Serba-serbi Kanker Nasofaring yang Menyerang Aktor Kim Woo Bin

Serba-serbi Kanker Nasofaring yang Menyerang Aktor Kim Woo Bin

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 24 Mei 2017 16:34 WIB
Serba-serbi Kanker Nasofaring yang Menyerang Aktor Kim Woo Bin
Foto: Kim Woo Bin di Event Merrel Korea.
Jakarta - Dalam pernyataan yang dikeluarkan agensinya, Sidus HQ, Woo Bin awalnya dikabarkan merasa tidak enak badan di tengah menjalani jadwalnya yang padat.

Tak disangka, hasil pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan gejala tersebut menunjukkan bahwa pria ini terserang kanker nasofaring, kanker yang mengenai organ yang terletak di belakang rongga hidung dan di atas rongga mulut.

Untungnya kanker yang ditemukan dalam tubuh Woo Bin masih berada pada stadium awal, sehingga proses pengobatan belum terlambat untuk dilakukan. Demikian seperti dilaporkan dari Koreaboo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk saat ini, Woo Bin dikabarkan mengambil cuti dari penggarapan film terbarunya demi menjalani pengobatan, di antaranya radioterapi.

Lantas seperti apa kanker nasofaring itu? Berikut fakta-fakta tentang penyakit ini, seperti halnya dirangkum detikHealth, Rabu (24/5/2017).

Baca juga: 6 Langkah Pencegahan Kanker Nasofaring: Air Putih Hingga Brokoli

1. Kebanyakan Terjadi di Asia

Foto: (visitkorea/Youtube)
Prof Dr Santoso Cornain, D.Sc., dari Stem Cell and Cancer Institute Jakarta pernah mengutarakan bahwa kanker nasofaring kebanyakan hanya ada di Asia. "Di Barat jarang orang yang terkena kanker ini," tegasnya.

Ditambahkan Dr dr Cita Herawati, SpTHT-KL dari RS Kanker Dharmais, ras Mongoloid adalah yang paling rentan terkena penyakit ini. Sebab salah satu pemicunya, yaitu infeksi virus Epstein-Barr (EBV) dapat memicu mutasi sel tubuh menjadi sel kanker, yaitu sebesar 5-15 persen hanya pada ras ini.

Bahkan kanker ini punya alias, yaitu kanker guangdong karena saking banyaknya penduduk Guangdong, China yang mengidap penyakit ini. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa kanker nasofaring juga tercatat sebagai penyebab kematian akibat kanker nomor 4 di Indonesia.

2. Pemicunya Beragam

Foto: REUTERS
Prof Dr dr R Susworo, SpRad(K)Onk.Rad, dari Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, secara garis besar, kanker nasofaring bersifat multifaktoral, artinya dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan makanan yang dikonsumsi atau kombinasi ketiganya.

Infeksi virus bernama Epstein-Barr (EBV) tergolong ke dalam faktor lingkungan. Virus ini sebenarnya dimiliki lebih dari 95 persen penduduk dunia, tetapi hanya akan 'diam' di dalam tubuh jika tidak ada pemicunya.

Salah satu pemicu yang paling sering diperdebatkan adalah polusi asap, sebab EBV baru menjadi aktif ketika terpapar asap secara berlebihan.

"Kalau ada asap terhirup yang menyaring adalah pertama hidung dan kedua nasofaring, untuk memastikan udara yang masuk ke paru-paru bersih. Jika paparan asap tinggi maka kerja nasofaring akan lebih berat. EBV-nya sudah hilang, datang lagi, hilang datang lagi, lama-lama menetap dan akhirnya menyebabkan mutasi sel dan berkembang jadi kanker nasofaring," jelas dr Cita.

3. Pria Paling Berisiko

Foto: Getty Images
Sejumlah penelitian menyebut pria lebih berisiko terserang kanker nasofaring karena dua hal: sering beraktivitas di luar rumah dan prevalensi merokoknya yang lebih tinggi.

Ahli onkologi kepala dan leher Profesor Zhang Feng dari Modern Cancer Hospital Guangzhou menuturkan dibanding wanita, penderita kanker nasofaring lebih banyak laki-laki dengan perbandingan 2,63:1.

