"Untuk mengukur tensi biar hasilnya akurat nggak ada baiknya pagi, siang, sore, atau malam gitu ya. Tapi memang sebaiknya harus istirahat dulu 15 menit kalau sebelumnya kita habis melakukan aktivitas berat," kata dr Prasna Pramita SpPD dari RS Mayapada Lebak Bulus.
"Tapi kalau mau bisa dilakukan pengukuran tekanan darah di pagi hari, setelah bangun tidur, siang, sore pulang kerja tunggu 15-30 menit dulu, sama sebelum tidur," tambah dr Mita, begitu ia akrab disapa dalam Live Chat 'Kenali dan Waspadai Hipertensi' yang digelar detikHealth dan detikForum bekerjasama dengan Mayapada Healthcare Group di kantor detikcom, Jl Warung Jati Barat Raya, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Awas Keliru, Anemia dan Darah Rendah Serupa Tapi Tak Sama Lho
Hal ini, kata dr Mita, bisa terjadi ketika melakukan aktivitas yang cukup berat, stres bisa dialami seseorang. Saat itu, denyut nadi saja meningkat, terlebih lagi tekanan darah. Untuk mereka yang tidak memiliki hipertensi, bisa mengukur tekanan darah setidaknya sebulan sekali. Sementara, pasien hipertensi dianjurkan mengukur tekanan darah rutin 2-3 kali seminggu.
Lantas, bagaimana cara mengukur tekanan darah yang tepat? dr Mita mengatakan mengukur tekanan darah bisa dilakukan sembari berbaring atau duduk. Jika duduk, maka letakkan tangan di meja yang tingginya sejajar dada. Kemudian, pakaikan manset tensimeter dua jari di atas siku dengan posisi kabel tensimeter di bagian depan.
"Pakai mansetnya yang penting pas, nggak kedodoran, nggak terlalu ketat. Terus kita nggak boleh bersuara selama diukur tensinya. Kalau mau tiduran, boleh juga. Posisi tangannya juga lurus diletakkan di kasur," kata dr Mita.
Untuk mengukur tekanan darah, bisa dilakukan di tangan kiri dan kanan. Hanya saja, tekanan darah di tangan kanan dan kiri hasilnya bisa berbeda. Namun, dianggap normal jika bedanya 10-20 mmHg. Jika sampai berbeda 50 mmHg, dikatakan dr Prasna itu berbahaya. Perbedaan tekanan darah 10-20 mmHg ini juga bisa terjadi ketika tekanan darah diukur dengan tensimeter digital dan air raksa.
"Memang yang lebih akurat yang air raksa. Tapi, dengan catatan telinga kita benar ya. Kadang ada yang pendengarannya kurang, bisa ngaco juga hasilnya. Kalau di rumah pakai digital, it's okay. Asal dikalibrasi setahun sekali, sama baterainya pakai yang bagus," kata dr Mita.
Baca juga: Mengapa Tekanan Darah Bisa Berubah-ubah?
(rdn/vit)











































