Waduh, Risiko Akibat Obesitas Bisa Dialami Mereka yang Tak Gemuk

Waduh, Risiko Akibat Obesitas Bisa Dialami Mereka yang Tak Gemuk

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 16 Jun 2017 17:10 WIB
Waduh, Risiko Akibat Obesitas Bisa Dialami Mereka yang Tak Gemuk
Risiko kematian akibat obesitas juga banyak dialami mereka yang tidak tergolong obesitas. (Foto: thinkstock)
Jakarta - Obesitas atau kegemukan memang dikenal luas dapat memicu berbagai penyakit, seperti penyakit jantung maupun stroke. Namun sebuah riset mengatakan Anda tak perlu mengalami kegemukan untuk merasakan dampaknya.

Christopher Murray, peneliti dan juga direktur Institute of Health Metrics and Evaluation, University of Washington melakukan pengamatan terhadap kondisi masyarakat di 195 negara dalam kurun 35 tahun (1980-2015) untuk melihat tren kenaikan berat badannya.

Faktanya, 30 persen populasi dunia dilaporkan mengalami kelebihan berat badan. Pemegang rekor ada pada AS, yaitu 13 persen, baik untuk kelebihan berat badan pada anak-anak maupun orang dewasa. Sedangkan rekor untuk kegemukan dewasa disabet Mesir yang mencapai 35 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Persoalannya kemudian, dari empat juta kasus kematian yang berkaitan dengan kelebihan berat badan di tahun 2015, hampir 40 persen di antaranya dialami mereka yang belum dapat digolongkan sebagai penyandang obesitas.

Rata-rata dari mereka masih memiliki BMI atau indeks massa tubuh di bawah 30, atau ambang batas BMI antara obesitas dan kelebihan berat badan.

Baca juga: Meski Rajin Olahraga, Kebanyakan Duduk Tetap Bikin Pria Kegemukan

Di sisi lain, 70 persen kematian yang berkaitan dengan kenaikan BMI disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, disusul dengan diabetes.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, meski jumlah kasus penyakit kardiovaskularnya meningkat, jumlah kematiannya perlahan menurun.

Peneliti meyakini ini karena intervensi medis yang lebih baik di mana pasien mendapatkan monitoring penuh seperti pemeriksaan tekanan darah tinggi, kolesterol dan kadar gula darah sehingga tak sampai terserang risiko penyakit kardiovaskular.

Bagaimana ini bisa terjadi? Dari pengamatan peneliti, gemuk tak lagi bisa identik dengan tingginya pendapatan.

"Perubahan pada sistem makanan bisa jadi pendorong utama, jadi ketersediaan, kemudahan akses dan harga makanan cepat saji yang terjangkau, ditambah lagi strategi pemasaran yang intens membuat makanan ini menjadi lebih populer di tengah masyarakat," tulis peneliti, seperti dilaporkan CNN.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran untuk melakukan aktivitas fisik.

Baca juga: Begini Efek yang Dirasakan Tubuh Jika Malas Olahraga (lll/ajg)

Berita Terkait