Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam Kepribadian

Cinemathoscope

Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam Kepribadian

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 20 Apr 2017 11:35 WIB
Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam Kepribadian
Foto: YouTube
Jakarta - Usai merayakan pesta ulang tahunnya, Claire dan dua rekannya, Marcia dan Casey diculik pria tak dikenal. Pria muda ini lantas mengurung mereka dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat, hanya pintu yang selalu terkunci dan tanpa jendela.

Awalnya mereka mengira pria ini adalah pedofilia. Tetapi ketika Marcia dibawa keluar, ia mengaku hanya disuruh menari. Ia berhasil lolos karena Casey sempat membisikinya dan memintanya ngompol di celana agar dilepaskan.

Keesokan harinya, pria yang sama menemui seorang psikiater. Belakangan diketahui namanya Barry. Sang psikiater, dr Karen Fletcher mengaku bertanya-tanya mengapa ia mengirimkan email yang bersifat mendesak, seolah-olah ada hal penting yang dibicarakannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi begitu sampai, Barry malah tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memperlihatkan sketsa desainnya dan melihat-lihat ruang kerja sang psikiater. Karen telah mencoba menanyakan apa yang ingin diceritakan pria itu, tetapi Barry bersikeras tak ada yang ingin dibicarakannya.
Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube

Karen kemudian menangkap keanehan dari gerak-gerik Barry. Apalagi saat itu ia nyaris meninggalkan sketsa-sketsanya di apartemen Karen, padahal biasanya Barry sangat protektif terhadap gambar-gambar miliknya.

Lalu Barry mencoba mengalihkan perhatian sang psikiater dengan menanyakan apakah ada yang peduli kepada orang-orang seperti dirinya. Karen mengaku akan memberikan sebuah seminar di sebuah universitas di Paris, artinya makin banyak orang yang percaya ada orang-orang seperti Barry. Karen pun akhirnya membiarkan Barry pergi sambil masih bertanya-tanya.

Memangnya ada apa dengan Barry?

1. Pria dengan beberapa kepribadian

Foto: YouTube
Keadaan mulai jelas ketika ketiga remaja mendengar suara dua orang yang sedang bercakap-cakap di luar kamar mereka. Mereka mengintip ke celah pintu dan melihat salah satunya adalah wanita.

Wanita itu meminta pria yang diajaknya bicara, yang bernama Dennis, untuk mengakui perbuatannya. Mendengar hal itu, sontak mereka berteriak memohon pertolongan. Dennis sempat melarang wanita itu pergi menengok ketiganya, tapi terlambat. Pintu terlanjur terbuka.

Namun yang tak kalah mengejutkan adalah seseorang yang mereka kira wanita itu nyatanya adalah pria yang sama dengan yang menculik mereka. Hanya saja ia memakai gaun dan sepatu berhak.

Wanita ini meminta mereka tenang karena ia akan berbicara dengan Dennis. Ia meyakinkan bahwa Dennis telah dilarang untuk menyentuh mereka lagi. Dennis nampaknya adalah nama pria yang menculik mereka.

Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube


Percakapan Karen dan teman sejawatnya, Joe semakin memperjelas semuanya. Joe mengatakan Karen mendapatkan perhatian tersendiri di konferensi nasional karena pasien-pasien yang ditanganinya. Hanya saja para pakar masih menganggap kondisi pasien Karen tak lebih dari mood disorder (kelainan suasana hati), tetapi Karen meyakinkan bahwa itu bukanlah semata mood disorder.

Menurut Karen, pasiennya meyakini siapa diri mereka dan otak mereka belajar untuk melindungi diri. Karen berharap dengan teknologi medis dewasa ini, semisal dengan scan otak, mereka bisa mempelajari apa yang terjadi pada otak pasiennya. Karen bahkan meyakini bahwa pasiennya bisa mengubah tubuh mereka hanya dengan bermodalkan pikiran saja.

Masih dirundung kebingungan, ketiga gadis remaja tadi dikagetkan dengan kedatangan Dennis yang tiba-tiba mengecek kamar mandi. Ia menganggap kamar mandi itu kotor dan meminta mereka menjaga kebersihannya.

Dennis kemudian mengabarkan bahwa Patricia (wanita yang tadi berbicara kepada mereka) meminta agar ia tak mengganggu ketiganya karena mereka menganggap ketiganya adalah makanan sakral. Mereka hanya bisa menebak-nebak apa maksud perkataan Dennis.

Keesokan harinya, ketiganya dikejutkan dengan pria yang sama. Ia duduk di depan pintu tetapi tertawa cengengesan sambil memandangi mereka. Penampilannya juga berbeda. Ia kemudian memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda, yaitu Hedwig dan ia mengaku berusia 9 tahun. Ia juga mengingatkan jika seseorang yang jahat akan menghampiri mereka.

Untuk memastikan siapa pria ini, Casey bertanya, "Jadi kau bukan orang yang menculik kami?" "Bukan," jawabnya. Ia juga mengaku bukan wanita yang berbicara kepada mereka sebelumnya. Dari situ Casey memiliki ide untuk meminta bantuan Hedwig. Namun Hedwig mengaku takut dimarahi Dennis bila memarahinya.

Untuk memancing perhatian Hedwig, Casey mencoba membisikkan sesuatu ke telinga bocah itu. Ia juga menawarkan untuk mengurus Hedwig dengan syarat anak itu membantu mereka untuk bisa keluar dari tempat itu. Lagi-lagi Hedwig tidak memberikan respons positif karena tempat penyekapan itu sangat aman dan sulit untuk bisa keluar tanpa sepengetahuan penjaga, lalu pergi meninggalkan mereka.

Sepeninggalan Hedwig, Casey dan teman-temannya mengecek apakah ini tempat yang benar-benar aman seperti yang dikatakan Hedwig. Ia baru menyadari jika tembok kamar mandinya adalah tembok baru. Mereka juga mengetuk seluruh permukaan, dan akhirnya Claire menemukan bahwa bagian atap kamar itu bisa dijebol dengan menggunakan sepatu haknya. Mereka juga dikejar waktu karena Hedwig tiba-tiba sudah ada di luar kamar dan mencoba mendobrak, tetapi ditahan oleh Casey dan Marcia.

