I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada Harapan

Cinemathoscope

I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada Harapan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 26 Feb 2017 16:26 WIB
I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada Harapan
Foto: YouTube
Jakarta - Mia adalah anak semata wayang dari Raja dan Madina, pasangan musisi dan penulis teater. Ketiganya hidup bahagia, seolah-olah tak ada yang akan bisa merenggut kebahagiaan itu dari mereka.

Namun kebahagiaan itu akhirnya terenggut juga oleh kabar bahwa Madina terdiagnosis kanker. Kondisi ini juga berdampak pada Raja dan Mia. Raja pun kehilangan inspirasinya dan tak lagi bisa menulis lagu.

Demi pengobatan sang istri, Raja juga terpaksa kehilangan banyak hal, termasuk rumah keluarga mereka. Meski demikian, Raja dan Mia merasa masih punya mimpi. Kini di rumah mereka yang sederhana, keduanya berusaha untuk survive dan kembali merajut mimpi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Mia terus saja batuk. Hal ini tak pelak membuat sang ayah khawatir lalu memintanya untuk memeriksakan diri.

Di ruang dokter, Mia sempat ditanya apakah ia merokok atau tidak. Betapa terkejutnya Mia dengan jawaban dokter berikutnya, karena meski tidak merokok, dokter menemukan ada beberapa hal yang dicurigai sebagai sel tumor aktif di paru-parunya.

Mia hanya bisa tertegun mendengarnya sembari memegangi gelang pemberian sang ibu. Saat itu sayup terdengar suara sang ibu yang mengatakan, "Setiap kamu takut, kamu harus melihat gelang ini. Karena ia akan mengingatkan, dimana ada keberanian, disitu ada harapan."

Karena itu pulalah Mia memutuskan mampir ke makam sang ibu sepulang dari rumah sakit. Mia sengaja tak pulang cepat agar ia tak perlu memberitahukan kabar buruk itu kepada sang ayah.

Tetapi begitu sampai di rumah, ia justru mendapati tulisan 'happy birthday' menggantung di dinding lengkap dengan sebuah kue ulang tahun di atas meja. Tak berapa lama sang ayah keluar menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dengan memetik gitar. Ternyata hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Mia yang ke-23.

Secara kebetulan, Raja membawa kabar gembira bahwa naskah teater bikinan Mia akan dipentaskan. Rasanya kabar itu melengkapi kebahagiaan Raja di hari ulang tahun putri tercintanya tersebut.

Tetapi Mia justru tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ini terlihat saat Raja mengajaknya bernyanyi tapi gadis cantik itu hanya diam saja dan memberikan tatapan kosong kepada sang ayah. Akankah Mia tega memberitahunya?

1. Kabar mengejutkan

Foto: YouTube

Raja menyadari jika ada yang salah dengan Mia. Ditanya demikian, Mia pun tak sanggup berbohong atau menutupinya lagi. Keluar juga kabar buruk yang sedari tadi disimpannya rapat-rapat. Mendengar hal itu, sang ayah menangis histeris sembari memeluk Mia.

Raja dan Mia lantas menemui dokter untuk mendapatkan penjelasan lebih lengkap. Mia didiagnosis dengan kanker paru stadium tiga. Kanker paru Mia tergolong sebagai NSCLC, tidak begitu ganas tetapi karena stadiumnya sudah lanjut maka Mia harus segera menjalani pengobatan.

Tetapi Mia tak mau muluk-muluk. Secara terang-terangan ia mengatakan kepada kedua dokternya bahwa ia memiliki proyek pertunjukan teater yang diperkirakan akan berjalan kurang lebih selama satu tahun.

"Apakah itu cukup?" tanyanya. Namun alih-alih memberikan jawaban yang diinginkannya, dokter hanya mengatakan bahwa Mia harus memprioritaskan pengobatannya terlebih dahulu. Raja kemudian membatalkan keterlibatan putrinya dalam pertunjukan tersebut, dan ini mau tak mau membuat Mia makin kecewa.

