Hal tersebut karena muncul laporan yang menyebut bahwa orang-orang mulai berburu tikus untuk diambil empedunya. Bermula dari studi oleh para peneliti dari Gyeongsang National University yang menyebut bahwa empedu nutria memiliki kandungan ursodeoxycholic acid (UDCA) yang lebih tinggi dari empedu beruang.
UDCA sendiri adalah senyawa yang membuat empedu beruang populer dicari sebagai bahan obat tradisional. Senyawa tersebut diteliti banyak dimanfaatkan untuk gangguan hati dan empedu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Perlu Tahu! Aneka Penyakit pada Manusia yang Disebabkan oleh Tikus
"Kantung empedu dan hati tikus terutama dapat terinfeksi oleh bakteri zoonosis dan parasit," ungkap perwakilan kementerian Noh Hee-kyong seperti dikutip dari BBC, Kamis (16/3/2017).
Satu bakteri berbahaya yang dikhawatirkan bisa menginfeksi adalah Yersinia pestis pemicu penyakit pes. Pada sekitar tahun 1300-an bakteri tersebut menimbulkan wabah yang disebut Black Death dan memakan korban hingga lebih dari 100 juta jiwa.
Terkait hal tersebut Dave Wagner, profesor di Pusat Mikroba Genetika dan Genomics di Northern Arizona University, Amerika, memperingatkan bahwa wabah Black Death yang disebabkan oleh Yersinia pestis itu bisa kembali menyerang di masa depan.
"Kita telah tahu bahwa sepanjang sejarah, bakteri Y. Pestis berpindah dari hewan pengerat ke tubuh manusia. Dan hewan pengerat yang jadi penampung wabah masih ada sampai saat ini di banyak bagian dunia," ungkap Wagner.
Baca juga: Dapat Rapor Merah untuk Penyakit Pes, Dinkes Jateng Keluhkan Penilaian WHO
(fds/up)











