Claire berhasil membuka plafon dan menemukan pintu masuk ke sebuah lorong di atap. Ia berhasil masuk dan berpindah ke tempat lain. Begitu bisa turun, ia melihat pipa besar di kanan kirinya dan berlari sekuat tenaga. Gadis berambut pirang itu akhirnya menemukan deretan loker untuk bersembunyi. Sayangnya Dennis bisa mendobrak masuk dan tahu ada yang kabur. Claire juga langsung bisa ditemukan dan kemudian dikurung di ruangan lain.

2. Mengungkap kedok Barry

Foto: YouTube

Di tempat lain, Karen berbicara dalam sebuah konferensi lewat Skype. Nampaknya Karen adalah ahli dalam menangani pasien DID (Dissociative Identity Disorder) dan dalam pertemuan itu ia menjelaskan berbagai aspek tentang pasien DID. Semisal seseorang dengan DID bisa memperlihatkan dua kepribadian dalam satu waktu. Ini terbukti pada salah satu pasiennya yang bisa menuliskan dua hal berbeda dalam satu waktu.

Menurutnya, satu kepribadian dan kepribadian yang lain pada satu pasien DID bisa sangat berbeda, seperti dua orang yang sama sekali berbeda. Tak hanya itu, mereka juga memiliki tingkat intelijensia dan kekuatan fisik yang berbeda-beda. Namun hal-hal ini pulalah yang membuat Karen penasaran karena ia merasa ini bisa jadi petunjuk dari hal-hal yang tidak diketahui orang banyak tentang DID.

Ketika akhirnya bertemu Barry lagi dalam sebuah sesi, Karen mencoba mengungkap apa yang disembunyikan pria itu. Apalagi menurut Karen, ia menerima dua email dari Barry lagi di luar jam pertemuan. Ini bahkan berlangsung selama dua hari berturut-turut. Karena Barry tak mau mengaku, secara terang-terangan, Karen pun mengatakan bahwa ia belajar mengenali dengan siapa ia bicara. Jadi menurutnya, yang mengirim email bukanlah Barry tetapi bisa saja Orwell, Jade, Samuel atau Heinrich, kepribadian lain dari Barry. Tapi lagi-lagi Barry berkilah dengan mengatakan ia hanya merasa bosan.

Kemudian Karen meminta agar dirinya bisa berbicara dengan salah satu dari mereka tapi Barry menolak. Alasannya, ia sudah mengatakan kepada yang lain bahwa hari ini ia ingin menghabiskan sesi hari itu bersama Karen. Namun akhirnya Barry terdiam ketika Karen mengatakan kau tidak terlihat seperti Barry karena Barry adalah pemimpin yang luar biasa.

Karen lantas mencoba menebak siapa yang tengah berbicara dengannya saat itu. Barry pernah mengungkapkan ada 23 kepribadian yang hidup dalam tubuh Kevin (nama asli pemilik ke-23 kepribadian yang beberapa di antaranya adalah Barry, Dennis, Patricia dan Hedwig). Namun dari ke-23 kepribadian tersebut, nampaknya yang ia ajak bicara adalah Dennis.

Hanya saja seingat Karen, Dennis diusir dari kawanan (istilah untuk menyebut beberapa kepribadian yang dimiliki Kevin) karena ia suka melihat gadis yang menari sambil telanjang, padahal ia tahu hal itu keliru. Tetapi kemudian Dennis menyadari kesalahannya dan diperbolehkan kembali ke kawanan. Karen meyakini itu karena ia melihat Barry membenahi toples di apartemennya sebanyak dua kali, dan gejala OCD seperti ini dimiliki Dennis, bukannya Barry.

Karen juga tahu jika Dennis berkomplot dengan Patricia karena mereka memiliki keyakinan yang sama tentang adanya The Beast, sosok yang ditakuti oleh keduanya tetapi juga diduga kepribadian ke-24 dari Kevin. Namun Barry tetap bersikeras mengatakan dirinya bukan Dennis. Karen sendiri tak mau percaya begitu saja, meski Barry berusaha membuktikannya dengan tingkah laku.

Setelah sesi selesai, Karen pun meminta asistennya, Jai untuk memantau CCTV apartemennya. Di situ ia melihat keanehan dari gerak-gerik Barry yang membantu meyakinkan dirinya akan siapa pria itu.

Begitu sampai di rumah, Barry berubah menjadi Patricia dan membawakan sandwich untuk Marcia dan Casey. Ia juga menata rambut mereka dan mengajaknya ke ruang makan, bahkan ia memperdengarkan musik oriental untuk mereka berdua. Sembari mendengarkan celotehan Patricia, Marcia mendapatkan gagasan untuk melarikan diri karena pintu dapur itu berada tepat di belakang mereka. Saat Patricia sedang sibuk membuatkan sandwich lagi, Marcia lantas mengangkat kursinya dan melemparkannya ke tubuh Patricia. Ia berhasil keluar dari dapur tetapi Casey tak sempat kemana-mana.

Setelah meminta Casey kembali ke kamarnya, Patricia beralih mencari Marcia dan menemukannya dengan mudah karena gadis ini tak menemukan pintu keluar. Patricia lalu mengurungnya di ruang yang berbeda dengan Claire maupun Casey.

Malamnya, Casey tidur ditemani oleh Hedwig. Bocah ini sempat protes karena Casey telah membohonginya. Namun Casey berhasil mengalihkan perhatian Hedwig setelah mendengar cerita bocah ini tentang kegemarannya mendengarkan CD player dan menari di kamarnya. Mendengar Hedwig memiliki CD player yang diletakkan dekat dengan jendela, muncul gagasan Casey untuk memperdaya bocah ini lagi.

Meski awalnya menolak karena takut ditipu lagi, Casey lagi-lagi mendapat kepercayaan Hedwig dan bocah ini setuju untuk mengajak Casey ke kamarnya. Hanya saja ia tak bisa melakukannya saat itu juga karena sebentar lagi kepribadian lain Kevin akan menjalani sesi terapi dengan Karen.

Saat itu Hedwig berubah menjadi Barry dan menemui Karen. Setelah membiarkannya berbicara tentang kain wol selama 20 menit, Karen gantian bicara dengan mengungkapkan bahwa pasiennya itu mengirimkan email di tengah malam. Email itu berisi permintaan Barry untuk sebuah 'sesi darurat'. Untuk memancing respons Barry, Karen kemudian mengisahkan sebuah insiden yang terjadi pada Barry di tempat kerjanya beberapa waktu lalu.

