Fakta-fakta Seputar Kesehatan Orang Indonesia di 2016 (1)

Fakta-fakta Seputar Kesehatan Orang Indonesia di 2016 (1)

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 29 Jan 2017 11:11 WIB
Fakta-fakta Seputar Kesehatan Orang Indonesia di 2016 (1)
Foto: Thinkstock
Jakarta - Sepanjang tahun 2016, ada beberapa fakta menarik yang terungkap tentang kesehatan orang Indonesia. Informasi ini setidaknya bisa memberikan pandangan tentang bagaimana orang Indonesia menyikapi kesehatannya sendiri.

Nyatanya masih banyak aspek kesehatan yang jauh dari harapan. Salah satunya tingginya angka prevalensi perokok dan besarnya kasus penyakit tidak menular di tengah masyarakat.

Tetapi tidak sampai di sini saja. Untuk lebih jelasnya, simak paparan tentang fakta-fakta menarik dari kesehatan khas orang Indonesia, seperti dirangkum detikHealth, Minggu (29/1/2017).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Fakta-fakta Penting tentang Kesehatan Anak Indonesia Sepanjang 2016

1. Gangguan tidur

Foto: ilustrasi/thinkstock
Tak banyak disadari jika orang Indonesia banyak yang mengidap gangguan tidur. Dari hasil riset yang dilakukan RS Paru Persahabatan terungkap, salah satu gangguan tidur yang cukup banyak ditemukan adalah obstructive sleep apnea (OSA).

Dari riset yang sama juga didapati fakta bahwa pasien gangguan tidur di Indonesia kebanyakan memiliki berat badan berlebih. OSA juga banyak ditemukan pada pasien gangguan jantung (60 persen) dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Henti napas saat tidur pada pasien OSA biasanya ditandai dengan dengkuran atau ngorok akibat sumbatan atau penyempitan saluran napas. Akibatnya aliran oksigen berkurang dan mengganggu berbagai fungsi organ yang ada di dalam tubuh.

"Mendengkur dan berkurangnya flow oksigen sebesar 4 persen akan mengganggu organ yang membutuhkan banyak oksigen, seperti jantung dan paru-paru," kata peneliti Dr dr Budhi Antariksa, SpP(K).

Ini belum termasuk risiko kecelakaan dan penurunan produktivitas akibat kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk.

Baca juga: Riset RSP Persahabatan: Sopir Gemuk Rentan Kecelakaan Akibat Microsleep

2. Gaya hidup rentan neuropati

Foto: Gettyimages
Tanpa disadari lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia memiliki gaya hidup yang membuat mereka berisiko neuropati (kerusakan pada saraf tepi). Hal ini diungkap dalam laporan Survei Gejala Neuropati tahun 2014 yang dilakukan PERDOSSI atau perkumpulan dokter ahli saraf di Indonesia.

Gaya hidup yang dimaksud di antaranya menggunakan gadget dalam waktu lama, melakukan gerakan berulang seperti mengetik di laptop, mengendarai motor serta memakai high heels.

Survei ini juga menemukan, ketika seseorang merasakan kesemutan atau baal (gejala utama neuropati), mereka memilih tidak segera mengecek kondisinya ke dokter tetapi lebih memilih setop beraktivitas dan membiarkannya, atau memakai balsem sehingga rasa panas bisa menutupi baal dan kesemutan yang dirasa, lalu melakukan relaksasi berupa pemijatan. Padahal ini tidak dibenarkan.

Baca juga: Survei: 50 Persen Orang Indonesia Punya Gaya Hidup Berisiko Neuropati

3. Tidak sadar terserang penyakit tidak menular

Foto: iStock
Banyak orang Indonesia yang terserang penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan kanker. Di satu sisi, gejalanya tidak disadari tetapi di sisi lain, gaya hidup mereka sangat mendukung untuk terjadinya penyakit tak menular.

"Hanya 1/3 menyadari bahwa mereka menderita PTM, sedangkan 2/3 selebihnya tidak mengetahui," ujar Menteri Kesehatan Nila F Moeloek seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Nila mencontohkan untuk penyakit jantung koroner, prevalensi penyakit berdasarkan diagnosis dan gejalanya mencapai 1,5 persen. Namun berdasarkan diagnosis hanya sebanyak 0,5 persen dan berdasarkan gejala tetapi tidak terdiagnosis justru sebanyak 1 persen. Hal serupa juga ditemukan pada kasus hipertensi, diabetes mellitus, obesitas dan kanker.

Baca juga: Duh! Masih Banyak Orang yang Tidak Sadar Terkena Penyakit Tidak Menular

4. Usia harapan hidup meningkat

Foto: thinkstock
Kementerian Kesehatan mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah lansia terbesar di dunia, akibat dari peningkatan kualitas dan standar pelayanan kesehatan di masyarakat.