Kepada teman imajinernya, Maia, Mia sempat mengatakan tak bisa menjalani kemoterapi karena khawatir hanya menyia-nyiakan waktunya yang konon tinggal 8 bulan lagi.

Berkat bujukan Maia, Mia akhirnya berkenan untuk menjalani kemoterapi, dan mulai merasakan sejumlah efek samping dari prosedur tersebut, di antaranya muntah-muntah.

Keadaan itu membuat emosi Mia menjadi tak karuan. Ia merasa waktu 8 bulan terlalu pendek untuk dirinya, apalagi di usianya yang masih muda, ia belum melihat dunia sepenuhnya. Maia pun dengan sabar mendengarkan segala curhatan Mia, tetapi hal itu tidak memuaskan hati Mia.

"Lo nggak ngrasain karena lo nggak sakit!" teriak Mia kepada Maia. Meski hanya teman imajiner, Maia ternyata cukup tersinggung lalu menampar Mia. Ia kemudian menjawab, "Kalo lo berasa mau mati, lo nggak akan buang-buang waktumu!"

Tak pelak, hal ini 'menampar' kesadaran Mia. Hari berikutnya, Mia langsung menyibukkan diri dengan menulis sebuah naskah teater. Begitu rampung, Mia memberanikan diri untuk memberikannya langsung ke sutradara teater yang sedang naik daun, Rama Sastra. Tetapi Mia hanya bisa menitipkan naskah itu kepada asistennya.

Sembari menunggu, Mia dan Maia menonton monolog seorang aktor pertunjukan bernama David Kameswara. Selepas pentas, Maia mendorongnya untuk berkenalan dengan David. Siapa sangka, justru David yang tertarik pada Mia dan memberanikan diri meminta nomor telepon gadis itu.

Mia sempat tidak menanggapi obrolan David karena memilih fokus pada kemoterapinya. Namun diam-diam Maia mengambil alih ponsel Mia dan menerima ajakan kencan David. Mia pun mau tak mau menuruti hal itu. Dari situ keduanya malah menjadi dekat, apalagi karena sama-sama menyukai dunia teater.

David semakin tertarik pada Mia setelah mendengar gadis ini bisa menulis naskah pertunjukan, bahkan memberanikan diri menawarkan naskah tersebut ke studio milik Rama Sastra. Namun sayangnya naskah Mia tak kunjung mendapat respons. David lantas memutuskan untuk mendatangi studio Rama dan nekat 'memaksanya' membaca naskah Mia. Begitu berhasil, Mia semakin jatuh cinta pada David.

I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada HarapanFoto: YouTube

2. Mimpi terwujud

Foto: YouTube

Siapa sangka berkat kenekatan David, Rama menyatakan ketertarikannya pada naskah Mia. Bahkan Rama langsung mengiyakan ketika Mia menawarkan ayahnya sebagai penata musik.

Namun ketika kabar ini disampaikan kepada sang ayah, Raja awalnya agak keberatan karena yang ia inginkan hanyalah Mia fokud pada pengobatannya. Mia lantas meyakinkan kepada ayahnya bahwa ia bisa melakukan keduanya dan inilah yang bisa menyembuhkannya.

Dimulailah aktivitas Mia sebagai sutradara teater. Saking sibuknya Mia, Raja sampai bicara empat mata dengan David dan berpesan agar Mia tak kecapekan. Di situ David baru tahu jika gadis yang dicintainya tengah sakit keras. DI sisi lain, kondisi Mia juga tak kunjung membaik. Ia tetap muntah darah, bahkan sesak napas lebih sering dari biasanya.

Memasuki bulan ke-5 pengobatan, Mia tetap saja beraktivitas seolah tak kenal lelah. Ia bahkan sampai hampir bertengkar dengan sang ayah karena ayahnya menganggap Mia mengabaikan keadaannya.