Menurut Karen, saat itu tempat kerja Barry kedatangan anak-anak SMA. Tiba-tiba saja Barry dihampiri dua gadis yang iseng meraih tangan Barry dan membiarkannya memegang dada mereka sambil tertawa-tawa. Setelah itu Barry marah besar dan menganggap keduanya lancang. Namun Barry yang tampak menutupi kegelisahannya di depan Karen mengaku ia tak lagi marah dan memahami bahwa itu hanyalah gurauan anak-anak.

Karen ragu dengan jawaban itu lalu seolah-olah sedang berbicara dengan Dennis, Karen mengatakan, "Aku sangat mengerti kau mengambil alih karena ingin melindungi yang lain. Aku tahu kenapa Kevin membutuhkannya, karena kau kuat, disiplin dan tertata dan kau tidak ingin membuatnya dimanfaatkan."

Ia juga meminta Dennis percaya penuh kepadanya karena sejatinya ia tahu cara mengembalikan Kevin ke kepribadiannya semula tetapi hal itu tak ia lakukan karena itu akan mengacaukan kawanan. "Apakah itu kau, Dennis?" tanyanya lagi.

Saat itulah raut wajah Barry akhirnya berubah. Ia tidak mengaku jika dirinya menjadi Dennis saat itu, namun ia dan Patricia merasa direndahkan oleh kawanan karena mempercayai adanya The Beast. Tetapi Dennis meyakini jika mereka adalah satu-satunya kepribadian yang bisa melindungi Kevin yang dianggapnya terlalu lemah.

Karen juga menegaskan kepada Dennis bahwasanya The Beast hanyalah khayalan Dennis semata karena pria itu nyatanya tak pernah bertemu dengan sosok tersebut.

Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube

3. Meminta pertolongan

Foto: YouTube
Beberapa saat setelah bertemu Karen, Dennis berubah lagi menjadi Hedwig dan menepati janjinya kepada Casey. Casey dibawa ke kamarnya dan ia memutar CD player yang pernah dibicarakannya. Namun betapa terkejutnya Casey ketika melihat kamar Hedwig yang juga tertutup rapat, hanya pintu tanpa jendela. Jendela yang dimaksud Hedwig tak lain hanya berupa gambar dua jendela, yang satu tertutup dan satu lagi terbuka.

Hedwig mencium gelagat Casey yang ingin melarikan diri. Tetapi kali ini ia menolak menuruti keinginan Casey. Ketika kemudian Casey menolak diminta kembali ke kamar, Hedwig memberikan sebuah handy talky kepada gadis itu. Menurut Hedwig, ia berhasil mencuri handy talky itu dari Dennis.

Merasa punya kesempatan, Casey nekat menekan tombol untuk menyalakan handy talky itu, tak peduli meski Hedwig berulang kali melarangnya. Panggilan itu disahut seseorang. Dengan semi berteriak, ia mengaku tengah diculik seorang pria dan disekap di suatu tempat. Sayangnya suara pria yang ada di seberang Casey menganggap itu hanya guyonan. Lalu Hedwig berubah menjadi Dennis dan merebut handy talky dari tangan Casey.

Gadis yang ketakutan itu diantar kembali ke kamarnya. Kemudian Dennis meminta Casey bersiap untuk ritual terakhir sebelum akhirnya dipertemukan dengan The Beast. Dalam adegan sebelumnya disebutkan bahwa ketiga gadis yang diculik Dennis memang akan dijadikan semacam 'makanan sakral' untuk sebuah ritual.

Casey kemudian ditinggalkan seorang diri di kamar, dan ia teringat kejadian kelam di masa kecilnya. Namun yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah berteriak sekencang-kencangnya. Di tempat lain, Karen terkejut karena ada begitu banyak email masuk dari Barry yang isinya hanya satu kalimat: 'We need you' (Kami membutuhkanmu, red). Saat itu juga Karen mendatangi tempat tinggal Barry. Kebetulan Dennis juga akan pergi. Namun begitu melihat Karen, ia mengurungkan niat dan mengajak wanita ini masuk. Saat itulah Dennis mau menceritakan bagaimana ia bisa muncul.

Menurutnya itu karena ibu Kevin telah mengasarinya sejak kecil sehingga Dennis merasa harus melindunginya. Ia juga mengklarifikasi bahwa dirinya berbohong ketika mengatakan The Beast tidaklah nyata. Meski tersirat kekhawatiran di wajahnya, Karen berupaya menenangkan Dennis dengan memintanya untuk mendiskusikan hal itu dalam sesi keesokan hari.

Namun sebelum pergi, Karen meminta izin untuk memakai kamar kecil Dennis. Ternyata itu hanya kedok, karena ia kemudian menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa keadaan tempat tinggal Dennis. Di situ ia melihat ada sebuah lorong dengan kamar-kamar. Ia memberanikan diri membuka salah satu kamar itu dan terkejut melihat Claire tergeletak di lantai.

Sayangnya hal ini ketahuan Dennis. Karena Karen terus berontak, Dennis lalu menyemprotkan cairan tertentu yang membuat wanita itu kehilangan kesadaran. Sementara itu, Marcia dan Claire berusaha mencari apapun yang bisa mereka temukan di ruangan masing-masing untuk melarikan diri.

Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube


Dennis tak menyadari itu karena ia memang berniat pergi untuk suatu urusan. Ternyata ia menuju ke stasiun bawah tanah. Casey sendiri akhirnya berhasil kabur dan masuk ke kamar Dennis lalu membuka komputernya, sedangkan Marcia menemukan kawat yang digunakannya sebagai pengait untuk membuka pintu.

Meski tak tersambung dengan koneksi internet, Casey menemukan file-file video dengan nama-nama orang seperti Barry, Jade, Cowell dan 20-an nama lainnya. Videonya berisi monolog Dennis dan kepribadian-kepribadian Kevin yang lain tentang keseharian mereka. Kebetulan yang dibuka Casey adalah video milik Barry yang menjelaskan akan ketakutannya terhadap sesuatu pada diri Kevin yang lain, yang diduga adalah The Beast.

Di stasiun bawah tanah, Dennis kemudian masuk ke gerbong yang tak berfungsi lagi. Dalam gelapnya gerbong tersebut, tampak siluet Dennis melepas bajunya dan ia mengalami semacam perubahan fisik. Ia bahkan bisa melompat keluar dan berlari kencang meski kakinya telanjang. Dennis berlari menuju ke rumahnya.

