Rahasia Suku Sherpa Bisa Hidup di Ketinggian Ekstrem

Rahasia Suku Sherpa Bisa Hidup di Ketinggian Ekstrem

Firdaus Anwar - detikHealth
Senin, 29 Mei 2017 17:07 WIB
Rahasia Suku Sherpa Bisa Hidup di Ketinggian Ekstrem
Ilustrasi Everest (Foto: GettyImages/Notey)
Jakarta - Di ketinggian ekstrem banyak tantangan yang bisa dihadapi oleh seseorang mulai dari tipisnya jumlah oksigen di udara hingga dinginnya suhu. Oleh karena itu mereka yang memang senang mendaki gunung diwajibkan untuk menjaga kondisi fisik tetap optimal dan bila perlu membawa peralatan pendukung.

Namun di dunia ini ada satu suku yang terkenal karena kemampuannya untuk menghadapi apa yang kebanyakan orang tak bisa lakukan. Disebut suku Sherpa, tubuh mereka telah beradaptasi hingga mampu hidup di ketinggian ekstrem dengan oksigen yang tipis secara normal.

Baca juga: Olahraga untuk Persiapan Naik Gunung

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berkat kemampuan tersebut banyak orang dari suku Sherpa bekerja sebagai pemandu gunung tertinggi di dunia, Everest.

Profesor Andrew Murray dari Cambridge University dalam studi terbarunya mengatakan rahasia kekuatan suku Sherpa ada pada genetik. Ada mutasi yang membuat tubuh orang-orang Sherpa memiliki metabolisme yang lebih efesien dalam mengelola oksigen.

Bukti sampel otot menunjukkan bahwa tubuh orang-orang Sherpa punya kecenderungan untuk mendapatkan energi lebih banyak dari gula darah (glukosa) bukan lemak.

"Lemak adalah bahan bakar yang bagus, tapi masalahnya ia membutuhkan lebih banyak oksigen untuk dimetabolisme daripada glukosa," kata Prof Murray seperti dikutip dari BBC, Senin (29/5/2017).

Artinya dengan lebih cenderung membakar glukosa para Sherpa dapat memiliki lebih banyak kalori per unit oksigen yang dihirup. Hal ini sejalan dengan studi sebelumnya yang melihat bahwa Sherpa bisa menghasilkan energi 30 persen lebih banyak dari orang yang hidup di dataran rendah.

"Studi ini memberikan bukti mekanisme seluler dari apa yang telah kita temukan pada tingkat tubuh secara keseluruhan; suku Sherpa membutuhkan lebih sedikit oksigen untuk melakukan pekerjaan yang sama," pungkas peneliti lainnya, Federico Formenti dari King's College London.

Baca juga: Orang dengan Penyakit Ini Tak Boleh Naik Gunung

(fds/up)

Berita Terkait