Sabtu, 20 Mei 2017 16:36 WIB

Cerita dr Vidyapati, Pionir Lasik Mata di Indonesia

Firdaus Anwar - detikHealth
r Vidyapati Mangunkusumo, SpM(K), pelopor LASIK di Indonesia (Foto: Firdaus Anwar) r Vidyapati Mangunkusumo, SpM(K), pelopor LASIK di Indonesia (Foto: Firdaus Anwar)
Jakarta - Prosedur bedah lasik menggunakan laser untuk memperbaiki penglihatan seseorang. Saat ini sudah banyak tempat yang bisa menawarkan lasik tapi tahukah Anda siapa yang pertama kali mempopulerkannya di Indonesia?

Adalah dr Vidyapati Mangunkusumo, SpM(K), dari Jakarta Eye Center (JEC) selaku salah satu spesialis mata yang mengenalkan lasik di Indonesia. Sebetulnya ia dan timnya terkenal tidak hanya untuk lasik saja tetapi juga prosedur bedah refraktif lain terutama untuk penanganan katarak.

dr Vidya bercerita ketika pertama kali mengenalkan prosedur lasik tersebut pada tahun 1997 ia menghadapi pandangan skeptis. Ada pandangan bahwa lasik prosedur tak aman dengan efektivitas yang juga dipertanyakan.

"Kita itu kan mengutik-utik mata yang sebenarnya normal. Tanpa operasi dia juga masih bisa lihat cuma kan karena enggak mau pakai kacamata saja," ungkap dr Vidya ketika ditemui pada acara peluncuran buku biografinya 'Mata, Cinta dan Terang Semesta' di JEC Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (20/5/2017).

Baca juga: Hal-hal Seputar Prosedur Lasik yang Penting untuk Diketahui

"Memang ada penolakan. Dibilang tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan hasilnya. Jadi minus tiga dibilang nanti kalau sudah selesai prosedur akan jadi 0 ternyata enggak jadi 0 masih ada sisa. Hal-hal demikian lah," lanjut dr Vidya.

Saat itu dr Vidya bersama tim tak gentar berusaha untuk tetap melakukan sosialisasi dengan menghadiri seminar dan workshop di berbagai lembaga pendidikan. Ia membagikan ilmunya tentang bagaimana melaksanakan lasik kepada dokter-dokter mata di masa depan kelak.

Akhirnya setelah beberapa tahun berlalu mulailah lasik diterima sebagai prosedur bedah mata umum. Banyak rumah sakit bisa menjalankan prosedurnya dengan hasil memuaskan dan efek samping minim.

Hingga kini dr Vidya pun masih mempelajari teknik-teknik bedah refraktif mutakhir dan menyebarkannya bersama tim. Dari situ juga timbul kepercayaan dari produsen alat medis di luar negeri untuk menitipkan alatnya diuji di Indonesia.

"Saya belajar terus bisa sampai jam tiga pagi. Indonesia kini (teknologinya -red) cukup up to date apalagi sejak ada gedung ini mengundang para produsen menitipkan mesinnya. Kadang mesin itu belum dilaunching sudah ditaruh di sini duluan. Karena mereka percaya mesinnya tidak akan rusak dan sebagainya," pungkas dr Vidya.

Baca juga: Orang Berkacamata Sering Dikira Lebih Pintar, Ini Sebabnya (fds/mrs)