Bersamaan dengan itu, Karen baru saja tersadar dan mencoba menuliskan sesuatu di kertas. Namun perhatiannya kemudian teralihkan pada sekelebat bayangan di belakangnya. Karen berupaya melawan tetapi sosok yang berada di belakangnya itu langsung mendekap tubuh Karen kuat-kuat hingga membuat wanita ini sulit bernapas. Ia akhirnya tewas di tangan sosok tersebut.

Setelah menonton video Barry, Casey memutuskan mencari kunci untuk mengeluarkan teman-temannya. Tetapi begitu sampai di ruangan di mana Marcia disekap, ia melihat gadis itu sudah kehilangan nyawanya dan tubuhnya telah bersimbah darah, begitu juga ketika ia menengok ke ruangan Claire, bahkan sosok yang menganiayanya masih ada di tempat itu dan sibuk mencabik-cabik tubuh gadis berambut pirang tersebut.

Beralih ke ruangan lain, Casey menemukan jenazah Karen dan juga catatan yang ditinggalkan wanita ini. Sepucuk kertas itu bertuliskan 'Sebutkan namanya: Kevin Wendell Crumb'. Mencoba mencerna pesan itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang memanjat dinding di belakangnya. Ia tak hanya bertelanjang dada dan kaki, tetapi juga memanjat tanpa alat bantu apapun.

Karena ketakutan, Casey menyebutkan nama lengkap pria itu sebanyak tiga kali. Nampaknya cara itu berhasil, karena pria itu langsung bergegas turun dan masuk ke ruangan di sebelahnya. Begitu keluar, pria itu menutupi tubuhnya dengan selimut dan menanyakan apa yang terjadi. Nampaknya itu adalah Kevin. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia sedang duduk di bis dan masih mengira saat itu adalah tanggal 18 September 2014.

Melihat Casey menggeleng, Kevin langsung tersadar apa yang telah dilakukannya, termasuk membunuh Karen. Ia pun meminta Casey mengambil senapan miliknya dan membunuhnya. Lalu Kevin berubah menjadi Jade dan meminta Casey tidak melakukannya. Ia juga menjelaskan bahwa Dennis, Patricia maupun Hedwig bukanlah representasi mereka.

Barry gantian muncul dan mengatakan ada yang mencuri cahaya (kesadaran) dariku. Kemudian giliran Hedwig dan Patricia yang tetap keukeuh mengatakan bahwa tak akan ada yang mempermainkan mereka lagi. Casey merespons dengan menyebut nama lengkap Kevin terus-menerus sembari mencoba mengambil senapan milik Kevin.

Tapi cara itu nampaknya tidak mempan lagi karena Patricia mengaku telah membuat Kevin terlelap. Begitu Casey bisa melarikan diri, Kevin berubah lagi menjadi The Beast dan mengejarnya. Sesampainya di deretan loker, The Beast keburu menarik kakinya dan sempat merobek baju Casey.

Casey memang sempat lolos dan berteriak minta tolong meski ia tahu tak ada yang bisa mendengarnya. Ia akhirnya menemukan sebuah kurungan besi agar The Beast tak bisa mendekat. Ia mencoba menembakkan senapan Kevin ke tubuh The Beast tetapi pria itu tak bisa dilumpuhkan. Ia bahkan bisa membengkokkan besi yang mengurung Casey.

Di saat-saat menegangkan itu, tiba-tiba saja The Beast terhenti melihat beberapa bekas cakaran di perut Casey. Setelah itu ia pergi meninggalkan Casey begitu saja. Gadis ini hanya duduk tertegun, dan ia kemudian ditemukan seorang pria tua yang terkejut melihat keberadaan gadis itu. Ia pun membawa Casey keluar dan melaporkan apa yang dialami si gadis kepada salah seorang rekannya. Yang tak kalah mengejutkan adalah tempat di mana Casey dan kedua temannya disekap tak lain adalah sebuah kebun binatang, dan mereka disekap di bawah tanah.

Casey akhirnya mendapatkan penanganan medis dan Dennis menjadi buronan polisi. Nampaknya teori yang pernah dikemukakan Karen tentang kemampuan pasien DID untuk mengubah fisik mereka hanya dengan pikiran benar-benar terbukti pada diri Dennis. Sayang ia tak pernah bisa melihatnya langsung.

4. Mengenal DID

Foto: YouTube
Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube

Dikutip dari Web MD, DID dianggap sebagai gangguan psikis yang rumit dan disebabkan oleh banyak faktor, termasuk trauma yang sangat buruk di masa kecil (biasanya dalam bentuk kekerasan fisik, mental maupun seksual yang bertubi-tubi dan ekstrem). Kemudian gangguan ini menjadi semacam coping mechanism bagi si pasien, dengan menganggap dirinya bisa melepaskan diri dari situasi yang membuatnya trauma lalu membuat identitas baru.

Hanya saja tidak seperti Karen, lebih banyak pakar yang masih meragukan keberadaan kondisi ini. Kebanyakan dari mereka lebih percaya jika ini adalah bentuk lanjutan dari masalah psikis lain atau cara seseorang menanggapi suatu masalah dalam hidupnya.

Karakteristik utama dari pasien DID adalah hadirnya dua kepribadian atau lebih pada diri seseorang, dan masing-masing dari mereka merasa berkuasa terhadap raga si pasien. Dalam film diperlihatkan bahwa kepribadian-kepribadian Kevin seolah-olah berebut cahaya (kesadaran) untuk bisa mewakili pria itu.

Namun pasien DID biasanya tidak bisa mengingat informasi penting tentang dirinya seperti nama asli, entah sengaja melupakannya atau memang terkubur di antara tumpukan memori dari tiap kepribadian yang dimilikinya. Di akhir film sempat diperlihatkan salah satu kepribadian Kevin yang bernama Patricia mengaku sengaja membuat Kevin 'terlelap' selama bertahun-tahun hingga pria itu tak sadar sama sekali akan apa yang dilakukannya selama ini.

Yang pasti, tiap identitas mempunyai usia, jenis kelamin dan rasnya masing-masing, bahkan hingga ke gerak-gerik dan cara bicara yang sama sekali berbeda antara satu sama lain. Terjadinya peralihan dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain juga tidak menentu, bisa dalam hitungan detik, menit hingga berhari-hari.

