Seperti yang dialami istri Indra Bekti, Adilla Jelita. Ia dikabarkan mengalami infeksi saluran kemih. Baik Dilla dan Bekti pastinya sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengatasi infeksi yang terjadi. Namun, Tuhan berkata lain. Sang anak yang diberi nama Kenward Athar Indrabekti meninggal setelah ia lahir di usia kandungan 5 bulan.
Terkait ISK dengan risiko keguguran atau lahir prematur, dr Sita Ayu Arumi SpOG dari RS Bunda Jakarta mengatakan intinya semua infeksi berpengaruh pada kehamilan, tidak hanya ISK saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan dr Sita, ketika ibu hamil mengalami ISK maka terjadi inflamasi. Jika cukup berat, bisa menyebar ke intrauterine. Kemudian, zat-zat reaksi radang memicu terjadinya kontraksi dan pelunakan leher rahim yang juga bisa membuat leher rahim terbuka. Sehingga, terjadilah kelahiran prematur.
dr Sita mengatakan usia kehamilan 5 bulan merupakan batas antara abortus dan prematur. Jika berat badan bayi di bawah 500 gram maka termasuk keguguran (abortus). Namun, jika berat bayi di atas 500 gram, itu termasuk dalam kehamilan prematur.
"Di usia 5 bulan, itu masuk tahap yang sangat immature. Sehingga ketika dilahirkan, si bayi memang belum bisa survive," kata dokter yang juga praktik di RSPAD Gatot Soebroto ini.
Baca juga: Kena Endometriosis, Risiko Keguguran dan Komplikasi Kehamilan Lebih Tinggi
Saluran kemih sendiri posisinya bersebelahan dengan vagina. Nah, menurut dr Sita, biasanya ketika ada ISK, ibu pun mengalami keputihan. Bisa jadi ini karena infeksi di saluran kencing menyebar ke saluran reproduksi atau sebaliknya, awalnya ibu hamil mengalami keputihan yang kemudian infeksinya menyebar ke saluran kencing.
"Jadi memang harus ditelusuri lagi awalnya memang ISK murni, dari keputihan, atau dari ISK kemudian menyebar ke vagina sehingga terjadi keputihan dan pada akhirnya menimbulkan peradangan pada mulut rahim," kata dr Sita.
Infeksi yang makin parah dan menyebar ke dalam kandungan, bisa membuat cairan ketuban terinfeksi. Sehingga, cairan ketuban tak lagi sehat dan normal. Nah, dalam istilah awam kerap disebut dengan istilah 'air ketuban terminum oleh bayi'.
"Istilah awamnya memang keminum air ketubannya. Tapi, secara fisiologis (saat di kandungan) bayi memang minum air ketuban, tapi itu kan air ketuban yang sehat dan nomal. Nah, yang dimaksud di sini ketika infeksinya menyebar ke intrauterine, memang bisa cairan ketuban yang sudah terinfeksi tadi terminum oleh bayi," tutur dr Sita.
Baca juga: Terpaksa Melahirkan Prematur, Haruskah Ibu Jalani Operasi Caesar?
Simak juga penuturan Indra Bekti di video ini:
(rdn/up)











































