Hasil survei terbaru yang digelar pemerintah menunjukkan satu dari empat orang Jepang pernah mempertimbangkan untuk melakukan tindak bunuh diri atau sebesar 23,6 persen.
Angka ini sendiri naik sebanyak 0,2 persen dari hasil survei yang dilakukan sebelumnya, yaitu di tahun 2012. Demikian seperti dilaporkan Japan Times.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan usia, orang-orang dengan usia di atas 50 adalah yang paling besar kerentanannya untuk melakukan bunuh diri, dengan persentase mencapai 30,1 persen. Diikuti oleh mereka yang berusia kisaran 30 tahun (28,7 persen), 40-an (24,3 persen), 20-an (23 persen), 60-an (20,2 persen) dan 70-an ke atas (19,1 persen).
Baca juga: Bunuh Diri Karena Beban Kerja Terlalu Berat, Bisakah Terjadi?
Meski demikian, dari survei itu juga terungkap bagaimana orang-orang ini lantas berhasil 'mengentaskan' pikirannya dari keinginan bunuh diri.
36,7 persen responden mengaku mengubahnya dengan menekuni hobi mereka atau mengalihkannya ke pekerjaan; sedangkan 32,1 persen mendasarkan pada dukungan yang diberikan keluarga, teman dan rekan kerja.
Menariknya, walaupun angka bunuh dirinya tinggi, tidak banyak warga Jepang yang tahu jika pemerintah memiliki layanan untuk mencegah percobaan bunuh diri. Tercatat hanya 6,9 persen responden yang mengetahui akan hal ini, dan hanya 5 persen yang tahu ada kampanye tentang pencegahan bunuh diri dari pemerintah.
Setidaknya pemerintah Jepang masih punya harapan, mengingat dari data National Police Academy, jumlah kasus bunuh diri di Negeri Matahari Terbit pada tahun 2016 tercatat hanya 21.764 kasus saja, atau terus mengalami penurunan untuk sejak tujuh tahun lalu.
Secara global, jumlah kasus bunuh diri di Jepang sendiri masih terbilang lebih rendah dibandingkan Korea Selatan. Untuk mencegah warganya nekat bunuh diri, sejumlah upaya ekstrim telah dilakukan pemerintah setempat.
"Di Korea Selatan saja, di mana angka bunuh dirinya tertinggi di Asia, akses internet untuk situs-situs atau artikel tentang cara-cara bunuh diri saja sudah nggak ada," ungkap dr Andri, SpKJ, FAPM dari RS Omni Alam Sutra yang mengaku baru pulang dari Korea Selatan menghadiri konferensi kesehatan jiwa.
Baca juga: Kaitan Depresi dan Bunuh Diri dengan Kepribadian Sehari-hari (lll/up)











































