Diungkapkan Dr Theodore Shapiro, profesor psikiatri di New York Weill Cornell Centre, memang berantakan kerap diidentikkan dengan kemalasan. Padahal, kenyataannya tidak selalu begitu. Shapiro mengatakan berantakan adalah sesuatu yang dialami oleh semua anak sampai mereka berusia 6 tahun.
"Atau, ini bisa terjadi sampai mereka membangun keterampilan untuk bisa membuat sesuatu menjadi rapi," kata Saphiro kepada Sydney Morning Herald.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Kepribadian Seseorang Bisa Ditentukan dari Es Krim
Kemudian, mereka juga sulit menemukan solusi untuk merapikannya hingga akhirnya mereka membiarkan kondisi berantakan terjadi. Untuk mengatasi ini, menurut Sirota si orang tersebut hanya butuh bantuan untuk membuat segalanya jadi lebih rapi.
"Sementara tipe kedua, orang yang berantakan bisa karena dia merasa tertekan, tidak berdaya, mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), tidak memiliki kemampuan mengatur sesuatu, atau dia seorang 'chronic non-cleaner'," kata Sirota.
Chronic non-cleaner dikatakan Sirota umumnya tinggal di lingkungan yang tidak menyenangkan, tidak sehat, dan berbau tidak sedap. Tapi, orang yang bersangkutan merasa baik-baik saja. Padahal, kondisi itu justru menunjukkan ada masalah serius.
"Kebanyakan dari mereka memiliki gangguan kejiwaan yang akhirnya membuat mereka menciptakan kondisi yang berantakan dan nyaman-nyaman saja hidup dengan situasi seperti itu," kata Sirota.
Baca juga: Rumah Tangga Berantakan, Pria Ini Frustrasi dan Tinggal di Lubang Bawah Tanah
(rdn/vit)











































