Senin, 17 Apr 2017 17:30 WIB

Kisah Audi, Gadis yang Aktif Menari Meski Mengidap Epilepsi

Puti Aini Yasmin - detikHealth
Audi/ Foto: Puti Aini Yasmin Audi/ Foto: Puti Aini Yasmin
Jakarta - Epilepsi biasanya dapat mengganggu aktivitas seseorang karena serangan kejang bisa muncul secara tiba-tiba. Sehingga banyak orang dengan epilepsi (ODE) yang mengurangi aktivitasnya.

Namun berbeda dengan yang dilakukan Audi, ia justru aktif berkegiatan menari meski memiliki epilepsi. Sebab menurutnya epilepsi merupakan kelebihan bagi dirinya.

Ia mampu melakukan berbagai tarian seperti tari balet, bali, china hingga kontemporer. Selain itu Audi mengatakan, ia belum pernah mengalami serangan kejang saat sedang menari.

"Anehnya itu kalau menari kan capek ya bisa 24 jam non stop latihan tapi nggak pernah kejang. Kalau kuliah malah baru 15 menit bisa kejang," ucap wanita bernama lengkap Stephanie Claudia Kamadjaja ini.

Ia menjelaskan hal tersebut bisa terjadi hanya dengan menikmati kegiatannya. Nah, berkat keaktifannya tersebut, Audi banyak menerima penghargaan. Misalnya seperti juara satu tari China se-Universitas Indonesia.

Baca juga: Ini Risiko yang Bisa Terjadi Jika Epilepsi Tak Segera Ditangani

Ia mengenal tarian sejak umur sembilan tahun saat ia menjadi atlet renang. Di situ ia pernah mengikuti renang indah yang dominasi dengan gerakan tari. Namun, saat berumur 12 tahun ia didiagnosis epilepsi dan mengakhiri karier altetnya.

"Saat itu juga masih labil ya jadi merasa down aja ingin mati tapi bersyukur karena saya berada di lingkungan dan komunitas yang positif sampai sekarang," ucap wanita berumur 24 tahun ini.

Audi yang sekarang berprofesi sebagai make up artist ini menjelaskan bahwa ia selalu mengaku memiliki epilepsi kepada temannya. Dan hal itu justru membuat teman-temannya menerima dan mendukung dirinya.

"Mereka sering bilang 'semangat ya cepat sembuh' atau 'get well soon' itu klise tapi bisa buat aku senang banget," imbuh Audi kepada detikHealth baru-baru ini.

Oleh karena itu, pada tahun 2014 Audi yakin untuk menjalani operasi bedah epilepsi. Dan tiga tahun setelah menjalani operasi ia baru mengalami serangan sebanyak satu kali.
"Serangan kejangnya karena masalah hormon dan itu cuma berlangsung kurang lebih satu menit dibandingin yang dulu bisa berhari-hari nggak sadar," pungkas Audi.

Baca juga: Tak Cuma Kejang-kejang, Sering Bengong Juga Gejala Epilepsi (up/up)