Dikutip dari Seeker, Selasa (13/6/2017), ahli memperingatkan prosedur tersebut belum melalui uji dan bisa memberikan harapan palsu bagi orang-orang yang mempercayai produk 'darah muda'.
Perusahaan tersebut, Ambrosia LLC, telah menyediakan plasma muda untuk hampir 80 pelanggan yang membayar produk tersebut sejak Agustus 2016 dengan biaya $8.000 atau setara dengan Rp 106 juta per transfusi, demikian disampaikan pendiri Ambrosia, Jesse Karmazin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang dilakukan oleh Ambrosia sebenarnya mengikuti hasil sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa suntikan plasma darah tikus muda memiliki efek peremajaan pada tikus yang lebih tua, termasuk perbaikan ingatan, pembelajaran, dan perkembangan sel otak.
Menurut Ambrosia, efek ini juga terjadi kepada manusia. Dari penelitiannya, mereka yang mendapat perawatan dengan plasma muda menunjukkan tingkat antigen karsinoembrikan, atau CEA, turun rata-rata 21 persen, kata Karmazin. CEA adalah sejenis protein yang ditemukan pada tingkat yang tinggi di antara beberapa orang dengan jenis kanker tertentu.
Baca Juga: Donor Darah Gratis Tapi Harus Bayar untuk Dapatkan Darah, Ini Penjelasannya
Dari data tersebut juga ditunjukan adanya penurunan tingkat amyloid, protein yang membentuk plak otak yang terkait dengan penyakit Alzheimer, dengan rata-rata 20 persen. Kadar kolesterol darah juga turun rata-rata 10 persen di antara pasien berusia 35 tahun atau lebih yang diberikan dua liter plasma darah selama empat jam. Plasma ini disediakan dari orang-orang berusia antara 16-25 tahun.
Meskipun sudah menyodorkan bukti, bagaimanapun, para ahli tetap mengatakan bahwa data Ambrosia harus ditangani dengan skeptis sampai penelitian yang lebih ketat dilakukan. "Kita membutuhkan studi yang terkontrol melalui sumber terpercaya agar membentuk kredibilitas temuan tersebut," tulis Wyss-Coray, profesor neurologi dari Stanford University. (Aisyah Kamalia/ajg)











































