Hindari 7 Hal Ini Agar Sembelit Tak Makin Parah

Hindari 7 Hal Ini Agar Sembelit Tak Makin Parah

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 17 Feb 2017 14:36 WIB
Hindari 7 Hal Ini Agar Sembelit Tak Makin Parah
Foto: thinkstock
Jakarta - Sembelit alias susah buang air besar bisa bikin seseorang tak nyaman. Begah, perut terasa penuh pun bisa terjadi ketika sembelit menyerang.

"Sembelit yang parah tidak hanya bisa membuat tidak nyaman, tapi ini bisa memicu tersumbatnya kolon (obstipasi) yang nantinya membutuhkan tindakan invasif ketimbang hanya pencahar," kata Lee Ann Chen, MD, ahli gastroenterologi di NYU Langone Medical Centre.

Nah, agar sembelit tak makin parah, ada beberapa hal yang mesti dihindari. Apa saja?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Ingin Lancar BAB? Dokter Bedah Beberkan Rahasianya di Video Ini

1. Konsumsi makanan olahan

Foto: iStock
Toyia James-Stevenson MD, ahli gastroenterologi di Indiana University Health mengatakan makanan olahan mengandung fruktan yang cukup tinggi. Fruktan yang merupakan sejenis karbohidrat ini sulit dicerna. Fruktan juga berkaitan dengan keluhan kembung, konstipasi, dan diare.

"Ketimbang mengonsumsi makanan dengan fruktan cukup tinggi seperti roti, pasta, dan biskuit. Saat sembelit konsumsilah lebih banyak serat. Misalnya sayur, buah, kacang-kacangan, beras merah, oats, dan gandum. Usahakan konsumsi 25 sampai 30 gram serat per hari," tutur Theodore Sy, MD, ahli gastroenterologi di Saddleback Memorial Medical Center, Laguna Hills, California.

2. Minum alkohol atau minuman berkafein

Foto: thinkstock
"Konsumsi alkohol atau minuman berkafein bisa menyebabkan Anda buang air kecil lebih sering. Di mana ini bisa memicu dehidrasi dan justru memperparah gejala konstipasi," kata Bhavesh Shah, MD, medical director of interventional gastroenterology di Memorial Medical Center, Long Beach.

Pada beberapa orang, konsumsi kafein juga justru bisa memicu diare. Sehingga, Shah menyarankan untuk lebih banyak mengonsumsi air putih, terutama ketika sembelit untuk tetap memastikan terpenuhinya kebutuhan cairan tubuh.

3. Konsumsi produk susu

Foto: iStock
Pada beberapa orang, konsumsi produk susu saat sembelit malah bisa memicu perut kembung. Gejala ini dikatakan Toyia terjadi karena kurangnya enzim laktase di saluran pencernaan untuk memecah laktosa di produk susu menjadi gula sederhana agar bisa terserap ke usus kecil.

"Nah, produk susu mengandung laktosa yang tinggi, termasuk susu sapi, es krim, krim, dan keju. Tapi, tidak semua produk susu bisa memicu kondisi ini. Sehingga, Anda bisa memilih produk susu dengan kandungan laktosa yang lebih rendah," kata Toyia.

4. Tidak berolahraga

Foto: ilustrasi/thinkstock
Toyia mengatakan jarang beraktivitas fisik menjadi salah satu faktor utama sembelit. Sebab, ini terkait dengan berkurangnya gerakan di sistem pencernaan dan rendahnya aliran darah ke sistem pencernaan. Sehingga, Toyia menekankan stop beraktivitas fisik saat sembelit tidak akan memperbaiki situasi.

"Olahraga menambah aliran darah ke organ vital di seluruh tubuh, termasuk sistem pencernaan dan meningkatkan metabolisme. Berbagai tipe olahraga yang bisa membantu mengatasi sembelit di antaranya jalan kaki, lari, bersepeda, renang, dan yoga. Anda tinggal memilihnya," kata Shah.

5. Konsumsi suplemen zat besi dan kalsium

Foto: thinkstock
Konsumsi suplemen zat besi dan kalsium sembarangan bisa memicu sembelit. Sebab, kedua suplemen itu bisa memperlambat kontraksi sistem pencernaan, demikian disampaikan ahli gastroenterologi di Montefiore Medical Center, New York, Joann Kwah, MD.

Kadang, konstipasi bisa menjadi efek samping dari konsumsi dua jenis suplemen ini. Sehingga, pencahar bisa dikonsumsi untuk mengimbangi efek samping ini, tapi tetap harus di bawah pengawasan dokter ya.

6. Konsumsi obat antinyeri

Foto: Getty Images
"Beberapa jenis obat bisa menyebabkan konstipasi. Misalnya anti nyeri NSAID seperti ibuprofen dan naproxen. Jika Anda mengonsumsi obat antinyeri tiap hari dan mulai mengalami sembelit, coba hentikan konsumsi obat tersebut dan berkonsultasilah dengan dokter Anda," kata Toyia.

