"Kita kembangkan aplikasi entry, juga real time online system. Sehingga pasien bisa tahu nanti ke poli jam berapa, informasi ketersediaan kamar rawat inap seperti apa," ujar Direktur Pelayanan BPJS Kesehatan, dr Maya Amiamy R., M. Kes, AAK dalam peringatan Hari Bipolar Sedunia di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (4/3/2017).
Karena semua orang ingin berobat, alhasil antrean pun begitu panjang. "Ada sandal juga yang ikut antre lho. Dengan ini, bisa mengurai antreannya. Kami harapkan rumah sakit juga bekerja sama, sehingga BPJS tidak kerja sendiri," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata dr Maya, beberapa rumah sakit di Jakarta seperti RSUD Koja, RSUD Pasar Minggu dan RSUD Budi Asih telah menjadi pilot project mengurai masalah antrean. Diharapkan bisa dilakukan juga di rumah sakit lainnya dalam waktu dekat.
"Kami berharap ada info board yang dipasang, bisa dilihat bersama terkait ketersediaan kamar rawat inap. Kan sering dengar tuh keluhan kamar rawat yang katanya penuh, tapi ternyata ada yang kosong, ternyata yang kosong misalnya untuk dewasa. Kalau infonya dipampang kan jelas," sambung dr Maya.
Terkait pasien bipolar, menurut dr Maya, pengobatannya bisa ditanggung BPJS Kesehatan. Akan tetapi tantangannya adalah kemampuan untuk mendeteksi awal gangguan ini di faskes tingkat pertama. Selain itu awareness di tengah masyarakat pun masih kurang.
"Kalau memang yakin tanda-tanya, sebaiknya didiskusikan dengan dokter di faskes di tingkat pertama agar bisa dirujuk. Awareness tentang bipolar sepertinya masih redah, makanya angka rawat jalan dengan BPJS masih sedikit. Tapi yang rawat inap, terkait kesehatan jiwa, cukup banyak," papar dr Maya.
Baca juga: Para Cagub DKI, Ini Saran untuk Atasi Pasien di Jakarta yang Membeludak
(vit/vit)











