Bersamaan dengan itu, pasien DID juga mengalami masalah psikis lain, di antaranya:
- depresi
- mood yang berubah-ubah
- kecenderungan untuk melakukan tindak bunuh diri
- gangguan tidur (bisa insomnia, mimpi buruk atau sleep walking)
- fobia, serangan panik atau gangguan kecemasan
- penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang
- mengalami halusinasi atau seperti mendengar suara-suara
- gangguan makan

Sejauh ini statistik menunjukkan bahwa jumlah pasien DID hanya berkisar 1 persen dari populasi atau kurang, namun bisa jadi ini karena banyak di antaranya yang tidak terdiagnosis.

Pengobatan untuk DID sendiri tidak ada. Rata-rata pasien hanya menjalani terapi dengan psikiater, bahkan mungkin untuk seumur hidupnya, agar bisa hidup normal. Namun itu pun jika pasien mau berkomitmen untuk melakukannya.

Halaman 2 dari 5
Keadaan mulai jelas ketika ketiga remaja mendengar suara dua orang yang sedang bercakap-cakap di luar kamar mereka. Mereka mengintip ke celah pintu dan melihat salah satunya adalah wanita.

Wanita itu meminta pria yang diajaknya bicara, yang bernama Dennis, untuk mengakui perbuatannya. Mendengar hal itu, sontak mereka berteriak memohon pertolongan. Dennis sempat melarang wanita itu pergi menengok ketiganya, tapi terlambat. Pintu terlanjur terbuka.

Namun yang tak kalah mengejutkan adalah seseorang yang mereka kira wanita itu nyatanya adalah pria yang sama dengan yang menculik mereka. Hanya saja ia memakai gaun dan sepatu berhak.

Wanita ini meminta mereka tenang karena ia akan berbicara dengan Dennis. Ia meyakinkan bahwa Dennis telah dilarang untuk menyentuh mereka lagi. Dennis nampaknya adalah nama pria yang menculik mereka.

Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube


Percakapan Karen dan teman sejawatnya, Joe semakin memperjelas semuanya. Joe mengatakan Karen mendapatkan perhatian tersendiri di konferensi nasional karena pasien-pasien yang ditanganinya. Hanya saja para pakar masih menganggap kondisi pasien Karen tak lebih dari mood disorder (kelainan suasana hati), tetapi Karen meyakinkan bahwa itu bukanlah semata mood disorder.

Menurut Karen, pasiennya meyakini siapa diri mereka dan otak mereka belajar untuk melindungi diri. Karen berharap dengan teknologi medis dewasa ini, semisal dengan scan otak, mereka bisa mempelajari apa yang terjadi pada otak pasiennya. Karen bahkan meyakini bahwa pasiennya bisa mengubah tubuh mereka hanya dengan bermodalkan pikiran saja.

Masih dirundung kebingungan, ketiga gadis remaja tadi dikagetkan dengan kedatangan Dennis yang tiba-tiba mengecek kamar mandi. Ia menganggap kamar mandi itu kotor dan meminta mereka menjaga kebersihannya.

Dennis kemudian mengabarkan bahwa Patricia (wanita yang tadi berbicara kepada mereka) meminta agar ia tak mengganggu ketiganya karena mereka menganggap ketiganya adalah makanan sakral. Mereka hanya bisa menebak-nebak apa maksud perkataan Dennis.

Keesokan harinya, ketiganya dikejutkan dengan pria yang sama. Ia duduk di depan pintu tetapi tertawa cengengesan sambil memandangi mereka. Penampilannya juga berbeda. Ia kemudian memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda, yaitu Hedwig dan ia mengaku berusia 9 tahun. Ia juga mengingatkan jika seseorang yang jahat akan menghampiri mereka.

Untuk memastikan siapa pria ini, Casey bertanya, "Jadi kau bukan orang yang menculik kami?" "Bukan," jawabnya. Ia juga mengaku bukan wanita yang berbicara kepada mereka sebelumnya. Dari situ Casey memiliki ide untuk meminta bantuan Hedwig. Namun Hedwig mengaku takut dimarahi Dennis bila memarahinya.

Untuk memancing perhatian Hedwig, Casey mencoba membisikkan sesuatu ke telinga bocah itu. Ia juga menawarkan untuk mengurus Hedwig dengan syarat anak itu membantu mereka untuk bisa keluar dari tempat itu. Lagi-lagi Hedwig tidak memberikan respons positif karena tempat penyekapan itu sangat aman dan sulit untuk bisa keluar tanpa sepengetahuan penjaga, lalu pergi meninggalkan mereka.

Sepeninggalan Hedwig, Casey dan teman-temannya mengecek apakah ini tempat yang benar-benar aman seperti yang dikatakan Hedwig. Ia baru menyadari jika tembok kamar mandinya adalah tembok baru. Mereka juga mengetuk seluruh permukaan, dan akhirnya Claire menemukan bahwa bagian atap kamar itu bisa dijebol dengan menggunakan sepatu haknya. Mereka juga dikejar waktu karena Hedwig tiba-tiba sudah ada di luar kamar dan mencoba mendobrak, tetapi ditahan oleh Casey dan Marcia.

Claire berhasil membuka plafon dan menemukan pintu masuk ke sebuah lorong di atap. Ia berhasil masuk dan berpindah ke tempat lain. Begitu bisa turun, ia melihat pipa besar di kanan kirinya dan berlari sekuat tenaga. Gadis berambut pirang itu akhirnya menemukan deretan loker untuk bersembunyi. Sayangnya Dennis bisa mendobrak masuk dan tahu ada yang kabur. Claire juga langsung bisa ditemukan dan kemudian dikurung di ruangan lain.

Di tempat lain, Karen berbicara dalam sebuah konferensi lewat Skype. Nampaknya Karen adalah ahli dalam menangani pasien DID (Dissociative Identity Disorder) dan dalam pertemuan itu ia menjelaskan berbagai aspek tentang pasien DID. Semisal seseorang dengan DID bisa memperlihatkan dua kepribadian dalam satu waktu. Ini terbukti pada salah satu pasiennya yang bisa menuliskan dua hal berbeda dalam satu waktu.

