Seorang pasien berusia 48 tahun baru saja dilarikan ke ruang gawat darurat rumah sakit tempatnya bekerja. Sang pasien tidak memiliki rekam medis dan diketahui sedang duduk santai di depan televisi ketika tiba-tiba saja alami sesak dada lalu tersungkur ke lantai.
Dari deskripsi awal diduga sang pasien alami serangan jantung dan dengan sekuat tenaga dr Izaak pun berusaha melakukan resusitasi jantung paru (CPR).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sekolah mereka tidak mengajarkan Anda aspek sensoris CPR pada orang sungguhan. Saya berusaha sebaik mungkin menjaga pasien tetap hidup dengan menekan jantungnya pada tulang belakang. Saya bisa mendengar rusuknya remuk karena tekanan dari tangan saya," ungkap dr Izaak kepada ABC Australia dan dikutip pada Rabu (5/4/2017).
"Saya bisa mendengar tulang-tulang remuk. Saya bisa mencium bau muntahan yang ikut terpompa dari perut ke kerongkongannya," lanjut dr Izaak.
dr Izaak Lim (Foto: ABC Australia) |
Saat itu perawat telah menggunting seluruh pakaian pasien menyisakan celana dalamnya saja. dr Izaak terus melakukan resusitasi tanpa henti meski tubuhnya sudah berkeringat hebat dan kelelahan.
Sampai beberapa menit CPR dilakukan tidak ada perubahan pada kondisi pasien. Seorang konsultan mengusulkan agar dr Izaak menyerah dan mengumumkan waktu kematian.
"'Berhenti? Maksudnya apa? Bagaimana kamu bisa berhenti? Bagaimana kamu bisa menyerah menyelamatkan pria ini? Dia masih muda, dia punya keluarga,'" kenang dr Izaak ketika ia menanggapi usulan sang konsultan.
CPR terus dilakukan hingga pada akhirnya dr Izaak dan seluruh tim yang berjaga sudah tidak mampu lagi meneruskan. Semua menyaksikan layar monitor detak jantung yang tidak menunjukkan apa-apa. Tidak ada lagi degupan jantung sang pasien.
"Konsultan mengumumkan waktu kematian, menutup tubuhnya dengan lembaran kain, dan semua orang kembali bergegas menghadapi kasus berikutnya. Saya sendiri berdiri di luar ruangan. Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan kematian pasien dan butuh waktu," kata dr Izaak.
Tidak lama muncul seorang wanita yang merupakan istri dari pasien. Ia datang menghampiri jenazah sang suami lalu mulai menangis.
"Saya menyaksikannya dibawa ke jenazah sang suami dan mendengarnya menangis. Bukan tangisan histeris dengan nada tinggi, tapi tangisan tersiksa yang memilukan," ujar dr Izaak.
"Saya tidak tahu apa yang saya harapkan di situasi seperti ini apakah seharusnya ada lonceng bel berbunyi atau kita menyempatkan diri berduka dalam sunyi. Saya hanya merasa bahwa momen seperti ini harus diberikan rekognisi. Seorang manusia baru saja wafat," pungkas dr Izaak.
Menurut dr Izaak penting untuk seorang dokter mengapresiasi momen kematian pasien. Karena tanpa itu dokter lama-lama bisa kehilangan sensitivitas emosinya, memberlakukan pasien seperti teknisi memberlakukan barang rusak.
Baca juga: Kisah Pak Dokter yang Ikhlas Dibayar Berapapun oleh Pasien (fds/vit)











































dr Izaak Lim (Foto: ABC Australia)