4. Tidak Ada Gejala Khas

Foto: Thinkstock
"Umumnya tidak ada gejala yang khas dari kanker nasofaring. Kalau pilek-pilek atau berdarah itu dianggap seperti hal yang biasa oleh masyarakat," ujar Prof Susworo.

Secara umum, gejala dini dari kanker ini di antaranya mimisan ringan sampai berat, hidung tersumbat, telinga berdenging sebelah, kadang disertai gangguan pendengaran, diplopi (penglihatan ganda atau dua bayangan), lidah tidak peka, kulit wajah terasa seperti mati rasa bila disentuh, kadang disertai sakit kepala, dan munculnya benjolan di leher tetapi tidak terasa sakit.

dr Cita menambahkan, pada beberapa kasus gejala awalnya berupa flu atau sinusitis yang tidak sembuh-sembuh, bahkan berlangsung selama bertahun-tahun. Bila diobati, keluhan pilek dan keluhan di telinga akibat kanker nasofaring juga takkan hilang begitu saja.

Ironisnya, sebagian besar masyarakat baru memeriksakan dirinya bila kondisinya sudah parah seperti mata juling atau terjadi pembengkakan di leher, yang menandakan kankernya sudah masuk ke stadium lanjut.

Baca juga: Kenali, 7 Gejala Kanker Nasofaring

5. Mudah Menyebar

Foto: thinkstock
Dalam rubrik konsultasi di detikHealth, Prof Dr Li Yuan Zhong dari RS Modern Hospital Cancer, Guangzhou pernah mengutarakan bahwa kanker nasofaring mudah sekali bermetastasis atau menyebar ke bagian tubuh lain.

Penyebaran yang paling sering ditemui adalah di sekitar area leher, kepala, tulang, paru-paru, hati, dan organ lunak lainnya, dengan tingkat persebaran mencapai 4,8 - 27 persen.

"Umumnya, penyebaran ini adalah alasan utama dari gagalnya pengobatan kanker nasofaring, sehingga pengecekan kesehatan dini dan secara teratur adalah cara yang paling baik untuk mengatasinya," tuturnya.

6. Deteksi Dini

Foto: Thinkstock
Deteksi dini kanker nasofaring dapat dilakukan di dokter spesialis THT, dan kemudian dilakukan biopsi bila ditemukan benjolan di sekitar tenggorokan.

"Jika kanker ditemukan dalam stadium dini maka bisa disembuhkan dan untuk tingkat kekambuhannya sekitar 15 persen jika saat ditemukan pada stadium 1 atau 2," ungkapnya.

Ditambahkan dr Budianto Komati, SpTHT dari RS Kanker Dharmais, kanker nasofaring tergolong mudah diobati sebab sensitif terhadap radioterapi dan kemoterapi, sehingga kemungkinan untuk sembuh juga sangat besar bila terdiagnosis sejak awal

"Orang harus curiga bila menderita gejala-gejala yang mirip flu biasa ini, apalagi kalau orang tersebut memiliki keturunan yang menderita kanker atau sering menjalani gaya hidup tak sehat," tambahnya.
Halaman 2 dari 7
Prof Dr Santoso Cornain, D.Sc., dari Stem Cell and Cancer Institute Jakarta pernah mengutarakan bahwa kanker nasofaring kebanyakan hanya ada di Asia. "Di Barat jarang orang yang terkena kanker ini," tegasnya.

Ditambahkan Dr dr Cita Herawati, SpTHT-KL dari RS Kanker Dharmais, ras Mongoloid adalah yang paling rentan terkena penyakit ini. Sebab salah satu pemicunya, yaitu infeksi virus Epstein-Barr (EBV) dapat memicu mutasi sel tubuh menjadi sel kanker, yaitu sebesar 5-15 persen hanya pada ras ini.

Bahkan kanker ini punya alias, yaitu kanker guangdong karena saking banyaknya penduduk Guangdong, China yang mengidap penyakit ini. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa kanker nasofaring juga tercatat sebagai penyebab kematian akibat kanker nomor 4 di Indonesia.

Prof Dr dr R Susworo, SpRad(K)Onk.Rad, dari Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, secara garis besar, kanker nasofaring bersifat multifaktoral, artinya dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan makanan yang dikonsumsi atau kombinasi ketiganya.