Benar saja, pada suatu hari, di tengah rehearsal, Mia tiba-tiba ambruk begitu saja dan dilarikan ke rumah sakit. Menurut dokter, kondisi Mia memang menurun karena kecapekan mengurus teater. Meski begitu Mia bertekad agar pertunjukkan tidak dibatalkan.

Begitu bisa keluar dari rumah sakit, Mia langsung menyibukkan diri dengan urusan teater. Melihat itu, David yang sempat dimarahi oleh ayah Mia karena seolah membiarkan putrinya beraktivitas, lama-lama jengah dan menegur Mia.

David makin marah karena Mia tak pernah mengatakan appaun soal kondisinya. Keduanya pun bertengkar hebat dan David kemudian mengundurkan diri dari produksi.

Dalam rehearsal untuk kesekian kali, Mia akhirnya terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah. Ia pun menanyakan hal itu kepada dokter. Rupanya itu karena kanker di paru-paru kanan Mia makin berkembang tetapi kondisinya masih akan terus dipantau, sehingga Mia hanya disarankan tetap melanjutkan kemoterapi.

Lama-lama rambut Mia mulai rontok dan benar-benar habis di bulan ke-7. Kondisinya juga makin terlihat lemah hingga kemana-mana ia harus didampingi sang ayah. Lantas Mia mau tak mau harus menjalani opname tetapi tekadnya untuk menyelesaikan pertunjukan semakin besar, sehingga sang ayah dihadapkan pada dilema.

Di bulan ke-8, dokter mengabarkan bahwa prosedur kemoterapi yang dijalani Mia berjalan dengan baik. Sayangnya kankernya telah menjalar sampai ke tulang belakangnya sehingga membutuhkan operasi. Hal ini juga harus dilakukan untuk mencegah kelumpuhan.

I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada HarapanFoto: YouTube

3. Mia bertahan

Foto: YouTube
Raja lagi-lagi dihadapkan pada titik terendah dalam hidupnya. Setelah pernah mengantar sang istri menuju saat-saat terakhirnya, kini giliran putrinya. Sebelum masuk ruang operasi, tak lupa Mia menitipkan gelang dari ibunya kepada sang ayah. Saat itulah Raja meyakinkan jika Mia bisa melaluinya.

Sembari menunggu, Raja pulang ke rumah dan menemukan amplop berisi flashdisk. Dalam flashdisk itu tersimpan video Mia berbicara kepada sang ayah. Ia mengucapkan terima kasih kepada ayahnya atas segala hal. Ia juga sempat mengutarakan mimpinya, bahwa bila saja umurnya pendek, maka ia ingin hidup di teater.

Operasi berjalan lancar. Rama juga ikut menjenguk ke rumah sakit dan memastikan tak ada yang bisa menggantikan Mia menjadi sutradara proyeknya. Akhirnya sang ayah mengerti dan mengantar Mia ke teater sekeluarnya dari rumah sakit. Begitu juga David yang setia mendampinginya, dan akhirnya sepakat untuk kembali terlibat dalam produksi tersebut.

I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada HarapanFoto: YouTube



Bisa menjalani mimpinya, semangat Mia pun kembali lagi. Ia akhirnya dinyatakan sembuh, dan terlibat langsung dalam persiapan hingga hari pementasan tiba. Pertunjukan Mia juga menuai sukses besar.

Semenjak kesembuhannya, Mia juga aktif berbicara dalam berbagai pertemuan pasien dan penyintas kanker. Ia kemudian terinspirasi untuk memulai gerakan bertajuk I Am Hope untuk memberikan dukungan kepada para pasien kanker.

"Gimana elu tahu bisa sampai di titik ini?" tanya Maia suatu ketika. Mia pun menjawab dengan mantap, "Gua nggak pernah tahu, tapi gua selalu percaya."