Saat ini usia harapan hidup orang Indonesia meningkat dari 68,6 tahun di 2004 menjadi 70,8 tahun di 2015. "Pada tahun 2035 diperkirakan meningkat lagi menjadi 72,2 tahun," ungkap Sekjen Kemenkes RI, drg Untung Suseno Sutarjo, MKes.

Berdasarkan sensus penduduk di tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 18,7 juta jiwa. Angka ini diperkirakan membengkak menjadi 36 juta jiwa di tahun 2025.

Baca juga: Usia Harapan Hidup di Indonesia Meningkat, Jumlah Lansia Makin Banyak

Halaman 2 dari 5
Tak banyak disadari jika orang Indonesia banyak yang mengidap gangguan tidur. Dari hasil riset yang dilakukan RS Paru Persahabatan terungkap, salah satu gangguan tidur yang cukup banyak ditemukan adalah obstructive sleep apnea (OSA).

Dari riset yang sama juga didapati fakta bahwa pasien gangguan tidur di Indonesia kebanyakan memiliki berat badan berlebih. OSA juga banyak ditemukan pada pasien gangguan jantung (60 persen) dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Henti napas saat tidur pada pasien OSA biasanya ditandai dengan dengkuran atau ngorok akibat sumbatan atau penyempitan saluran napas. Akibatnya aliran oksigen berkurang dan mengganggu berbagai fungsi organ yang ada di dalam tubuh.

"Mendengkur dan berkurangnya flow oksigen sebesar 4 persen akan mengganggu organ yang membutuhkan banyak oksigen, seperti jantung dan paru-paru," kata peneliti Dr dr Budhi Antariksa, SpP(K).

Ini belum termasuk risiko kecelakaan dan penurunan produktivitas akibat kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk.

Baca juga: Riset RSP Persahabatan: Sopir Gemuk Rentan Kecelakaan Akibat Microsleep

Tanpa disadari lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia memiliki gaya hidup yang membuat mereka berisiko neuropati (kerusakan pada saraf tepi). Hal ini diungkap dalam laporan Survei Gejala Neuropati tahun 2014 yang dilakukan PERDOSSI atau perkumpulan dokter ahli saraf di Indonesia.

Gaya hidup yang dimaksud di antaranya menggunakan gadget dalam waktu lama, melakukan gerakan berulang seperti mengetik di laptop, mengendarai motor serta memakai high heels.

Survei ini juga menemukan, ketika seseorang merasakan kesemutan atau baal (gejala utama neuropati), mereka memilih tidak segera mengecek kondisinya ke dokter tetapi lebih memilih setop beraktivitas dan membiarkannya, atau memakai balsem sehingga rasa panas bisa menutupi baal dan kesemutan yang dirasa, lalu melakukan relaksasi berupa pemijatan. Padahal ini tidak dibenarkan.

Baca juga: Survei: 50 Persen Orang Indonesia Punya Gaya Hidup Berisiko Neuropati

Banyak orang Indonesia yang terserang penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan kanker. Di satu sisi, gejalanya tidak disadari tetapi di sisi lain, gaya hidup mereka sangat mendukung untuk terjadinya penyakit tak menular.

"Hanya 1/3 menyadari bahwa mereka menderita PTM, sedangkan 2/3 selebihnya tidak mengetahui," ujar Menteri Kesehatan Nila F Moeloek seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Nila mencontohkan untuk penyakit jantung koroner, prevalensi penyakit berdasarkan diagnosis dan gejalanya mencapai 1,5 persen. Namun berdasarkan diagnosis hanya sebanyak 0,5 persen dan berdasarkan gejala tetapi tidak terdiagnosis justru sebanyak 1 persen. Hal serupa juga ditemukan pada kasus hipertensi, diabetes mellitus, obesitas dan kanker.

Baca juga: Duh! Masih Banyak Orang yang Tidak Sadar Terkena Penyakit Tidak Menular

Kementerian Kesehatan mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah lansia terbesar di dunia, akibat dari peningkatan kualitas dan standar pelayanan kesehatan di masyarakat.

Saat ini usia harapan hidup orang Indonesia meningkat dari 68,6 tahun di 2004 menjadi 70,8 tahun di 2015. "Pada tahun 2035 diperkirakan meningkat lagi menjadi 72,2 tahun," ungkap Sekjen Kemenkes RI, drg Untung Suseno Sutarjo, MKes.

Berdasarkan sensus penduduk di tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 18,7 juta jiwa. Angka ini diperkirakan membengkak menjadi 36 juta jiwa di tahun 2025.

Baca juga: Usia Harapan Hidup di Indonesia Meningkat, Jumlah Lansia Makin Banyak

(lll/vit)

Berita Terkait