Senin, 10 Apr 2017 07:38 WIB

Cinemathoscope

My Name is Khan: Cerita Pasien Sindrom Asperger Perjuangkan Prinsipnya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Halaman 1 dari 4
Foto: YouTube
Jakarta - Seorang pria tampak asyik berselancar di dunia maya. Ia membuka-buka artikel tentang rencana perjalanan Presiden AS lalu menuliskannya ke buku agendanya dan beranjak ke bandara.

Setelah check-in, pria ini masuk ke bagian pemeriksaan. Namun ia memperoleh perlakuan yang tak biasa, bahkan dibawa ke ruangan tersendiri.

Jaketnya dibuka dan ia diperiksa secara menyeluruh, bahkan mereka memeriksa isi mulutnya. Seluruh isi tasnya juga dikeluarkan dengan tangan diletakkan di belakang kepala, tak ubahnya seorang kriminal.

Ironisnya, pria ini membawa kartu 'Autism Alert', artinya ia adalah seorang pengidap autisme. Namun petugas keamanan di bandara seolah tak mempedulikannya.

Nyatanya mereka tak menemukan apapun. Ketika akhirnya dilepaskan, pria itu mengeluh sudah ketinggalan pesawat dan ia tak punya uang lagi. Terpaksa ia harus naik bus ke Washington DC, tujuannya.

Si petugas sempat bertanya mau apa pria ini ke Washington DC. Dengan jujur ia menjawab ingin bertemu presiden AS dan mengatakan bahwa namanya Khan dan ia bukanlah teroris. Petugas-petugas yang tadi menertawakannya kini hanya terdiam mendengar jawaban itu.

Sembari menunggu bus tiba, pria ini membuka buku agendanya dan menuliskan sesuatu. Ia seperti berbicara kepada seseorang lewat pesan itu. Dan orang yang dimaksud adalah istrinya, Mandira.

Siapa pria ini?


(lll/vit)