Sabtu, 08 Apr 2017 06:49 WIB

Parasetamol Bervirus Bikin Ruam dan Lepuh? Jangan Langsung Percaya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Internet
Jakarta - Santer beredar kabar bahwa parasetamol jenis baru, Paracetamol P-500 dapat 'disusupi' virus berbahaya yang disebut virus Machupo. Dalam broadcast itu juga diperlihatkan gambar dua pasien yang diklaim terkena virus Machupo.

Kedua pasien dilaporkan berasal dari Jaipur, India dan memperlihatkan gejala seperti ruam atau luka melepuh di sekujur tubuh. Bahkan pada pasien wanita terlihat wajahnya membengkak.

Menariknya, literatur menyebut virus Machupo sebenarnya memicu penyakit yang sejenis dengan demam berdarah atau malaria, yaitu demam, sakit kepala, kelelahan dan nyeri otot. Artinya, gejala yang terlihat pada foto broadcast dengan gejala virus Machupo yang sebenarnya tidaklah sesuai.

Dilihat dari gejalanya, kedua orang yang diperlihatkan dalam foto broadcast lebih cocok dengan gejala Steven-Johnson Syndrome (SJS).

WebMD menyebutkan, SJS adalah reaksi yang sangat buruk akibat meminum obat tertentu atau sederhananya karena alergi obat. Kemunculannya seringkali tak terduga dan kadang-kadang mematikan.

Pada awalnya, penderita SJS mengalami demam dan seperti akan flu, lalu beberapa hari kemudian muncul gejala SJS yang sebenarnya, di antaranya:

- kulit melepuh seperti habis terbakar dan pada beberapa kasus sampai terkelupas
- luka melepuh di kulit, mulut, hidung dan kemaluan
- mata memerah dan berair disertai rasa sakit

Apa penyebabnya? Disebutkan bahwa ada lebih dari 100 jenis obat yang dapat memicu SJS. Yang paling sering ditemui adalah obat pereda nyeri semisal acetaminophen dan ibuprofen; obat untuk asam urat; dan obat untuk meredakan kejang.

Baca juga: Mengenal Machupo yang Viral karena Broadcast Parasetamol Bervirus

Kendati begitu, SJS tergolong langka. Seseorang baru rentan terserang SJS jika pernah mengalami masalah pada sistem imunnya semisal mengidap HIV; pernah terkena SJS juga sebelumnya; mewarisi gen tertentu dari orang tuanya; dan pada orang-orang yang sedang menjalani pengobatan radiasi.

Beberapa waktu lalu, dr Zakiudin Munasir, SpA(K), Ketua Divisi Alergi dan Imunologi FKUI-RSCM pernah menjelaskan bahwa alergi obat pada anak bisa muncul karena anak sering diberi obat tiap kali jatuh sakit, meski belum tentu membutuhkan.

Ia mencontohkan penggunaan antibiotik yang berlebihan pada anak. "Jadi di sistem imun ada namanya sel T helper. TH1 ini untuk antibodi infeksi, dan TH2 untuk antibodi alergi. Kalau TH1 ini sangat kuat, maka TH2 akan melemah yang membuat anak menjadi lebih mudah alergi," tuturnya.

Padahal pada prinsipnya, antibodi TH1 dan TH2 harus seimbang. Tetapi ketika antibiotik dikonsumsi secara berlebihan, bisa jadi antibodi si anak malah akan hilang karena antibiotik tak hanya membunuh kuman jahat, tetapi juga kuman baik. "Kalau seluruh kuman hilang, antibodi tidak ada pekerjaan. Akhirnya tubuh jadi tidak memproduksi lagi," ungkapnya.

Namun dr Zaki menyampaikan, bukan berarti antibiotik harus dihindari sama sekali. Yang terpenting, penggunaannya harus tepat guna dan tepat dosis, serta harus disertai dengan resep dokter.

Baca juga: Mungkinkah Virus Tinggal di Dalam Obat?

Oke, jadi sudah jelas bukan bahwa kabar parasetamol bervirus itu tidak benar? Lagi pula Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memastikan jika informasi adanya parasetamol bervirus ini adalah hoax atau tidak benar. (lll/vit)