Demikian disampaikan oleh nutrisionis dari Lagizi, Jansen Ongko, MSc, RD dalam bukunya yang berjudul 'Fit Teen's Diary'. Menurut Jansen, ketagihan makanan bisa terjadi akibat adanya mekanisme tertentu di otak.
"Mekanisme ini berperan dalam memberikan rasa nyaman. Cita rasa tertentu mampu menghasilkan efek nyaman yang mirip kinerja hormon alami dan otak tidak mampu membedakan sumber pemicunya," tulis Jansen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika terlalu sering terpapar dengan cita rasa dari makanan tersebut, maka otomatis akan memengaruhi respons otak. Otak akan 'memintanya' kembali sehingga bisa menimbulkan efek ketagihan.
Selain karena hal tersebut, ketagihan makanan juga bisa dipicu beberapa faktor lain seperti kelebihan berat badan dan stres. Kelebihan berat badan bisa menyebabkan ketagihan makanan karena terjadi kerusakan pada hormon leptin, yang berfungsi membantu menurunkan nafsu makan. Jika terjadi gangguan pada hormon tersebut, maka otak tidak bisa merespons kerja hormon dan Anda akan terus-menerus merasa lapar.
"Penyebab lainnya yakni stres. Bisa berupa tekanan di sekolah, beban kerja atau masalah lainnya. Orang biasanya akan beralih pada junk food saat stres karena bisa memberikan rasa nyaman secara instan. Sayangnya rasa nyaman dari junk food ini tidak bertahan lama, sehingga Anda justru akan sulit berhenti makan," imbuh Jansen.
Tak melulu masalah kenaikan berat badan, ketagihan makan juga bisa memicu datangnya hal negatif lain. Jansen menuturkan di antaranya yakni Anda kurang bisa menikmati rasa dari makanan dan rentan terkena penyakit berbahaya seperti diabetes.
Baca juga: 6 Tips Ubah Perabotan dan Dekor Rumah untuk Turunkan Berat Badan (ajg/up)











































