Seperti terjadi pada dua orang bayi di Arizona, yang dikabarkan didiagnosis Legionnaires' disease, sejenis infeksi bakteri di paru-paru. Ilmuwan mengaitkannya dengan teknik water birth yang dipakai dalam persalinan kedua bayi tersebut.
Diduga kuat tidak terjaminnya kebersihan air yang digunakan merupakan salah satu penyebab infeksi pada teknik persalinan water birth. Bakteri Legionella bisa hidup di air dan memicu infeksi pernapasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Hariyasa juga menjelaskan bahwa pada dasarnya pada water birth air tidak harus steril. Yang penting suhunya cukup hangat (35-37 derajat Celcius), tidak berwarna, tidak berbau dan jernih.
"Kalau ada yang bilang airnya harus steril ya keliru, jalan lahir saja tidak steril dan banyak flora normalnya. Bayi tidak akan infeksi selama ia tidak menghirup air. Kuncinya adalah dengan memerhatikan denyut jantung bayi yang dijelaskan sebelumnya," imbuh dr Hariyasa.
Meski tak harus steril, kebersihan air yang digunakan untuk ibu berendam tetap perlu diperhatikan. Pantau suhu dan ganti air secara berkala agar tetap hangat. "Air itu justru sifatnya juga bisa 'membilas' bayi yang terpapar bakteri dari vagina," tuturnya.
Baca juga: Water Birth Disebut Upaya Tingkatkan Keberhasilan Persalinan Normal
Water birth sempat populer di Indonesia setelah penyanyi Andien menerapkan teknik ini saat melahirkan anak pertamanya, Anaku Askara Biru, beberapa waktu lalu. Teknik ini diklaim bisa memberikan efek rileks bagi ibu selama proses persalinan.
Namun demikian, American College of Obstetricians dan Gynecologists (ACOG) menyebutkan tetap ada berbagai risiko yang bisa terjadi. Jika dilakukan tanpa persiapan matang dan bukan oleh orang yang berpengalaman, teknik water birth diyakini justru bisa mendatangkan berbagai risiko, salah satunya infeksi pada ibu maupun bayi yang baru dilahirkan.
Baca juga: Melahirkan dengan Waterbirth, Terdengar Mutakhir Tapi Jangan Asal Dijalani
(ajg/up)











