Menurutnya, satu kepribadian dan kepribadian yang lain pada satu pasien DID bisa sangat berbeda, seperti dua orang yang sama sekali berbeda. Tak hanya itu, mereka juga memiliki tingkat intelijensia dan kekuatan fisik yang berbeda-beda. Namun hal-hal ini pulalah yang membuat Karen penasaran karena ia merasa ini bisa jadi petunjuk dari hal-hal yang tidak diketahui orang banyak tentang DID.

Ketika akhirnya bertemu Barry lagi dalam sebuah sesi, Karen mencoba mengungkap apa yang disembunyikan pria itu. Apalagi menurut Karen, ia menerima dua email dari Barry lagi di luar jam pertemuan. Ini bahkan berlangsung selama dua hari berturut-turut. Karena Barry tak mau mengaku, secara terang-terangan, Karen pun mengatakan bahwa ia belajar mengenali dengan siapa ia bicara. Jadi menurutnya, yang mengirim email bukanlah Barry tetapi bisa saja Orwell, Jade, Samuel atau Heinrich, kepribadian lain dari Barry. Tapi lagi-lagi Barry berkilah dengan mengatakan ia hanya merasa bosan.

Kemudian Karen meminta agar dirinya bisa berbicara dengan salah satu dari mereka tapi Barry menolak. Alasannya, ia sudah mengatakan kepada yang lain bahwa hari ini ia ingin menghabiskan sesi hari itu bersama Karen. Namun akhirnya Barry terdiam ketika Karen mengatakan kau tidak terlihat seperti Barry karena Barry adalah pemimpin yang luar biasa.

Karen lantas mencoba menebak siapa yang tengah berbicara dengannya saat itu. Barry pernah mengungkapkan ada 23 kepribadian yang hidup dalam tubuh Kevin (nama asli pemilik ke-23 kepribadian yang beberapa di antaranya adalah Barry, Dennis, Patricia dan Hedwig). Namun dari ke-23 kepribadian tersebut, nampaknya yang ia ajak bicara adalah Dennis.

Hanya saja seingat Karen, Dennis diusir dari kawanan (istilah untuk menyebut beberapa kepribadian yang dimiliki Kevin) karena ia suka melihat gadis yang menari sambil telanjang, padahal ia tahu hal itu keliru. Tetapi kemudian Dennis menyadari kesalahannya dan diperbolehkan kembali ke kawanan. Karen meyakini itu karena ia melihat Barry membenahi toples di apartemennya sebanyak dua kali, dan gejala OCD seperti ini dimiliki Dennis, bukannya Barry.

Karen juga tahu jika Dennis berkomplot dengan Patricia karena mereka memiliki keyakinan yang sama tentang adanya The Beast, sosok yang ditakuti oleh keduanya tetapi juga diduga kepribadian ke-24 dari Kevin. Namun Barry tetap bersikeras mengatakan dirinya bukan Dennis. Karen sendiri tak mau percaya begitu saja, meski Barry berusaha membuktikannya dengan tingkah laku.

Setelah sesi selesai, Karen pun meminta asistennya, Jai untuk memantau CCTV apartemennya. Di situ ia melihat keanehan dari gerak-gerik Barry yang membantu meyakinkan dirinya akan siapa pria itu.

Begitu sampai di rumah, Barry berubah menjadi Patricia dan membawakan sandwich untuk Marcia dan Casey. Ia juga menata rambut mereka dan mengajaknya ke ruang makan, bahkan ia memperdengarkan musik oriental untuk mereka berdua. Sembari mendengarkan celotehan Patricia, Marcia mendapatkan gagasan untuk melarikan diri karena pintu dapur itu berada tepat di belakang mereka. Saat Patricia sedang sibuk membuatkan sandwich lagi, Marcia lantas mengangkat kursinya dan melemparkannya ke tubuh Patricia. Ia berhasil keluar dari dapur tetapi Casey tak sempat kemana-mana.

Setelah meminta Casey kembali ke kamarnya, Patricia beralih mencari Marcia dan menemukannya dengan mudah karena gadis ini tak menemukan pintu keluar. Patricia lalu mengurungnya di ruang yang berbeda dengan Claire maupun Casey.

Malamnya, Casey tidur ditemani oleh Hedwig. Bocah ini sempat protes karena Casey telah membohonginya. Namun Casey berhasil mengalihkan perhatian Hedwig setelah mendengar cerita bocah ini tentang kegemarannya mendengarkan CD player dan menari di kamarnya. Mendengar Hedwig memiliki CD player yang diletakkan dekat dengan jendela, muncul gagasan Casey untuk memperdaya bocah ini lagi.

Meski awalnya menolak karena takut ditipu lagi, Casey lagi-lagi mendapat kepercayaan Hedwig dan bocah ini setuju untuk mengajak Casey ke kamarnya. Hanya saja ia tak bisa melakukannya saat itu juga karena sebentar lagi kepribadian lain Kevin akan menjalani sesi terapi dengan Karen.

Saat itu Hedwig berubah menjadi Barry dan menemui Karen. Setelah membiarkannya berbicara tentang kain wol selama 20 menit, Karen gantian bicara dengan mengungkapkan bahwa pasiennya itu mengirimkan email di tengah malam. Email itu berisi permintaan Barry untuk sebuah 'sesi darurat'. Untuk memancing respons Barry, Karen kemudian mengisahkan sebuah insiden yang terjadi pada Barry di tempat kerjanya beberapa waktu lalu.

Menurut Karen, saat itu tempat kerja Barry kedatangan anak-anak SMA. Tiba-tiba saja Barry dihampiri dua gadis yang iseng meraih tangan Barry dan membiarkannya memegang dada mereka sambil tertawa-tawa. Setelah itu Barry marah besar dan menganggap keduanya lancang. Namun Barry yang tampak menutupi kegelisahannya di depan Karen mengaku ia tak lagi marah dan memahami bahwa itu hanyalah gurauan anak-anak.

Karen ragu dengan jawaban itu lalu seolah-olah sedang berbicara dengan Dennis, Karen mengatakan, "Aku sangat mengerti kau mengambil alih karena ingin melindungi yang lain. Aku tahu kenapa Kevin membutuhkannya, karena kau kuat, disiplin dan tertata dan kau tidak ingin membuatnya dimanfaatkan."

Ia juga meminta Dennis percaya penuh kepadanya karena sejatinya ia tahu cara mengembalikan Kevin ke kepribadiannya semula tetapi hal itu tak ia lakukan karena itu akan mengacaukan kawanan. "Apakah itu kau, Dennis?" tanyanya lagi.

