Jakarta -
Komedian Eko DJ meninggal karena gagal ginjal. Hampir satu tahun terakhir ini Eko menjalani cuci darah. Terkait cuci darah, ada hal-hal yang perlu Anda diketahui.
Dirangkum detikHealth, berikut ini sejumlah hal yang perlu dipahami terkait cuci darah. Yuk disimak bersama.
1. Kenapa Harus Cuci Darah?
Foto: Alat cuci darah/dok. Washington University
|
Cuci darah lazim dijalani oleh mereka yang didiagnosis gagal ginjal. dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU dari RS Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan, menjelaskan gagal ginjal ibaratnya seperti knalpot yang rusak. Akibat knalpot rusak, bahan berbahaya di dalam kendaraan tidak bisa keluar."Karena itu mengeluarkan (racun-racun)-nya dengan cuci darah," terang dr Akbari.
2. Tidak Selalu Harus Dilakukan Seumur Hidup
Foto: Thinkstock
|
Banyak orang masih berpikir jika sekali cuci darah, maka harus dilakukan seumur hidup. Pendapat ini tidak tepat. Karena penyebab gagal ginjal pada masing-masing orang berbeda-beda.Dalam beberapa kasus, gagal ginjal terjadi akibat gangguan di organ lain seperti jantung, hati, maupun usus. Ketika masalah di organ tersebut teratasi hingga pulih, maka biasanya cuci darah hanya dilakukan sekali saja.
"Jadi cuci darah itu tergantung penyebabnya masing-masing. Cuci darah itu untuk membuang racun akibat kegagalan fungsi ginjal, bukan memperbaiki ginjal," imbuhnya.
Baca juga: Fakta Gagal Ginjal, Kondisi yang Dialami Eko DJ Sebelum Meninggal
3. Cuci Darah Itu Menyakitkan?
Foto: Thinkstock
|
Kekhawatiran yang lain soal cuci darah adalah rasa sakit yang dirasakan. Menurut dr Akbari, cuci darah tidak menyakitkan. Bagi mereka yang memang harus cuci darah, absen dari kegiatan ini justru menjadikannya lemas. Ini akibat dari racun yang tidak keluar optimal dari tubuh serta penumpukan cairan berlebihan di tubuh. Bahkan sesak napas sering dikeluhkan."Prosesnya 4-8 jam. Tidak sakit sama sekali. Ada yang melakukannya seminggu dua kali, dan pada beberapa pasien ini membuat lelah karena harus bolak-balik ke rumah sakit," imbuh dr Akbari.
4. Bisakah Cuci Darah Diganti Prosedur Lain?
Foto: Getty Images
|
Mengingat pasien yang harus rutin cuci darah bisa saja merasa lelah dan stres karena harus bolak-baik ke rumah sakit, adakah cara lain untuk mengganti prosedur ini? Menurut dr Akbari, cara yang bisa ditempuh adalah dengan transplantasi ginjal.Namun saat ini terkait donor ginjal, aturannya ketat. Hal ini menyusul kabar jual-beli organ belakangan ini.
"Kebutuhan transplantasi meningkat, namun donor memang kurang. Mungkin solusinya donor bisa dari keluarga, misal dari suami ke istrinya, dari anak ke ibunya, dan seterusnya yang masih ada relasi keluarga," ujar dokter berkacamata ini.
Baca juga: Benarkah Konsumsi Obat dalam Jangka Panjang Picu Gangguan Ginjal?
Cuci darah lazim dijalani oleh mereka yang didiagnosis gagal ginjal. dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU dari RS Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan, menjelaskan gagal ginjal ibaratnya seperti knalpot yang rusak. Akibat knalpot rusak, bahan berbahaya di dalam kendaraan tidak bisa keluar.
"Karena itu mengeluarkan (racun-racun)-nya dengan cuci darah," terang dr Akbari.
Banyak orang masih berpikir jika sekali cuci darah, maka harus dilakukan seumur hidup. Pendapat ini tidak tepat. Karena penyebab gagal ginjal pada masing-masing orang berbeda-beda.
Dalam beberapa kasus, gagal ginjal terjadi akibat gangguan di organ lain seperti jantung, hati, maupun usus. Ketika masalah di organ tersebut teratasi hingga pulih, maka biasanya cuci darah hanya dilakukan sekali saja.
"Jadi cuci darah itu tergantung penyebabnya masing-masing. Cuci darah itu untuk membuang racun akibat kegagalan fungsi ginjal, bukan memperbaiki ginjal," imbuhnya.
Baca juga: Fakta Gagal Ginjal, Kondisi yang Dialami Eko DJ Sebelum Meninggal
Kekhawatiran yang lain soal cuci darah adalah rasa sakit yang dirasakan. Menurut dr Akbari, cuci darah tidak menyakitkan. Bagi mereka yang memang harus cuci darah, absen dari kegiatan ini justru menjadikannya lemas. Ini akibat dari racun yang tidak keluar optimal dari tubuh serta penumpukan cairan berlebihan di tubuh. Bahkan sesak napas sering dikeluhkan.
"Prosesnya 4-8 jam. Tidak sakit sama sekali. Ada yang melakukannya seminggu dua kali, dan pada beberapa pasien ini membuat lelah karena harus bolak-balik ke rumah sakit," imbuh dr Akbari.
Mengingat pasien yang harus rutin cuci darah bisa saja merasa lelah dan stres karena harus bolak-baik ke rumah sakit, adakah cara lain untuk mengganti prosedur ini? Menurut dr Akbari, cara yang bisa ditempuh adalah dengan transplantasi ginjal.
Namun saat ini terkait donor ginjal, aturannya ketat. Hal ini menyusul kabar jual-beli organ belakangan ini.
"Kebutuhan transplantasi meningkat, namun donor memang kurang. Mungkin solusinya donor bisa dari keluarga, misal dari suami ke istrinya, dari anak ke ibunya, dan seterusnya yang masih ada relasi keluarga," ujar dokter berkacamata ini.
Baca juga: Benarkah Konsumsi Obat dalam Jangka Panjang Picu Gangguan Ginjal?
(vit/vit)