Rabu, 08 Feb 2017 17:01 WIB

Menghadapi Rasa Duka Saat Pasangan Meninggal Dunia

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Suami atau istri umumnya adalah orang yang pertama dilihat saat bangun tidur dan orang yang terakhir dilihat saat akan tidur. Tak heran ada duka dan kehilangan besar saat pasangan meninggal.

Seperti yang dirasakan mantan pesepakbola Rio Ferdinand. Saat istrinya meninggal 2015 lalu karena kanker payudara, ada kesedihan yang dia rasakan. Apalagi melihat ketiga anaknya yang kehilangan ibu. Sementara sang istri, Rebecca Ellison, meninggal di usia yang relatif masih muda: 34 tahun.

Namun begitu, Ferdinand mengaku dirinya tidak memberi waktu khusus bagi dirinya sendiri untuk berduka. "Saya tidak memberi waktu bagi diri saya sendiri untuk duduk dan menghapus segalanya," ucap mantan Kapten Tim Sepakbola Inggris itu, dikutip dari BBC.

Bagi Ferdinand, istrinya telah meninggalkan jutaan kenangan indah sebelu meninggal. "Dia adalah seorang ibu yang penuh kasih dan fantastis bagi ketiga anak kami yang menawan. Dia akan tetap menjadi istri, adik, bibi, anak perempuan maupun cucu. Dia akan hidup dalam ingatan kita, sebagai panutan dan inspirasi," tutur mantan punggawa Manchester United ini.

Pria lainnya, Stephen Short, juga memiliki pengalaman serupa. Istrinya meninggal karena kanker payudara di usia 43 tahun. Selama tiga bulan, Stephen mendampingi pengobatan istrinya. Kemudian ketika sang istri dinyatakan meninggal, dia segera mengurus berbagai hal terkait pemakaman.

Baca juga: Ketika Ditinggal Orang yang Dicintai Berujung Kematian

Kesibukan membuat dirinya seolah tidak punya waktu untuk merenung sesaat dan menguatkan diri. Namun untunglah pria yang tinggal di Berlin ini mendapatkan terapi yang membantunya kembali tegak berdiri dan mendapatkan energi positif. Karena itu dia pun menyarankan bagi mereka yang kehilangan pasangan jangan takut untuk mencari bantuan melewati saat yang berat.

"Jangan mencoba melakukan semuanya sendiri," saran Stephen.

Perasaan berat ditinggal pasangan juga dialami Paul Graves, ketika perempuan yang sudah 20 tahun menjadi teman hidupnya meninggal. Meski mereka tidak memiliki anak dan sang istri meninggal di usia yang tak lagi muda, namun tetap saja kesedihan mendalam itu hadir.

Begitu istrinya dimakamkan, Paul lantas menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dia tidak mau membiarkan dirinya sendirian di rumah. Simpati dari banyak teman memang didapat, namun ternyata hal itu membuatnya jadi lebih sedih. Meski simpati yang diberikan merupakan hal yang baik, namun nyatanya bagi Paul itu malah terasa menyakitkan. Apalagi baginya kehilangan orang dan berduka merupakan suatu hal yang berbeda.

Dr Shelley Gilbert MBE, pendiri dan Presiden Grief Encounter, dikutip dari BBC, memberikan beberapa tips bagi orang tua yang kehilangan pasangan:

Baca juga: Pasutri 'The Fault in Our Stars' di Dunia Nyata Meninggal, Hanya Selang 5 Hari

1. Jangan hindari membicarakan topik kematian dengan anak-anak. Sebaliknya buatlah suasana yang bisa membuat anak-anak bisa menanyakan sesuatu, utamanya terkait dengan kematian ayah atau ibunya.
2. Jujurlah. Ketika anak bertanya, orang tua perlu menjawab dengan jujur. Ini penting karena anak-anak memahami sesuatu secara harfiah.
3. Ketimbang berbohong pada anak, ada baiknya orang tua memilih kalimat: ayah atau ibu tidak bisa mengatakan sekarang, tapi suatu hari nanti pasti akan aku jelaskan.
4. Anak-anak tetaplah manusia yang punya perasaan. Jika keadaan emosional dan psikologisnya terganggu karena berkabung, cobalah untuk menerima. Bagaimanapun, mereka butuh waktu untuk bangkit kembali dari duka.
5. Menyadari hal-hal yang tidak lagi sama dan berpotensi mengubah keadaan. Misalnya ketika pasangan meninggal, keadaan finansial keluarga menjadi pincang. Dalam situasi itu, berilah pengertian pada anak apa yang membuat berbeda dan apa yang bisa dilakukan untuk membiayai hidup.


(vit/up)
News Feed