Munculnya berita yang beragam, hadirnya media sosial, serta aplikasi-aplikasi obrolan di telepon pintar seolah menjadi alat pengantar informasi kepada pengguna setiap saatnya.
Hal yang paling sering adalah pesan berantai atau dikenal dengan broadcast (BC). Alhasil isu yang diterima sudah tak terfilter lagi, hingga akhirnya para penikmat teknologi dan informasi pun semakin sulit membedakan mana kabar benar dan mana kabar hoax. Salah satunya adalah 'pesan kesehatan'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang dialami sendiri oleh konsultan nutrisi dan juga personal trainer, Jansen Ongko Msc, RD, sebelum menjadi ahli nutrisi Jansen pernah punya pengalaman buruk dengan hoax kesehatan. Saat remaja, dirinya bermasalah dengan bobot tubuh alias mengalami obesitas.
"Saya dulu obesitas waktu remaja karena memang nggak terlalu merhatiin kesehatan juga. Saya coba diet ini, diet ini, coba obat pelangsing tapi cuma alami naik turun berat badan," aku Jansen beberapa waktu lalu.
Terkait itu, detikHealth mengundang para pembaca untuk mengikuti polling yang digelar lewat Twitter, untuk sekedar mencari tahu bagaimana aksi pembaca ketika mendapat broadcast kesehatan yang masih belum jelas kebenarannya. Sekitar 58 persen pembaca memilih untuk mencari tahu kebenarannya, seperti yang dilakukan wanita yang bekerja di perusahaan swasta ini. "Googling dulu bener apa nggak beritanya atau nggak nanya temen," ucap Nenden.
Lalu sekitar 39 persen pembaca memilih untuk mengabaikan isu ini alias tidak meneruskannya ke orang lain. Seperti yang dipilih oleh pria usia 28 tahun, Yusrizal. "Baca doang, nggak harus dipercaya," kata Yusrizal. Dan sisanya 3 persen dipilih pembaca untuk dibagikan kembali ke orang lain.
Foto: Twitter Polling |
"Langsung tanya daripada harus ke kiri ke kanan, katanya-katanya. Kalau nggak bisa menelepon, lewat email itu juga ada," pungkas dr Lily.
Hal yang serupa disampaikan juga oleh dr Andri, SpKJ, pakar kesehatan jiwa dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh broadcast hoax. Ia mengimbau, sebelum menyebarkan pesan yang masuk melalui pesan pribadi ataupun media sosial, ada baiknya mengecek kebenarannya terlebih dahulu.
Baca juga: 5 Kabar Hoax Soal Anak-anak yang Sempat Hebohkan Dunia Maya
(hrn/vit)












































Foto: Twitter Polling