembali ke rumah. Dalam tatalaksana pasien, dokter dari berbagai spesialisasi dan paramedis lainnya bisa berkolaborasi membahas kondisi pasien. Sehingga, penanganan pasien terintegrasi.
Foto: Radian Nyi S |
"Nanti saat pulang ke rumah, tergambar bagaimana pasien bisa menjaga lagi kondisi kesehatannya dengan pantauan dokter. Memang, di sini kami lebih concern pada penyakit kardiovaskular karena penyakit ini cukup banyak dialami masyarakat, di tingkat global, terutama seiring bertambahnya usia. Lagipula, penyakit ini jadi salah satu penyakit yang cukup banyak menghabiskan uang dalam penanganannya," tambah Srikanth.
Di Singapura, fasilitas ini bisa jadi tempat para profesional kesehatan dan stakeholder terkait mendapat gambaran dan mencari solusi yang efektif dan efisien dari masalah kesehatan yang dialami pasien, terutama penyakit kardiovaskular.
"Memang di sini (Singapura) yang kita andalkan. Kalau ada (dari Indonesia) yang mau lihat misalnya dari asosiasi, bisa kita bawa ke sini. Di Indonesia juga pasti akan ada fasilitas seperti ini tapi dalam skala lebih kecil, kita kerja sama dengan salah satu RS misalnya. Nggak cuma nunjukin show case tapi alat-alatnya juga. Sebagian dari alat itu kita beri tahu dan praktikkan bagaimana penggunaannya di lapangan," kata President Director Philips Indonesia Suryo Suwignjo.
Baca juga: Dokter Sebut Masih Banyak Pasien yang Belum Maksimal Lindungi Kulitnya
Foto: Radian Nyi S |












































Foto: Radian Nyi S
Foto: Radian Nyi S
Foto: Radian Nyi S
Foto: Radian Nyi S