Jumat, 14 Apr 2017 10:17 WIB

Seberapa Penting Premarital Checkup untuk si Calon Pengantin?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Sebelum menikah, tidak hanya menyiapkan katering, gedung, atau kebutuhan pernikahan lainnya saja yang mesti dilakukan. Sebab, cek kesehatan sebelum menikah juga perlu lho dilakukan.

"Tes kesehatan sebelum menikah itu penting. Jadi kita tahu kita atau pasangan apakah sehat, apakah alat reproduksi juga sehat, terutama untuk infeksi menular seksual. Penyakit kronis juga penting diketahui," tegas dr Bramundito SpOG dari Tiga Generasi di sela-sela Peluncuran buku 'Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan' yang disusun oleh tim Tiga Generasi di Taman Kajoe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (13/4/2017).

Menurut dr Bram, kini banyak juga pasangan yang sudah datang ke dokter obstetri dan ginekologi sebelum menikah untuk berkonsultasi. Beda dengan dulu di mana kebanyakan pasangan yang datang yaitu mereka yang sudah menikah dan sudah hamil, atau ingin merencanakan kehamilan. Menurut dr Bram, jika datang berdua pasangan, akan lebih baik karena konsultasi jadi lebih terbuka.

"Apa saja cek yang dianjurkan? Nggak ada standarnya. Tes TORCH itu hanya sebagian kecil tapi kita lihat juga gimana fungsi livernya, misalkan. Secara umum, apa ada penyakit menular atau nggak, ada penyakit kronis nggak," tambah dr Bram.

Jika ada masalah, maka mesti dibicarakan baik-baik sehingga dapat dipikirkan tindakan pencegahan atau penanganan sejak dini. Kasus paling buruk, kata dr Bram misalnya pasangan positif terinfeksi HIV maka perlu dilihat apa sebabnya. Jika karena pemakaian jarum suntik bersama, bisa dilakukan upaya agar tidak menular.

Baca juga: 'Kenapa Saya Belum Juga Menikah?'

Jika karena perilaku yang tidak aman, maka perlu bagi pasangan mengubah perilaku si pasangan. Hadir dalam kesempatan sama, psikolog klinis dewasa yang juga praktik di Tiga Generasi, Tiara Puspita M.Psi., Psikolog mengatakan pada kasus infeksi menular seksual ringan, sebetulnya komunikasi kedua belah pihak penting untuk membahas riwayat kesehatan si pasangan.

"Tapi kalau sampai HIV, butuh konseling profesional. HIV kan termasuk kasus berat dan belum bisa diterima semua orang. Apakah memang pernikahan harus dibatalkan atau nggak, perlu dibahas berdua dulu dengan konseling juga ke psikolog misalnya. Karena belum tentu juga akan dibatalkan kan. Terus dibahas kondisi dia seperti apa jadi pasangannya jangan sampai merasa tertipu. Setelah ada kesepakatan baru disampaikan ke keluarga, yang penting sih orang tua," kata wanita yang akrab disapa Tita ini.

Ia menambahkan, membicarakan riwayat kesehatan perlu dilakukan calon pengantin. Dengan begitu, menikah dilakukan tak hanya berdasar emosi atau perasaan cinta semata tetapi kedua belah pihak sudah memiliki pandangan terbuka dan tahu konsekuensi dari kondisi kesehatan masing-masing pihak.

"Kalau ada penyakit kronis dan tahu udah stage berapa, waktu menikah mereka bisa menghadapi konsekuensinya supaya terhindar dari masalah yang lebih berat. Ibaratnya nggak seperti membeli kucing dalam karung," pungkas Tita.

Baca juga: Ingin Tetap Langsing Usai Menikah, Berpikirlah Seperti Masih Lajang


(rdn/vit)