Uganda mengalami wabah penyakit kaki gajah pada tahun 2015. Pemerintah setempat bekerjasama dengan WHO dan peneliti dari Makerere University terjun melakukan penelitian untuk melihat secara langsung penyebab dan kondisi pasien.
drChristineKihembo, pakar epidemiologi dari Kementerian KesehatanUganda, melihat ada yang aneh pada pasien kaki gajah di daerahKamwenge,Uganda
Kamwenge, Uganda Foto: Christine Kihembo/The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Daya Tular Tinggi, Jangan Abaikan Kondisi yang Dicurigai Gejala Kaki Gajah
Namun hasil studi laboratorium menyebut seluruh pasien negatif terinfeksi cacing filaria. Peneliti pun kebingunan dan memutuskan kembali ke Kamwengen untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
Diketahui beberapa pasien mengalami pembengkakan di kaki sejak tahun 1980. Dari 52 pasien, sebagian besar di antaranya tinggal di dusun yang letaknya 4.000 kaki dari permukaan laut, daerah dingin yang membuat risiko infeksi karena gigitan nyamuk menjadi kecil.
Setelah penelitian mendalam, diketahui penyakit kaki gajah yang menyerang warga Kamwenge disebut sebagai podoconiosis. Penyakit ini terjadi karena kebiasaan berjalan dengan telanjang kaki di atas tanah vulkanik yang mengandung alkali tanah yang tinggi.
"Kristal alkali tanah ini sangat kecil dan tajam, menyebabkan gatal yang jika digaruk malah membuatnya masuk ke dalam tubuh. Ketika di dalam tubuh, sel darah putih akan menyerangnya sehingga timbul reaksi peradangan yang jika berlangsung lama, menyebabkan pembengkakan pada jaringan di kaki," tutur dr Kihembo lagi.
Ia melanjutkan bahwa sekitar 63 persen penduduk desa bekerja di lahan pertanian tanpa menggunakan sepatu. 67 Persen dari mereka juga tidak mencuci kaki ketika masuk ke rumah. Untuk itu, dr Kihembo meminta pemerintah untuk memberikan bantuan sepatu karet dan penyuluhan soal higienitas.
Baca juga: Di Bogor, Kaki Gajah Dianggap Lebih 'Memalukan' Dibanding TBC
(mrs/vit)












































Kamwenge, Uganda Foto: Christine Kihembo/The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene