"Sampai saat ini masih suspect antraksnya. Dan ingat ya, dua kali masa inkubasi tidak ditemukan kasus baru maka antraks di Yogyakarta ditutup, karena tidak ada ditemukan lagi penyebaran baru, itu prinsip epidemiologinya," tutur dr HM Subuh, selaku Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan, ditemui di Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.
Dijelaskan dr Subuh, masa inkubasi bakteri antraks adalah 7 hari. Sehingga masa surveilans dua kali inkubasi dihitung sebagai 14 hari sejak pertama kali ditemukannya bakteri antraks pada hasil kultur darah, dan hingga saat ini memasuki hari ke-16 tidak ditemukan adanya kasus infeksi baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Kemenkes Teliti Dugaan Kasus Antraks di Laboratorium Balitbangkes
Namun ketika cuaca tidak menentu, ditunjang dengan kondisi sistem imun yang tidak baik, antraks bisa hidup dan menginfeksi manusia secara langsung. Infeksi juga bisa terjadi melalui konsumsi daging sapi, kerbau, unta hingga kambing.
"Asal ditemukan, diobati, bisa sembuh. Obatnya antibiotik dan ada di puskesmas. Jangan dibayangkan antraks itu seperti bioterorisme di film, yang sengaja dimasukkan gitu lalu dihirup langsung berbahaya. Nggak seperti itu," tambahnya.
Meski begitu, dr Subuh juga meminta masyarakat untuk tetap waspada. Cari informasi dari sumber terpercaya tentang bagaimana cara mencegah antraks, fakta-faktanya, dan apa yang harus dilakukan ketika dicurigai mengalami.
"Jangan lupa juga masak dagingnya dengan matang. Sebenarnya yang aman itu makan daging rendang, karena sudah dimasak lama pasti matilah semua kuman. Jangan disatai karena masaknya cuma tiga perempat matang," tutupnya.
Baca juga: Pasien Meninggal di RSUP Dr Sardjito, Hasil Lab Ada Bacillus anthracis (mrs/vit)











































