Ketika kepala terbentur, meski dari luar mungkin tidak terlihat ada darah mengalir trauma pada otak bisa tetap terjadi. Hal ini dijelaskan oleh dr Esther Kristiningrum dari departemen medis Kalbe Farma. Menurutnya ini terjadi umumnya karena otak terbentur dengan tengkorak saat kepala terguncang.
Baca juga: Ringan Atau Berat, Efek Gegar Otak Dapat Bertahan Hingga Bertahun-tahun
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak yang terjadi bisa beragam tergantung dari tingkat cedera mulai dari penurunan kesadaran hingga kematian. Data dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mencatat sepanjang tahun 2005 ada 434 pasien cedera otak ringan dan 315 pasien cedera otak sedang. Sebanyak 23 kasus di antaranya meninggal dunia.
Penyebab kasus trauma otak ini disebut dr Esther terjadi sebagian besar karena kecelakan lalu lintas yaitu sekitar 60 persen seperti dikutip dari jurnal Neuroanestesi Indonesia. Disusul karena terjatuh dari ketinggian yaitu sekitar 20 sampai 30 persen dan 10 persen terakhir karena penyebab lain.
"Mungkin tawuranlah ditonjok atau apa bisa juga jadi trauma," kata dr Esther dalam temu media di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/1/2017).
"Kenapa kecelakaan lalu lintas paling banyak karena kita masih suka main handphone sambil nyetir," pungkasnya.
Baca juga: Pusing dan Mual Akibat Benturan di Kepala, Gejala Gegar Otak?
(fds/vit)











































