Kekerasan dalam kampus masih menjadi masalah yang sering kita lihat di Indonesia. Pemberitaan berkaitan dengan hal ini hampir selalu ada setiap tahun dan terkadang bukan hanya sekali saja. Mengapa kekerasan terus berlangsung seperti rantai yang tidak bisa putus?
Kekerasan dan Agresivitas
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang yang melakukan perbuatan kekerasan dapat bertindak dengan agresi, sementara orang dengan sifat agresif tidak akan selalu terlibat dalam tindak kekerasan. Meskipun agresi dapat mengakibatkan serangan fisik atau verbal, kadang-kadang serangan mungkin bersifat defensif atau impulsif dan tidak membahayakan. Kekerasan dapat berkembang dari faktor situasional atau lingkungan dan mungkin akibat dari kondisi mental atau dari keyakinan pribadi atau budaya.
Meskipun sulit untuk mengidentifikasi semua faktor yang dapat menyebabkan adanya kecenderungan perilaku agresif atau perilaku kekerasan, hal seperti status sosial, masalah pribadi, dan kekuatan institusi mungkin menjadi latar belakangnya.
Kesehatan Mental dan Perilaku Kekerasan/Agresif
Kecenderungan agresif atau kekerasan dapat merupakan hasil dari beberapa kondisi kesehatan mental yang berbeda. Alkohol dan penyalahgunaan narkoba dapat menghasilkan perilaku kekerasan, bahkan pada seseorang tidak biasanya melakukan kekerasan. Stres pasca trauma dan gangguan bipolar juga dapat menyebabkan ekspresi kekerasan dan pikiran agresif. Dalam beberapa kasus, cedera otak menyebabkan seseorang berperilaku dengan kekerasan.
Anak-anak yang dibesarkan di lingkungan traumatik atau terabaikan dapat lebih cenderung untuk menunjukkan agresi dan melakukan kekerasan. Setiap keadaan hidup yang menyebabkan stres, seperti kemiskinan, masalah hubungan, atau penyalahgunaan zat juga dapat berkontribusi untuk agresi dan kekerasan.
Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang agresif atau yang memiliki model peran yang agresif, seperti pelatih dan guru, mungkin juga mulai menunjukkan perilaku agresif . Tindakan bullying secara signifikan terhubung ke kesehatan mental yang bisa menyebabkan depresi dan kecemasan dan mungkin beralih ke obat-obatan atau alkohol atau perilaku adiktif lainnya untuk mengatasi.
Anak-anak yang diganggu oleh saudara dua kali lebih mungkin mengalami depresi atau terlibat dalam tindakan menyakiti diri sebelum dewasa. Selain itu juga dua kali lebih mungkin untuk mengalami kecemasan daripada mereka yang tidak diganggu oleh saudara.
Pelaku Kekerasan dan Kesehatan Mentalnya
Kadang-kadang pelaku kekerasan memiliki masalah kesehatan mental seperti kepribadian narsisistik,
gangguan kepribadian antisosial, atau kepribadian ambang (borderline personality). Pada suatu kondisi kekerasan yang difasilitasi oleh suatu institusi seperti pada jaman dahulu yang tergambar pada acara orientasi kampus atau sekolah maka sering kali tanpa kita sadari terjadi rantai kekerasan.
Peran dari 'role model' senior kepada junior membuat rantai kekerasan ini tidak lepas. Kekerasan terus berlangsung karena hal tersebut diturunkan dari perilaku senior yang agresif dan penuh kekerasan ke junior lewat contoh dan tidak ada upaya untuk menghentikan rantai itu. Itulah mengapa kekerasan akan terus berlangsung selama hal tersebut 'dilestarikan' dari satu orang ke orang lainnya.
Salah satu yang bisa mencegah rantai kekerasan ini terus ada adalah dengan menghentikan kegiatan yang mengandung unsur kekerasan yang dilakukan di suatu institusi atau di lingkungan kita. Putuskan rantai itu dengan tidak lagi menggunakan kekerasan dan perilaku agresif kepada orang lain dalam proses pendidikan atau masa orientasi. Hal ini akan mempermudah bagi kita untuk menghindari berlangsungnya proses kekerasan tersebut.
Stop rantai kekerasan sekarang juga. Salam sehat jiwa!
*) dr Andri,SpKJ,FAPM adalah psikiater Klinik Psikosomatik Omni Hospitals Alam Sutera, penulis dan blogger. (vit/vit)











































