Harapan Dokter Daerah Perbatasan di Hari Kebangkitan Nasional

Harapan Dokter Daerah Perbatasan di Hari Kebangkitan Nasional

Suherni Sulaeman - detikHealth
Sabtu, 20 Mei 2017 12:36 WIB
Harapan Dokter Daerah Perbatasan di Hari Kebangkitan Nasional
drg Dewi Natalia Manto (Foto: Suherni/detikHealth)
Jakarta - Mengabdi di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan tentu tidak mudah. Ada banyak tantangan yang mesti ditaklukkan. Ini harapan dokter daerah perbatasan di Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada hari ini, Sabtu, 20 Mei.

Adalah drg Dewi Natalia Manto, salah satu dokter yang bertugas di daerah perbatasan. Belum setahun memang drg Dewi bertugas di puskesmas yang berada di Desa Silawan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Namun sudah cukup banyak hal yang drg Dewi rasakan.

"Pada hari kebangkitan nasional ini saya berharap agar semangat pelayanan tenaga kesehatan, khususnya di puskesmas semakin meningkat, karena tantangan puskesmas semakin berat sebagai ujung tombak pelaksana program kemenkes dalam mewujudkan keluarga sehat," harap drg Dewi saat berbincang dengan detikHealth.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, puskesmas tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kesehatan di dalam gedung, melainkan juga keluar gedung dengan pendekatan keluarga dalam upaya menyelesaikan permasalahan kesehatan di wilayah kerjanya. Hal ini tidak mudah, lantaran ada hal-hal yang bisa menjadi batu sandungan.

Baca juga: 'Keasyikan' Mengabdi, dr Agus Tak Pulang-pulang dari Maluku

Puskesmas SilawanPuskesmas Silawan Foto: istimewa/drg Dewi Natalia
Misalnya saja harga barang kebutuhan sehari-hari, misalnya, bahan makanan mentah yang masih mahal. Sering kali warga tidak bisa membeli sedikit, padahal anggota keluarganya hanya sedikit. Misalnya warga jika ingin makan ayam maka harus membeli seekor ayam, tidak bisa hanya satu kilogram saja.

"Harga bumbu sudah terpatok serba lima ribu. Kalau mau masak dengan bumbu banyak itemnya misal: bawang merah lima ribu, bawang putih lima ribu, serai lima ribu, cabai lima ribu, kunyit lima ribu, jeruk nipis lima ribu. Untuk harga bumbu sudah 30 ribu sendiri," tutur drg Dewi.

"Jadi orang sini cenderung masak dengan bumbu minimal, penyedap maksimal," imbuhnya.

Untuk menyiasati mahalnya harga bahan pangan namun masyarakat tetap mendapat makanan bergizi seimbang, maka masyarakat diajak rajin menanam sayur dan bumbu di pekarangannya. Selain itu juga diajak menanam ubi dan jagung untuk menggantikan beras. Anjuran memelihara ayam juga disampaikan. Tampaknya mudah, tapi realitanya tak semudah rencananya.

"Menggerakkan masyarakat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan," lanjut drg Dewi.

"Saya juga berharap adanya perhatian lebih terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan daerah yang bertugas perbatasan," harap drg Dewi.

Menurut dia, gaji dokter di daerah perbatasan jauh di bawah dokter-dokter gigi di perkotaan. Padahal tantangan lebih banyak dan biaya hidup juga lebih tinggi. Meski berharap ada perhatian soal kesejahteraan, drg Dewi tidak menuntut banyak. Karena baginya mengabdi di daerah kecil adalah panggilan jiwa. Selalu ada konsekuensi di setiap langkah dan perjuangan.

"Kalau saya mah disyukuri saja," imbuh perempuan asal Ambarawa, Jawa Tengah, ini.

Baca juga: Cerita Dokter Muda Hadapi Kematian Pertama Pasiennya (vit/mrs)

Berita Terkait