Saat itulah raut wajah Barry akhirnya berubah. Ia tidak mengaku jika dirinya menjadi Dennis saat itu, namun ia dan Patricia merasa direndahkan oleh kawanan karena mempercayai adanya The Beast. Tetapi Dennis meyakini jika mereka adalah satu-satunya kepribadian yang bisa melindungi Kevin yang dianggapnya terlalu lemah.

Karen juga menegaskan kepada Dennis bahwasanya The Beast hanyalah khayalan Dennis semata karena pria itu nyatanya tak pernah bertemu dengan sosok tersebut.

Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube

Beberapa saat setelah bertemu Karen, Dennis berubah lagi menjadi Hedwig dan menepati janjinya kepada Casey. Casey dibawa ke kamarnya dan ia memutar CD player yang pernah dibicarakannya. Namun betapa terkejutnya Casey ketika melihat kamar Hedwig yang juga tertutup rapat, hanya pintu tanpa jendela. Jendela yang dimaksud Hedwig tak lain hanya berupa gambar dua jendela, yang satu tertutup dan satu lagi terbuka.

Hedwig mencium gelagat Casey yang ingin melarikan diri. Tetapi kali ini ia menolak menuruti keinginan Casey. Ketika kemudian Casey menolak diminta kembali ke kamar, Hedwig memberikan sebuah handy talky kepada gadis itu. Menurut Hedwig, ia berhasil mencuri handy talky itu dari Dennis.

Merasa punya kesempatan, Casey nekat menekan tombol untuk menyalakan handy talky itu, tak peduli meski Hedwig berulang kali melarangnya. Panggilan itu disahut seseorang. Dengan semi berteriak, ia mengaku tengah diculik seorang pria dan disekap di suatu tempat. Sayangnya suara pria yang ada di seberang Casey menganggap itu hanya guyonan. Lalu Hedwig berubah menjadi Dennis dan merebut handy talky dari tangan Casey.

Gadis yang ketakutan itu diantar kembali ke kamarnya. Kemudian Dennis meminta Casey bersiap untuk ritual terakhir sebelum akhirnya dipertemukan dengan The Beast. Dalam adegan sebelumnya disebutkan bahwa ketiga gadis yang diculik Dennis memang akan dijadikan semacam 'makanan sakral' untuk sebuah ritual.

Casey kemudian ditinggalkan seorang diri di kamar, dan ia teringat kejadian kelam di masa kecilnya. Namun yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah berteriak sekencang-kencangnya. Di tempat lain, Karen terkejut karena ada begitu banyak email masuk dari Barry yang isinya hanya satu kalimat: 'We need you' (Kami membutuhkanmu, red). Saat itu juga Karen mendatangi tempat tinggal Barry. Kebetulan Dennis juga akan pergi. Namun begitu melihat Karen, ia mengurungkan niat dan mengajak wanita ini masuk. Saat itulah Dennis mau menceritakan bagaimana ia bisa muncul.

Menurutnya itu karena ibu Kevin telah mengasarinya sejak kecil sehingga Dennis merasa harus melindunginya. Ia juga mengklarifikasi bahwa dirinya berbohong ketika mengatakan The Beast tidaklah nyata. Meski tersirat kekhawatiran di wajahnya, Karen berupaya menenangkan Dennis dengan memintanya untuk mendiskusikan hal itu dalam sesi keesokan hari.

Namun sebelum pergi, Karen meminta izin untuk memakai kamar kecil Dennis. Ternyata itu hanya kedok, karena ia kemudian menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa keadaan tempat tinggal Dennis. Di situ ia melihat ada sebuah lorong dengan kamar-kamar. Ia memberanikan diri membuka salah satu kamar itu dan terkejut melihat Claire tergeletak di lantai.

Sayangnya hal ini ketahuan Dennis. Karena Karen terus berontak, Dennis lalu menyemprotkan cairan tertentu yang membuat wanita itu kehilangan kesadaran. Sementara itu, Marcia dan Claire berusaha mencari apapun yang bisa mereka temukan di ruangan masing-masing untuk melarikan diri.

Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube


Dennis tak menyadari itu karena ia memang berniat pergi untuk suatu urusan. Ternyata ia menuju ke stasiun bawah tanah. Casey sendiri akhirnya berhasil kabur dan masuk ke kamar Dennis lalu membuka komputernya, sedangkan Marcia menemukan kawat yang digunakannya sebagai pengait untuk membuka pintu.

Meski tak tersambung dengan koneksi internet, Casey menemukan file-file video dengan nama-nama orang seperti Barry, Jade, Cowell dan 20-an nama lainnya. Videonya berisi monolog Dennis dan kepribadian-kepribadian Kevin yang lain tentang keseharian mereka. Kebetulan yang dibuka Casey adalah video milik Barry yang menjelaskan akan ketakutannya terhadap sesuatu pada diri Kevin yang lain, yang diduga adalah The Beast.

Di stasiun bawah tanah, Dennis kemudian masuk ke gerbong yang tak berfungsi lagi. Dalam gelapnya gerbong tersebut, tampak siluet Dennis melepas bajunya dan ia mengalami semacam perubahan fisik. Ia bahkan bisa melompat keluar dan berlari kencang meski kakinya telanjang. Dennis berlari menuju ke rumahnya.

Bersamaan dengan itu, Karen baru saja tersadar dan mencoba menuliskan sesuatu di kertas. Namun perhatiannya kemudian teralihkan pada sekelebat bayangan di belakangnya. Karen berupaya melawan tetapi sosok yang berada di belakangnya itu langsung mendekap tubuh Karen kuat-kuat hingga membuat wanita ini sulit bernapas. Ia akhirnya tewas di tangan sosok tersebut.

Setelah menonton video Barry, Casey memutuskan mencari kunci untuk mengeluarkan teman-temannya. Tetapi begitu sampai di ruangan di mana Marcia disekap, ia melihat gadis itu sudah kehilangan nyawanya dan tubuhnya telah bersimbah darah, begitu juga ketika ia menengok ke ruangan Claire, bahkan sosok yang menganiayanya masih ada di tempat itu dan sibuk mencabik-cabik tubuh gadis berambut pirang tersebut.