Infeksi virus bernama Epstein-Barr (EBV) tergolong ke dalam faktor lingkungan. Virus ini sebenarnya dimiliki lebih dari 95 persen penduduk dunia, tetapi hanya akan 'diam' di dalam tubuh jika tidak ada pemicunya.

Salah satu pemicu yang paling sering diperdebatkan adalah polusi asap, sebab EBV baru menjadi aktif ketika terpapar asap secara berlebihan.

"Kalau ada asap terhirup yang menyaring adalah pertama hidung dan kedua nasofaring, untuk memastikan udara yang masuk ke paru-paru bersih. Jika paparan asap tinggi maka kerja nasofaring akan lebih berat. EBV-nya sudah hilang, datang lagi, hilang datang lagi, lama-lama menetap dan akhirnya menyebabkan mutasi sel dan berkembang jadi kanker nasofaring," jelas dr Cita.

Sejumlah penelitian menyebut pria lebih berisiko terserang kanker nasofaring karena dua hal: sering beraktivitas di luar rumah dan prevalensi merokoknya yang lebih tinggi.

Ahli onkologi kepala dan leher Profesor Zhang Feng dari Modern Cancer Hospital Guangzhou menuturkan dibanding wanita, penderita kanker nasofaring lebih banyak laki-laki dengan perbandingan 2,63:1.

"Umumnya tidak ada gejala yang khas dari kanker nasofaring. Kalau pilek-pilek atau berdarah itu dianggap seperti hal yang biasa oleh masyarakat," ujar Prof Susworo.

Secara umum, gejala dini dari kanker ini di antaranya mimisan ringan sampai berat, hidung tersumbat, telinga berdenging sebelah, kadang disertai gangguan pendengaran, diplopi (penglihatan ganda atau dua bayangan), lidah tidak peka, kulit wajah terasa seperti mati rasa bila disentuh, kadang disertai sakit kepala, dan munculnya benjolan di leher tetapi tidak terasa sakit.

dr Cita menambahkan, pada beberapa kasus gejala awalnya berupa flu atau sinusitis yang tidak sembuh-sembuh, bahkan berlangsung selama bertahun-tahun. Bila diobati, keluhan pilek dan keluhan di telinga akibat kanker nasofaring juga takkan hilang begitu saja.

Ironisnya, sebagian besar masyarakat baru memeriksakan dirinya bila kondisinya sudah parah seperti mata juling atau terjadi pembengkakan di leher, yang menandakan kankernya sudah masuk ke stadium lanjut.

Baca juga: Kenali, 7 Gejala Kanker Nasofaring

Dalam rubrik konsultasi di detikHealth, Prof Dr Li Yuan Zhong dari RS Modern Hospital Cancer, Guangzhou pernah mengutarakan bahwa kanker nasofaring mudah sekali bermetastasis atau menyebar ke bagian tubuh lain.

Penyebaran yang paling sering ditemui adalah di sekitar area leher, kepala, tulang, paru-paru, hati, dan organ lunak lainnya, dengan tingkat persebaran mencapai 4,8 - 27 persen.

"Umumnya, penyebaran ini adalah alasan utama dari gagalnya pengobatan kanker nasofaring, sehingga pengecekan kesehatan dini dan secara teratur adalah cara yang paling baik untuk mengatasinya," tuturnya.

Deteksi dini kanker nasofaring dapat dilakukan di dokter spesialis THT, dan kemudian dilakukan biopsi bila ditemukan benjolan di sekitar tenggorokan.

"Jika kanker ditemukan dalam stadium dini maka bisa disembuhkan dan untuk tingkat kekambuhannya sekitar 15 persen jika saat ditemukan pada stadium 1 atau 2," ungkapnya.

Ditambahkan dr Budianto Komati, SpTHT dari RS Kanker Dharmais, kanker nasofaring tergolong mudah diobati sebab sensitif terhadap radioterapi dan kemoterapi, sehingga kemungkinan untuk sembuh juga sangat besar bila terdiagnosis sejak awal

"Orang harus curiga bila menderita gejala-gejala yang mirip flu biasa ini, apalagi kalau orang tersebut memiliki keturunan yang menderita kanker atau sering menjalani gaya hidup tak sehat," tambahnya.

(lll/vit)

Berita Terkait