Nyatanya masih banyak aspek kesehatan yang jauh dari harapan. Salah satunya tingginya angka prevalensi perokok dan besarnya kasus penyakit tidak menular di tengah masyarakat.
Tetapi tidak sampai di sini saja. Untuk lebih jelasnya, simak paparan tentang fakta-fakta menarik dari kesehatan khas orang Indonesia, seperti dirangkum detikHealth, Minggu (29/1/2017).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Gangguan tidur
|
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Dari riset yang sama juga didapati fakta bahwa pasien gangguan tidur di Indonesia kebanyakan memiliki berat badan berlebih. OSA juga banyak ditemukan pada pasien gangguan jantung (60 persen) dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Henti napas saat tidur pada pasien OSA biasanya ditandai dengan dengkuran atau ngorok akibat sumbatan atau penyempitan saluran napas. Akibatnya aliran oksigen berkurang dan mengganggu berbagai fungsi organ yang ada di dalam tubuh.
"Mendengkur dan berkurangnya flow oksigen sebesar 4 persen akan mengganggu organ yang membutuhkan banyak oksigen, seperti jantung dan paru-paru," kata peneliti Dr dr Budhi Antariksa, SpP(K).
Ini belum termasuk risiko kecelakaan dan penurunan produktivitas akibat kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk.
Baca juga: Riset RSP Persahabatan: Sopir Gemuk Rentan Kecelakaan Akibat Microsleep
2. Gaya hidup rentan neuropati
|
Foto: Gettyimages
|
Gaya hidup yang dimaksud di antaranya menggunakan gadget dalam waktu lama, melakukan gerakan berulang seperti mengetik di laptop, mengendarai motor serta memakai high heels.
Survei ini juga menemukan, ketika seseorang merasakan kesemutan atau baal (gejala utama neuropati), mereka memilih tidak segera mengecek kondisinya ke dokter tetapi lebih memilih setop beraktivitas dan membiarkannya, atau memakai balsem sehingga rasa panas bisa menutupi baal dan kesemutan yang dirasa, lalu melakukan relaksasi berupa pemijatan. Padahal ini tidak dibenarkan.
Baca juga: Survei: 50 Persen Orang Indonesia Punya Gaya Hidup Berisiko Neuropati
3. Tidak sadar terserang penyakit tidak menular
|
Foto: iStock
|
"Hanya 1/3 menyadari bahwa mereka menderita PTM, sedangkan 2/3 selebihnya tidak mengetahui," ujar Menteri Kesehatan Nila F Moeloek seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.
Nila mencontohkan untuk penyakit jantung koroner, prevalensi penyakit berdasarkan diagnosis dan gejalanya mencapai 1,5 persen. Namun berdasarkan diagnosis hanya sebanyak 0,5 persen dan berdasarkan gejala tetapi tidak terdiagnosis justru sebanyak 1 persen. Hal serupa juga ditemukan pada kasus hipertensi, diabetes mellitus, obesitas dan kanker.
Baca juga: Duh! Masih Banyak Orang yang Tidak Sadar Terkena Penyakit Tidak Menular
4. Usia harapan hidup meningkat
|
Foto: thinkstock
|
Saat ini usia harapan hidup orang Indonesia meningkat dari 68,6 tahun di 2004 menjadi 70,8 tahun di 2015. "Pada tahun 2035 diperkirakan meningkat lagi menjadi 72,2 tahun," ungkap Sekjen Kemenkes RI, drg Untung Suseno Sutarjo, MKes.
Berdasarkan sensus penduduk di tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 18,7 juta jiwa. Angka ini diperkirakan membengkak menjadi 36 juta jiwa di tahun 2025.
Baca juga: Usia Harapan Hidup di Indonesia Meningkat, Jumlah Lansia Makin Banyak
Halaman 2 dari 5











