Salah satu faktor risiko terbesar dari kanker adalah genetik alias keturunan. Namun jenis kanker yang diidap si anak memang belum tentu sama dengan sang ibu. Di samping itu tidak semua pengidap kanker paru adalah perokok. Tak hanya Mia, di keluarganya pun tak ada yang merokok, tetapi toh ia tetap terserang kanker paru.

dr Elisna Syahruddin, PhD, SpP(K) dari RSUP Persahabatan pernah menjelaskan, kanker paru memang tidak memiliki gejala yang khas. "Tapi kalau sudah ada keluhannya batuk, sesak napas, nyeri dada, baiknya segera cek ke dokter," katanya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Namun yang dimaksud dr Elisna bukanlah batuk biasa, melainkan batuk yang sudah terjadi lebih dari dua minggu. Biasanya diikuti dengan nyeri pada dada di mana dada terasa lebih nyeri saat seseorang menarik napasnya.

Terkait sesak napas, dikatakan dr Elisna itu tergantung seberapa banyak paru-paru mengalami kerusakan. Jika sudah banyak cairan sehingga satu paru penuh, sudah pasti orang yang bersangkutan akan mengalami sesak napas.

Tumor yang sudah besar atau tumor yang kecil tapi menyumbat saluran napas pun juga bisa membuat sesak napas. "Pokoknya kalau merasakan gejala itu segeralah cek, untuk memastikan itu gejala kanker atau bukan. Bisa jadi itu karena penyakit lain. Tapi, kalau ternyata sudah kanker ya ditangani," pesannya.

Halaman 2 dari 4
Raja menyadari jika ada yang salah dengan Mia. Ditanya demikian, Mia pun tak sanggup berbohong atau menutupinya lagi. Keluar juga kabar buruk yang sedari tadi disimpannya rapat-rapat. Mendengar hal itu, sang ayah menangis histeris sembari memeluk Mia.

Raja dan Mia lantas menemui dokter untuk mendapatkan penjelasan lebih lengkap. Mia didiagnosis dengan kanker paru stadium tiga. Kanker paru Mia tergolong sebagai NSCLC, tidak begitu ganas tetapi karena stadiumnya sudah lanjut maka Mia harus segera menjalani pengobatan.

Tetapi Mia tak mau muluk-muluk. Secara terang-terangan ia mengatakan kepada kedua dokternya bahwa ia memiliki proyek pertunjukan teater yang diperkirakan akan berjalan kurang lebih selama satu tahun.

"Apakah itu cukup?" tanyanya. Namun alih-alih memberikan jawaban yang diinginkannya, dokter hanya mengatakan bahwa Mia harus memprioritaskan pengobatannya terlebih dahulu. Raja kemudian membatalkan keterlibatan putrinya dalam pertunjukan tersebut, dan ini mau tak mau membuat Mia makin kecewa.

Kepada teman imajinernya, Maia, Mia sempat mengatakan tak bisa menjalani kemoterapi karena khawatir hanya menyia-nyiakan waktunya yang konon tinggal 8 bulan lagi.

Berkat bujukan Maia, Mia akhirnya berkenan untuk menjalani kemoterapi, dan mulai merasakan sejumlah efek samping dari prosedur tersebut, di antaranya muntah-muntah.

Keadaan itu membuat emosi Mia menjadi tak karuan. Ia merasa waktu 8 bulan terlalu pendek untuk dirinya, apalagi di usianya yang masih muda, ia belum melihat dunia sepenuhnya. Maia pun dengan sabar mendengarkan segala curhatan Mia, tetapi hal itu tidak memuaskan hati Mia.

"Lo nggak ngrasain karena lo nggak sakit!" teriak Mia kepada Maia. Meski hanya teman imajiner, Maia ternyata cukup tersinggung lalu menampar Mia. Ia kemudian menjawab, "Kalo lo berasa mau mati, lo nggak akan buang-buang waktumu!"

Tak pelak, hal ini 'menampar' kesadaran Mia. Hari berikutnya, Mia langsung menyibukkan diri dengan menulis sebuah naskah teater. Begitu rampung, Mia memberanikan diri untuk memberikannya langsung ke sutradara teater yang sedang naik daun, Rama Sastra. Tetapi Mia hanya bisa menitipkan naskah itu kepada asistennya.