Beralih ke ruangan lain, Casey menemukan jenazah Karen dan juga catatan yang ditinggalkan wanita ini. Sepucuk kertas itu bertuliskan 'Sebutkan namanya: Kevin Wendell Crumb'. Mencoba mencerna pesan itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang memanjat dinding di belakangnya. Ia tak hanya bertelanjang dada dan kaki, tetapi juga memanjat tanpa alat bantu apapun.

Karena ketakutan, Casey menyebutkan nama lengkap pria itu sebanyak tiga kali. Nampaknya cara itu berhasil, karena pria itu langsung bergegas turun dan masuk ke ruangan di sebelahnya. Begitu keluar, pria itu menutupi tubuhnya dengan selimut dan menanyakan apa yang terjadi. Nampaknya itu adalah Kevin. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia sedang duduk di bis dan masih mengira saat itu adalah tanggal 18 September 2014.

Melihat Casey menggeleng, Kevin langsung tersadar apa yang telah dilakukannya, termasuk membunuh Karen. Ia pun meminta Casey mengambil senapan miliknya dan membunuhnya. Lalu Kevin berubah menjadi Jade dan meminta Casey tidak melakukannya. Ia juga menjelaskan bahwa Dennis, Patricia maupun Hedwig bukanlah representasi mereka.

Barry gantian muncul dan mengatakan ada yang mencuri cahaya (kesadaran) dariku. Kemudian giliran Hedwig dan Patricia yang tetap keukeuh mengatakan bahwa tak akan ada yang mempermainkan mereka lagi. Casey merespons dengan menyebut nama lengkap Kevin terus-menerus sembari mencoba mengambil senapan milik Kevin.

Tapi cara itu nampaknya tidak mempan lagi karena Patricia mengaku telah membuat Kevin terlelap. Begitu Casey bisa melarikan diri, Kevin berubah lagi menjadi The Beast dan mengejarnya. Sesampainya di deretan loker, The Beast keburu menarik kakinya dan sempat merobek baju Casey.

Casey memang sempat lolos dan berteriak minta tolong meski ia tahu tak ada yang bisa mendengarnya. Ia akhirnya menemukan sebuah kurungan besi agar The Beast tak bisa mendekat. Ia mencoba menembakkan senapan Kevin ke tubuh The Beast tetapi pria itu tak bisa dilumpuhkan. Ia bahkan bisa membengkokkan besi yang mengurung Casey.

Di saat-saat menegangkan itu, tiba-tiba saja The Beast terhenti melihat beberapa bekas cakaran di perut Casey. Setelah itu ia pergi meninggalkan Casey begitu saja. Gadis ini hanya duduk tertegun, dan ia kemudian ditemukan seorang pria tua yang terkejut melihat keberadaan gadis itu. Ia pun membawa Casey keluar dan melaporkan apa yang dialami si gadis kepada salah seorang rekannya. Yang tak kalah mengejutkan adalah tempat di mana Casey dan kedua temannya disekap tak lain adalah sebuah kebun binatang, dan mereka disekap di bawah tanah.

Casey akhirnya mendapatkan penanganan medis dan Dennis menjadi buronan polisi. Nampaknya teori yang pernah dikemukakan Karen tentang kemampuan pasien DID untuk mengubah fisik mereka hanya dengan pikiran benar-benar terbukti pada diri Dennis. Sayang ia tak pernah bisa melihatnya langsung.

Split: Tragedi yang Melibatkan Pria dengan Beragam KepribadianFoto: YouTube

Dikutip dari Web MD, DID dianggap sebagai gangguan psikis yang rumit dan disebabkan oleh banyak faktor, termasuk trauma yang sangat buruk di masa kecil (biasanya dalam bentuk kekerasan fisik, mental maupun seksual yang bertubi-tubi dan ekstrem). Kemudian gangguan ini menjadi semacam coping mechanism bagi si pasien, dengan menganggap dirinya bisa melepaskan diri dari situasi yang membuatnya trauma lalu membuat identitas baru.

Hanya saja tidak seperti Karen, lebih banyak pakar yang masih meragukan keberadaan kondisi ini. Kebanyakan dari mereka lebih percaya jika ini adalah bentuk lanjutan dari masalah psikis lain atau cara seseorang menanggapi suatu masalah dalam hidupnya.

Karakteristik utama dari pasien DID adalah hadirnya dua kepribadian atau lebih pada diri seseorang, dan masing-masing dari mereka merasa berkuasa terhadap raga si pasien. Dalam film diperlihatkan bahwa kepribadian-kepribadian Kevin seolah-olah berebut cahaya (kesadaran) untuk bisa mewakili pria itu.

Namun pasien DID biasanya tidak bisa mengingat informasi penting tentang dirinya seperti nama asli, entah sengaja melupakannya atau memang terkubur di antara tumpukan memori dari tiap kepribadian yang dimilikinya. Di akhir film sempat diperlihatkan salah satu kepribadian Kevin yang bernama Patricia mengaku sengaja membuat Kevin 'terlelap' selama bertahun-tahun hingga pria itu tak sadar sama sekali akan apa yang dilakukannya selama ini.

Yang pasti, tiap identitas mempunyai usia, jenis kelamin dan rasnya masing-masing, bahkan hingga ke gerak-gerik dan cara bicara yang sama sekali berbeda antara satu sama lain. Terjadinya peralihan dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain juga tidak menentu, bisa dalam hitungan detik, menit hingga berhari-hari.

Bersamaan dengan itu, pasien DID juga mengalami masalah psikis lain, di antaranya:
- depresi
- mood yang berubah-ubah
- kecenderungan untuk melakukan tindak bunuh diri
- gangguan tidur (bisa insomnia, mimpi buruk atau sleep walking)
- fobia, serangan panik atau gangguan kecemasan
- penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang
- mengalami halusinasi atau seperti mendengar suara-suara
- gangguan makan

Sejauh ini statistik menunjukkan bahwa jumlah pasien DID hanya berkisar 1 persen dari populasi atau kurang, namun bisa jadi ini karena banyak di antaranya yang tidak terdiagnosis.

Pengobatan untuk DID sendiri tidak ada. Rata-rata pasien hanya menjalani terapi dengan psikiater, bahkan mungkin untuk seumur hidupnya, agar bisa hidup normal. Namun itu pun jika pasien mau berkomitmen untuk melakukannya.

(lll/vit)

Berita Terkait