Selasa, 21 Feb 2017 15:39 WIB

Ingin Sehat? Pola Hidup Seperti Ini Tak Bisa Ditawar

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: iStock
Surabaya - 10-20 Tahun yang lalu, penyakit seperti diabetes, asam urat, stroke dan Alzheimer mungkin jarang sekali terdengar. Tetapi dewasa ini, kondisi-kondisi tersebut begitu lumrah ditemui hingga tak ada yang kaget lagi bila ada orang yang mengalaminya.

Prof Dr Mangestuti Agil, MS, Apt, dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga mencontohkan insidensi stroke yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. Dulunya, banyak dari kita yang terkejut bila mendengar ada orang yang terkena serangan stroke.

"Atau diabet (diabetes, red). Orang bahkan makin pinter sekarang. Yang kena diabet gak berpikir gimana menghindari diabet, tapi cari obat supaya gulanya bisa turun tapi bisa tetep makan enak," paparnya.

Hal yang sama juga berlaku untuk penyakit autoimun. Menurut Prof Manges, penyakit autoimun atau penyakit di mana 'tentara' atau sel-sel tubuh yang bertugas melindungi tubuh dari penyakit justru menyerang dirinya sendiri, dulunya tergolong langka.

Akan tetapi belakangan makin banyak kasus penyakit autoimun yang ditemukan dan jenisnya juga sangat beragam, hingga tim medis sendiri tak tahu bagaimana cara mengobatinya.

Baca juga: Kata Dokter Soal Kaitan Konsumsi Makanan Instan dan Risiko Kanker

Meski demikian, penyakit-penyakit ini bukannya tidak bisa dicegah. Prof Manges mengatakan, kuncinya ada pada pola atau gaya hidup.

"Pola hidup itu apa? Jadi nutrisi, olahraga, istirahat," tegasnya dalam Herbal Talks yang digelar di Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya, Selasa (21/2/2017).

Untuk nutrisi, Prof Manges mengambil contoh konsumsi sayuran. Sayuran telah lama terbukti mampu meningkatkan kesehatan karena kandungan vitamin, mineral dan seratnya. "Walaupun belum dipastikan, data juga menunjukkan kanker usus itu penyebabnya karena kurang serat," imbuhnya.

Pentingnya nutrisi juga terlihat ketika seseorang baru pulih dari sakit misalkan. Yang bersangkutan belum tentu sembuh total, apalagi jika nutrisinya tidak terjaga.

"Trennya sekarang kan penyakit lama yang kemudian kambuh menjadi penyakit lain. Saya tidak menakut-nakuti tetapi ini kenyataannya," tuturnya.

Guru Besar Ilmu Botani Farmasi Farmakognosi itu menambahkan, sedangkan untuk istirahat yang optimal adalah tidur selama 6-7 jam. "Ini nggak bisa ditawar dan nggak bisa misal kurang tidur lalu nanti Sabtu tak bayar, nggak bisa," lanjutnya.

Yang tak kalah penting adalah mengelola stres. Prof Manges menyadari bahwa tak ada yang bisa menghindari stres, akan tetapi itu bukan berarti stres tidak bisa dikendalikan atau dikelola.

Baca juga: Tiga Prinsip Gaya Hidup Sehat Ala Kementerian Kesehatan (lll/vit)