Demi Keamanan, Jangan Lupa Ukur Denyut Jantung Maksimal Saat Olahraga

Demi Keamanan, Jangan Lupa Ukur Denyut Jantung Maksimal Saat Olahraga

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 30 Mar 2017 11:32 WIB
Demi Keamanan, Jangan Lupa Ukur Denyut Jantung Maksimal Saat Olahraga
Foto: Thinkstock
Jakarta - Semangat saat berolahraga boleh-boleh saja. Tapi, demi keamanan dan keselamatan saat berolahraga, jangan lupakan pentingnya mengukur denyut jantung maksimal ya.

dr Michael Triangto, SpKO dari Klinik Slim and Health RS Mitra Kemayoran dan Mal Taman Anggrek Jakarta menuturkan denyut jantung maksimal diukur dengan rumus 220 dikurangi usia kemudian dikalikan persen dari intensitas olahraga yang dilakukan. Misalnya pada orang berumur 20 tahun dan melakukan olahraga dengan intensitas 40 sampai 70 persen.

"40 Sampai 70 persen itu zona latihan. Kalau 40 persen, itu 80. Nah kalau 70 persen berarti 140. Berarti yang bersangkutan (usia 20 tahun) bisa berlatih ketika denyut jantungnya antara 80-140 denyutan per menit. Kalau kurang dari 80, mesti diperberat latihannya tapi kalau lebih dari 140, hati-hati, bisa-bisa pingsan," kata dr Michael.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menekankan pengukuran denyut jantung dilakukan demi menjamin keamanan berolahraga. Untuk mengukur denyut jantung, cara sederhananya adalah ukur denyut nadi selama 10 detik kemudian kalikan 6 untuk mendapat denyut jantung per menit. Jika tidak mau repot, ada alat bantu yang bisa digunakan untuk mengukur denyut jantung ini.

Baca juga: Tiga Jenis Olahraga Ini Paling Dianjurkan untuk Menurunkan Berat Badan

"Jadi kalau berpikir yang penting olahraga, asal gerak, asal berkeringat, tanpa hitung denyut jantung, itu salah. Ibaratnya kita naik motor atau mobil nggak ada speedometernya, berani nggak?" tambah dr Michael di sela-sela Konferensi Pers 'Indonesia Bebas Anemia' di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017).

Ketika denyut jantung berlebih dan intensitas olahraga tidak dikurangi, bukan tak mungkin ada risiko kematian tiba-tiba. Atau, dalam tingkat yang lebih rendah mudah sekali terjadi cedera, terkilir, atau nyeri. dr Michael mencontohkan ketika bermain futsal tiba-tiba seseorang meninggal, itu bisa saja disebabkan olahraga yang dilakukan berlebihan dan tidak mengindahkan denyut jantung maksimal.

"Olahraga permainan itu paling nggak pernah terukur (denyut jantung maksimal). Guru saya dulu mengatakan hati-hati kalau nanti main tenis, bertanding, pecah pembuluh darah. Karena apa? kan ngotot. Jadi harusnya kita lebih santai. Kalau begitu kan bukan bertanding. Saat itu kita ketawa. Tapi sekarang saya ngerti, maknanya olahraga untuk prestasi itu bukan untuk kesehatan, bisa membahayakan kesehatan," kata dr Michael.

Ia menambahkan, olahraga yang berat membutuhkan cost yang juga besar. Saat melakukan olahraga berat terlebih ketika dipaksakan, maka akan terjadi peningkatan kehilangan zat besi yang dimungkinkan karena perdarahan pada saluran cerna. Perdarahan di saluran cerna bisa terjadi karena dalam situasi dipaksa memenangkan pertandingan olahraga, seseorang bisa stres dan ini berpengaruh pada sistem pencernaannya.

Baca juga: Berat Badan Tak Kunjung Turun? Coba Olahraga dengan Gaya Merangkak

(rdn/vit)

Berita Terkait