Sembari menunggu, Mia dan Maia menonton monolog seorang aktor pertunjukan bernama David Kameswara. Selepas pentas, Maia mendorongnya untuk berkenalan dengan David. Siapa sangka, justru David yang tertarik pada Mia dan memberanikan diri meminta nomor telepon gadis itu.

Mia sempat tidak menanggapi obrolan David karena memilih fokus pada kemoterapinya. Namun diam-diam Maia mengambil alih ponsel Mia dan menerima ajakan kencan David. Mia pun mau tak mau menuruti hal itu. Dari situ keduanya malah menjadi dekat, apalagi karena sama-sama menyukai dunia teater.

David semakin tertarik pada Mia setelah mendengar gadis ini bisa menulis naskah pertunjukan, bahkan memberanikan diri menawarkan naskah tersebut ke studio milik Rama Sastra. Namun sayangnya naskah Mia tak kunjung mendapat respons. David lantas memutuskan untuk mendatangi studio Rama dan nekat 'memaksanya' membaca naskah Mia. Begitu berhasil, Mia semakin jatuh cinta pada David.

I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada HarapanFoto: YouTube

Siapa sangka berkat kenekatan David, Rama menyatakan ketertarikannya pada naskah Mia. Bahkan Rama langsung mengiyakan ketika Mia menawarkan ayahnya sebagai penata musik.

Namun ketika kabar ini disampaikan kepada sang ayah, Raja awalnya agak keberatan karena yang ia inginkan hanyalah Mia fokud pada pengobatannya. Mia lantas meyakinkan kepada ayahnya bahwa ia bisa melakukan keduanya dan inilah yang bisa menyembuhkannya.

Dimulailah aktivitas Mia sebagai sutradara teater. Saking sibuknya Mia, Raja sampai bicara empat mata dengan David dan berpesan agar Mia tak kecapekan. Di situ David baru tahu jika gadis yang dicintainya tengah sakit keras. DI sisi lain, kondisi Mia juga tak kunjung membaik. Ia tetap muntah darah, bahkan sesak napas lebih sering dari biasanya.

Memasuki bulan ke-5 pengobatan, Mia tetap saja beraktivitas seolah tak kenal lelah. Ia bahkan sampai hampir bertengkar dengan sang ayah karena ayahnya menganggap Mia mengabaikan keadaannya.

Benar saja, pada suatu hari, di tengah rehearsal, Mia tiba-tiba ambruk begitu saja dan dilarikan ke rumah sakit. Menurut dokter, kondisi Mia memang menurun karena kecapekan mengurus teater. Meski begitu Mia bertekad agar pertunjukkan tidak dibatalkan.

Begitu bisa keluar dari rumah sakit, Mia langsung menyibukkan diri dengan urusan teater. Melihat itu, David yang sempat dimarahi oleh ayah Mia karena seolah membiarkan putrinya beraktivitas, lama-lama jengah dan menegur Mia.

David makin marah karena Mia tak pernah mengatakan appaun soal kondisinya. Keduanya pun bertengkar hebat dan David kemudian mengundurkan diri dari produksi.

Dalam rehearsal untuk kesekian kali, Mia akhirnya terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah. Ia pun menanyakan hal itu kepada dokter. Rupanya itu karena kanker di paru-paru kanan Mia makin berkembang tetapi kondisinya masih akan terus dipantau, sehingga Mia hanya disarankan tetap melanjutkan kemoterapi.

Lama-lama rambut Mia mulai rontok dan benar-benar habis di bulan ke-7. Kondisinya juga makin terlihat lemah hingga kemana-mana ia harus didampingi sang ayah. Lantas Mia mau tak mau harus menjalani opname tetapi tekadnya untuk menyelesaikan pertunjukan semakin besar, sehingga sang ayah dihadapkan pada dilema.

Di bulan ke-8, dokter mengabarkan bahwa prosedur kemoterapi yang dijalani Mia berjalan dengan baik. Sayangnya kankernya telah menjalar sampai ke tulang belakangnya sehingga membutuhkan operasi. Hal ini juga harus dilakukan untuk mencegah kelumpuhan.

I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada HarapanFoto: YouTube

Raja lagi-lagi dihadapkan pada titik terendah dalam hidupnya. Setelah pernah mengantar sang istri menuju saat-saat terakhirnya, kini giliran putrinya. Sebelum masuk ruang operasi, tak lupa Mia menitipkan gelang dari ibunya kepada sang ayah. Saat itulah Raja meyakinkan jika Mia bisa melaluinya.

Sembari menunggu, Raja pulang ke rumah dan menemukan amplop berisi flashdisk. Dalam flashdisk itu tersimpan video Mia berbicara kepada sang ayah. Ia mengucapkan terima kasih kepada ayahnya atas segala hal. Ia juga sempat mengutarakan mimpinya, bahwa bila saja umurnya pendek, maka ia ingin hidup di teater.

Operasi berjalan lancar. Rama juga ikut menjenguk ke rumah sakit dan memastikan tak ada yang bisa menggantikan Mia menjadi sutradara proyeknya. Akhirnya sang ayah mengerti dan mengantar Mia ke teater sekeluarnya dari rumah sakit. Begitu juga David yang setia mendampinginya, dan akhirnya sepakat untuk kembali terlibat dalam produksi tersebut.

I Am Hope: Sembuh dari Kanker Berkat Percaya pada HarapanFoto: YouTube



Bisa menjalani mimpinya, semangat Mia pun kembali lagi. Ia akhirnya dinyatakan sembuh, dan terlibat langsung dalam persiapan hingga hari pementasan tiba. Pertunjukan Mia juga menuai sukses besar.

Semenjak kesembuhannya, Mia juga aktif berbicara dalam berbagai pertemuan pasien dan penyintas kanker. Ia kemudian terinspirasi untuk memulai gerakan bertajuk I Am Hope untuk memberikan dukungan kepada para pasien kanker.

"Gimana elu tahu bisa sampai di titik ini?" tanya Maia suatu ketika. Mia pun menjawab dengan mantap, "Gua nggak pernah tahu, tapi gua selalu percaya."

Salah satu faktor risiko terbesar dari kanker adalah genetik alias keturunan. Namun jenis kanker yang diidap si anak memang belum tentu sama dengan sang ibu. Di samping itu tidak semua pengidap kanker paru adalah perokok. Tak hanya Mia, di keluarganya pun tak ada yang merokok, tetapi toh ia tetap terserang kanker paru.

dr Elisna Syahruddin, PhD, SpP(K) dari RSUP Persahabatan pernah menjelaskan, kanker paru memang tidak memiliki gejala yang khas. "Tapi kalau sudah ada keluhannya batuk, sesak napas, nyeri dada, baiknya segera cek ke dokter," katanya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Namun yang dimaksud dr Elisna bukanlah batuk biasa, melainkan batuk yang sudah terjadi lebih dari dua minggu. Biasanya diikuti dengan nyeri pada dada di mana dada terasa lebih nyeri saat seseorang menarik napasnya.

Terkait sesak napas, dikatakan dr Elisna itu tergantung seberapa banyak paru-paru mengalami kerusakan. Jika sudah banyak cairan sehingga satu paru penuh, sudah pasti orang yang bersangkutan akan mengalami sesak napas.

Tumor yang sudah besar atau tumor yang kecil tapi menyumbat saluran napas pun juga bisa membuat sesak napas. "Pokoknya kalau merasakan gejala itu segeralah cek, untuk memastikan itu gejala kanker atau bukan. Bisa jadi itu karena penyakit lain. Tapi, kalau ternyata sudah kanker ya ditangani," pesannya.

(lll/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads