Jason Cone, Direktur Eksekutif Medecins Sans Frontieres (MSF) Amerika Serikat mengatakan pelarangan pengungsi muslim dari Suriah, Somalia, Sudan, Iran, Irak, Yaman dan Libya masuk ke Amerika Serikat membuat mereka terjebak di zona perang. Hal ini tentu saja mengancam nyawa mereka, termasuk orang tua dan anak-anak yang tidak terlibat peperangan.
Baca juga: Saat Survivor Kanker Anak Sampaikan Pesannya untuk Donald Trump
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cone menambahkan bahwa menolak masuknya pengungsi merupakan pelanggaran terhadap konstitusi negara Amerika Serikat sendiri yang menyebut semua orang berhak mencari suaka untuk menyelamatkan dirinya.
Data UNHCR menyebut sekitar 4,9 juta pengungsi dari Suriah melarikan diri ke negara tetangga, sekitar 1 jutanya mencari suaka di Eropa, dan 6 juta lainnya masih terjebak di negara mereka. Hal yang sama juga terjadi pada pengungsi dari Yaman, Libya dan Irak.
Kebijakan melarang masuknya pengungsi muslin ini diprotes oleh banyak pihak. Tokoh masyarakat, selebriti, hingga pejuang kemanusian sudah melakukan protes di kota-kota besar Amerika Serikat untuk menuntut pencabutan larangan ini.
Bukan hanya soal kebijakan imigrasi saja yang menuai kritik. Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, Robert F Kennedy Jr, seorang aktivis anti-vaksin dipercaya akan menjadi pemimpin komisi yang melakukan studi terhadap keamanan vaksin.
Kabar datang setelah calon sekretaris Gedung Putih Sean Spicer mengkonfirmasi bahwa Trump dan Kennedy Jr berdiskusi tentang vaksin dan imunisasi. Pada tahun 2015 lalu ia menarik perhatian massa karena mendeskripsikan anak-anak yang terluka setelah divaksin sebagai korban holocaust.
"Tugas komisi adalah memastikan bahwa kita memiliki integritas ilmiah dalam proses keamanan dan efikasi vaksin," ungkap Kennedy.
Baca juga: Donald Trump Jadi Presiden, Banyak Wanita AS Khawatir Tak Dapat KB
(mrs/up)











































