Diyakini Empedunya Bisa untuk Obat, Tikus Sungai di Korsel Banyak Diburu

Diyakini Empedunya Bisa untuk Obat, Tikus Sungai di Korsel Banyak Diburu

Firdaus Anwar - detikHealth
Kamis, 16 Mar 2017 10:03 WIB
Diyakini Empedunya Bisa untuk Obat, Tikus Sungai di Korsel Banyak Diburu
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Di Korea Selatan (Korsel) terdapat spesies tikus sungai bernama nutria (Myocastor coypus) invasif yang sering diburu untuk diambil kulitnya. Pemerintah setempat memang mendorong pemusnahan tikus tersebut karena dianggap hama namun warga diimbau untuk tidak mengonsumsinya.

Hal tersebut karena muncul laporan yang menyebut bahwa orang-orang mulai berburu tikus untuk diambil empedunya. Bermula dari studi oleh para peneliti dari Gyeongsang National University yang menyebut bahwa empedu nutria memiliki kandungan ursodeoxycholic acid (UDCA) yang lebih tinggi dari empedu beruang.

UDCA sendiri adalah senyawa yang membuat empedu beruang populer dicari sebagai bahan obat tradisional. Senyawa tersebut diteliti banyak dimanfaatkan untuk gangguan hati dan empedu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya saja ada kekhawatiran masyarakat ramai-ramai mengonsumsi empedu tikus sungai liar terpapar bakteri atau parasit berbahaya. Kementerian Lingkungan Hidup Korsel memperingatkan bahwa tikus sungai tak aman untuk dikonsumsi.

Baca juga: Perlu Tahu! Aneka Penyakit pada Manusia yang Disebabkan oleh Tikus

"Kantung empedu dan hati tikus terutama dapat terinfeksi oleh bakteri zoonosis dan parasit," ungkap perwakilan kementerian Noh Hee-kyong seperti dikutip dari BBC, Kamis (16/3/2017).

Satu bakteri berbahaya yang dikhawatirkan bisa menginfeksi adalah Yersinia pestis pemicu penyakit pes. Pada sekitar tahun 1300-an bakteri tersebut menimbulkan wabah yang disebut Black Death dan memakan korban hingga lebih dari 100 juta jiwa.

Terkait hal tersebut Dave Wagner, profesor di Pusat Mikroba Genetika dan Genomics di Northern Arizona University, Amerika, memperingatkan bahwa wabah Black Death yang disebabkan oleh Yersinia pestis itu bisa kembali menyerang di masa depan.

"Kita telah tahu bahwa sepanjang sejarah, bakteri Y. Pestis berpindah dari hewan pengerat ke tubuh manusia. Dan hewan pengerat yang jadi penampung wabah masih ada sampai saat ini di banyak bagian dunia," ungkap Wagner.

Baca juga: Dapat Rapor Merah untuk Penyakit Pes, Dinkes Jateng Keluhkan Penilaian WHO

(fds/up)

Berita Terkait