Ian Clarke dari WHO mengatakan virus Zika menyerang lebih dari 60 negara dan sebagian besar di antaranya berada di Amerika Selatan. Karena itu kewaspadaan tidak boleh diturunkan meski laporan terbaru menyebut adanya penurunan kasus infeksi baru selama tahun 2017.
"Prevalensinya memang menurun, terutama di benua Amerika. Namun kami belum bisa memastikan penyebabnya, sehingga semua orang masih harus tetap waspada," tutur Clarke, dikutip dari Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Clarke mengatakan berdasarkan hasil analisa pakar WHO, akan ada gelombang kedua infeksi Zika di negara-negara Amerika Selatan. Hal ini berdasarkan surveilans yang dilakukan WHO terhadap faktor-faktor yang memengaruhi risiko infeksi seperti nyamuk, cuaca, lingkungan dan kewaspadaan masyarakat.
"Kami mengantisipasi adanya wabah Zika di tempat yang sebelumnya tidak ada seperti yang terjadi di Singapura contohnya. Dan negara-negara lain yang memiliki vektor (nyamuk Aedes aegypti) seperti di Afrika dan Asia harus tetap waspada," tambahnya.
Selain melakukan surveilans, WHO juga melanjutkan penelitian soal vaksin dan kekebalan alami. Memang hingga kini vaksin Zika masih berada dalam tahap penelitian, namun beberapa di antaranya memiliki hasil yang cukup baik.
Dr Bernadette Murgue dari bagian vaksinasi WHO mengatakan ada 40 kandidat vaksin untuk Zika. Lima di antaranya sudah memasuki fase 1 penelitian yakni uji klinis keamanan dan keampuhannya.
"Hasil awal positif. Namun butuh waktu 2 hingga 3 tahun sampai vaksin ini bisa diregistrasikan dan diedarkan secara luas," tandasnya.
Baca juga: Studi: Virus Zika Bisa Bertahan di Otak Janin Bahkan Setelah Dilahirkan (mrs/up)











