7. Terlalu banyak konsumsi pencahar

Foto: thinkstock
Konsumsi pencahar berlebihan dan sembarangan bisa membuat usus kehilangan kemampuannya melakukan kontraksi. Sehingga, usus terbiasa dirangsang oleh pencahar untuk mengeluarkan kotoran.

Toyia mengatakan selain sembelit, efek samping terlalu banyak konsumsi pencahar di antaranya kejang, ketidakseimbangan elektrolit, aritmia jantung, dan nyeri otot. Nah, Toyia menyarankan jangan gunakan obat pencahar tanpa pengawasan dokter lebih dari satu atau dua minggu.

"Di atas waktu tersebut, konsultasikan dengan dokter Anda berapa dosis pencahar yang mesti dikonsumsi," ujar Toyia.
Halaman 2 dari 8
Toyia James-Stevenson MD, ahli gastroenterologi di Indiana University Health mengatakan makanan olahan mengandung fruktan yang cukup tinggi. Fruktan yang merupakan sejenis karbohidrat ini sulit dicerna. Fruktan juga berkaitan dengan keluhan kembung, konstipasi, dan diare.

"Ketimbang mengonsumsi makanan dengan fruktan cukup tinggi seperti roti, pasta, dan biskuit. Saat sembelit konsumsilah lebih banyak serat. Misalnya sayur, buah, kacang-kacangan, beras merah, oats, dan gandum. Usahakan konsumsi 25 sampai 30 gram serat per hari," tutur Theodore Sy, MD, ahli gastroenterologi di Saddleback Memorial Medical Center, Laguna Hills, California.

"Konsumsi alkohol atau minuman berkafein bisa menyebabkan Anda buang air kecil lebih sering. Di mana ini bisa memicu dehidrasi dan justru memperparah gejala konstipasi," kata Bhavesh Shah, MD, medical director of interventional gastroenterology di Memorial Medical Center, Long Beach.

Pada beberapa orang, konsumsi kafein juga justru bisa memicu diare. Sehingga, Shah menyarankan untuk lebih banyak mengonsumsi air putih, terutama ketika sembelit untuk tetap memastikan terpenuhinya kebutuhan cairan tubuh.

Pada beberapa orang, konsumsi produk susu saat sembelit malah bisa memicu perut kembung. Gejala ini dikatakan Toyia terjadi karena kurangnya enzim laktase di saluran pencernaan untuk memecah laktosa di produk susu menjadi gula sederhana agar bisa terserap ke usus kecil.

"Nah, produk susu mengandung laktosa yang tinggi, termasuk susu sapi, es krim, krim, dan keju. Tapi, tidak semua produk susu bisa memicu kondisi ini. Sehingga, Anda bisa memilih produk susu dengan kandungan laktosa yang lebih rendah," kata Toyia.

Toyia mengatakan jarang beraktivitas fisik menjadi salah satu faktor utama sembelit. Sebab, ini terkait dengan berkurangnya gerakan di sistem pencernaan dan rendahnya aliran darah ke sistem pencernaan. Sehingga, Toyia menekankan stop beraktivitas fisik saat sembelit tidak akan memperbaiki situasi.

"Olahraga menambah aliran darah ke organ vital di seluruh tubuh, termasuk sistem pencernaan dan meningkatkan metabolisme. Berbagai tipe olahraga yang bisa membantu mengatasi sembelit di antaranya jalan kaki, lari, bersepeda, renang, dan yoga. Anda tinggal memilihnya," kata Shah.

Konsumsi suplemen zat besi dan kalsium sembarangan bisa memicu sembelit. Sebab, kedua suplemen itu bisa memperlambat kontraksi sistem pencernaan, demikian disampaikan ahli gastroenterologi di Montefiore Medical Center, New York, Joann Kwah, MD.

Kadang, konstipasi bisa menjadi efek samping dari konsumsi dua jenis suplemen ini. Sehingga, pencahar bisa dikonsumsi untuk mengimbangi efek samping ini, tapi tetap harus di bawah pengawasan dokter ya.

"Beberapa jenis obat bisa menyebabkan konstipasi. Misalnya anti nyeri NSAID seperti ibuprofen dan naproxen. Jika Anda mengonsumsi obat antinyeri tiap hari dan mulai mengalami sembelit, coba hentikan konsumsi obat tersebut dan berkonsultasilah dengan dokter Anda," kata Toyia.

Konsumsi pencahar berlebihan dan sembarangan bisa membuat usus kehilangan kemampuannya melakukan kontraksi. Sehingga, usus terbiasa dirangsang oleh pencahar untuk mengeluarkan kotoran.

Toyia mengatakan selain sembelit, efek samping terlalu banyak konsumsi pencahar di antaranya kejang, ketidakseimbangan elektrolit, aritmia jantung, dan nyeri otot. Nah, Toyia menyarankan jangan gunakan obat pencahar tanpa pengawasan dokter lebih dari satu atau dua minggu.

"Di atas waktu tersebut, konsultasikan dengan dokter Anda berapa dosis pencahar yang mesti dikonsumsi," ujar Toyia.

(rdn/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads