Senin, 27 Feb 2017 10:34 WIB

Mitos atau Fakta?

Masak Mi Instan dan Bumbu Bersamaan Bisa Picu Kanker?

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Baru-baru ini kembali beredar informasi di media sosial tentang konsumsi mi instan. Dikatakan bahwa memasak mi instan bersamaan dengan bumbunya bisa memicu kanker. Mitos atau fakta?

Berikut informasi tersebut:
Hati-hati, bumbu mi instan tidak boleh dimasak! Peringatan bagi kita semua bahwa mi instan tidak boleh dimasak bersamaan dengan bumbunya, karena MSG (monosodium glutamat) jika dimasak di atas suhu 120 derajat celcius akan berpotensi menjadi karsinogen alias pencetus kanker. Perhatikan semua kemasan mi instan kebanyakan prosedurnya masak mi dulu baru ditaburi bumbu, jadi bumbu ditaruh di mangkuk dulu. Jangan pernah masak mi beserta bumbunya, bahaya! Tolong dapat diteruskan ke orang-orang yang suka makan mi.

Menanggapi informasi ini, pakar nutrisi Jansen Ongko, MSc, RD menyebutkan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Dikatakan MSG jika dimasak di atas suhu 120 derajat celcius akan berpotensi menjadi karsinogen alias pencetus kanker, padahal titik didih air hanya 100 derajat celsius, sehingga tidak mungkin memasak mi pada suhu 120 derajat celcius. Kecuali menggunakan minyak yang titik didihnya mencapai 200 derajat celcius.

MSG sendiri dikatakan oleh Jansen adalah garam natrium dari asam amino berupa asam glutamat, yang merupakan salah satu asam amino yang paling banyak di alam. Glutamat merupakan asam amino non-esensial yang secara alami terdapat pada tubuh manusia. Selain itu, glutamat juga ditemukan pada hampir semua makanan.

Baca juga: Kata Dokter Soal Kaitan Konsumsi Makanan Instan dan Risiko Kanker

Glutamat berfungsi sebagai neurotransmitter atau penghubung informasi ke jaringan otak sehingga dapat menggerakkan sel-sel saraf untuk menyampaikan sinyal. Beberapa peneliti berpendapat bahwa MSG menyebabkan kadar glutamat berlebihan pada otak, sehingga mengakibatkan stimulasi yang berlebihan juga dari sel-sel saraf. Inilah yang memicu ketakutan masyarakat terhadap MSG.

"Peningkatan aktivitas glutamat pada otak memang dapat menyebabkan kerusakan otak. Konsumsi MSG dosis tinggi dapat meningkatkan kadar glutamat mencapai 556 persen. Namun konsumsi glutamat pada makanan tidak memengaruhi kerusakan otak pada manusia, karena glutamat pada makanan tidak dapat melintasi penghalang yang terdapat pada otak sehingga aktivitas glutamat tidak meningkat," imbuh Jansen kepada detikHealth.

Menurut Jansen, konsumsi MSG dengan dosis tepat dan tidak berlebihan tidak akan bertindak sebagai excitoksin yang menyebabkan kerusakan otak. MSG yang dipanaskan dipercaya dapat menghasilkan Glu-P-1 dan Glu-P-2 yang bersifat mutagenik dan karsinogenik.

Padahal ketika tubuh mendapatkan asupan glutamat, jika ada proses pirolisis yang menghasilkan Glu-P-1 dan Glu-P-2, tentunya bukan berasal dari MSG saja, tetapi bisa juga dari glutamat yang berasal dari makanan secara alami.

Glu-1-P dan Glu-2-P memang merupakan senyawa karsinogen yang merupakan produk pirolisis dari glutamat. Tapi sebenarnya bukan glutamat saja yang bisa menghasilkan produk pyrolysis yang bersifat karsinogen, tetapi juga asam amino lainnya, seperti tryptophan dan lysine.

"Sejauh ini belum banyak informasi yang ilmiah mengenai hal ini. Namun mengenai proses pyrolisis adalah bahwa proses pyrolisis MSG (kalau terjadi) itu memerlukan suhu yang cukup tinggi, kondisi kering/tanpa air, dan juga dipengaruhi oleh lamanya terpapar pada suhu tinggi (pemanggangan, pembakaran, penggorengan). Makin tinggi suhu dan makin lama proses pemanasan, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya produk pirolisis. Dan itu tidak hanya berlaku bagi glutamat, tapi juga asam amino lainnya, bahkan karbohidrat," ujarnya.

Baca juga: Mi Instan Bisa Picu Kanker Usus, Benar Nggak Sih?


(ajg/vit)