Meski begitu, dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K) dari RSJ Soeharto Heerdjan beberapa waktu lalu mengatakan, faktor genetik hanya berperan kecil dalam pembentukan risiko skizofrenia pada diri seseorang.
"Tidak ada data pasti, tetapi kalau diambil kasarnya maka kira-kira tidak akan lebih dari 10 persen dari semua faktor risiko yang ada, termasuk pengaruh lingkungan dan pola asuh keluarga," paparnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena stres lingkungan tidak selalu jadi skizofrenia kan. Lain kalau punya bakat gen, ketika ada pemicu gejalanya akan muncul," jelasnya kepada detikHealth saat dihubungi Selasa (22/3/2017).
Hal ini pulalah yang menjadikan sebagian orang dengan skizofrenia tetap bisa hidup normal dalam kurun waktu yang lama. Namun begitu ada pemicu, gejala skizofrenia yang dikhawatirkan tadi bisa saja mengemuka.
"Agak susah untuk melihat yang mana yang berisiko. Karena skizofrenia itu baru keliatan kalau muncul gejalanya. Persoalannya gejalanya selalu muncul di usia-usia produktif, 15-25 tahun," lanjutnya.
Masih ingat dengan kasus Brigadir Petrus di Kalimantan Barat yang tega membunuh serta memutilasi anak-anaknya. Meski diduga mengidap skizofrenia sejak lama, nyatanya Petrus bisa hidup normal, berkeluarga dan menjadi polisi selama bertahun-tahun.
Bahkan saat ujian masuk kepolisian, nilai Petrus dilaporkan tertinggi di angkatannya. Akan tetapi ketika kemudian muncul konflik dalam rumah tangganya, Petrus mulai mengaku mendengar bisikan.
"Petrus cerita kalau dia dikelilingi awan hitam, dan ada sekitar 20 orang pria berbadan tegap yang mengikuti dirinya," imbuh rekan Petrus.
Baca juga: Mengaku Tuhan, Antara Ajaran Sesat dan Penyakit Kejiwaan
Pakar lain juga berpendapat hal yang sama. Adalah dr Iwan Arijanto, SpKJ dari RSUD Ciamis yang mengungkapkan hal ini saat menanggapi banyaknya kasus skizofrenia di Desa Budiasih, Ciamis, Jawa Barat yang viral beberapa waktu lalu.
Kebetulan beberapa kasus skizofrenia di desa tersebut terjadi pada orang-orang yang masih dalam satu keluarga. Salah satunya Tiarsoh (39). Tiarsoh dan kakaknya sama-sama mengidap gangguan jiwa, hanya saja sang kakak sudah meninggal dunia.
Untuk itu belum dapat dipastikan apakah Tiarsoh dan kakaknya sama-sama skizofrenia karena sedarah ataukah faktor lain. "Harus lihat dulu dari penelitian, saat ini belum pernah diteliti," kata dr Iwan.
Akan tetapi belakangan diketahui jika Tiarsoh baru memperlihatkan gejala gangguan jiwa setelah diceraikan oleh suaminya. Sedangkan pada warga lainnya, dr Iwan menilai pencetus utamanya adalah faktor ekonomi. Informasi di lapangan, sebagian besar pengidap skizofrenia di desa tersebut mengalami gejala awal saat pulang dari mencari nafkah di perantauan.
Baca juga: Begini Rasanya Hidup dengan Skizofrenia (lll/up)











































